
Andre melajukan mobilnya di tengah keramaian kota, setelah sekian banyak drama akhirnya Ia gagal menikah. Ada rasa bahagia tersendiri untuknya, namun tiba tiba ingatannya tertuju pada sesuatu hal.
" Aku datang kemari untuk membantumu, apa Mas akan bertanggung jawab pada kesalahan yang bahkan Mas tidak lakukan "
Ucapan Alya terus terngiang di benaknya
" Apa Alya benar benar mencintaiku sampai dia rela mempermalukan dirinya sendiri " Gumam Andre dari sudut bibirnya terbit sebuah senyuman.
Namun sayang, senyum itu tidak berlangsung lama setelah kejadian beberapa bulan lalu melintas di pikirannya.
" Untuk apa aku mengingat wanita sepertinya, dia sama saja dengan wanita yang lain. Rela menggadaikan kesuciannya demi uang, tidak bisa menahan cobaan apalagi hidup menderita " Gumamnya kemudian.
Rasa bahagia kembali berganti dengan rasa kecewa ketika Ia mengingat pernah melihat wanita yang di cintainya berada di tempat orang orang kesepian.
" Wanita murahan, kau sama saja dengan mereka, pergi dari pikiranku. Aku tidak sudi, dan kamu tidak pantas mendapatkan cintaku "
***
Di tempat lain Alya membuka mata perlahan serta menggeliat kan tubuhnya.
" Hoammm..... Astaghfirullah rupanya aku tertidur, sudah berapa lama aku tertidur "
Karena kelelahan berfikir Alya sampai tidak menyadari berapa lama Ia tertidur. Ia pun memandang sekitar tidak ada siapa pun disana.
" Kak Romi kemana, mungkin dia pergi bekerja. Bagaimana caranya aku pulang dari sini, masa aku pulang begitu saja tanpa pamit padanya. "
Alya melangkahkan kakinya tanpa Ia sadari telah memasuki dapur rumah itu, ada banyak piring kotor disana dan satu yang menyita perhatian Alya.
" Mie "
Semua piring kotor disana selalu ada tersisa bekas mie.
" Apa kak Romi setiap hari hanya makan mie saja, hm...... "
Alya pun melangkahkan kakinya membuka sebuah kulkas yang ada di dalam ruangan itu, Ia heran ternyata disana terdapat banyak bahan makanan tapi kenapa Pria itu selalu makan yang instan.
Ia pun mulai mengumpulkan bahan makanan yang ada di dalam kulkas itu dan mulai mengolahnya.
" Permisi kak Romi, jangan marah ya. Aku hanya ingin membuat makan malam untukmu, setelah ini baru aku akan pergi. Hmm... hitung hitung sebagai tanda terimakasih buatmu karena sudah menolongku, semoga Kak Romi menyukainya "
Alya mulai mengolah bahan makan itu dengan tersenyum, sudah lama hatinya tidak sebahagia ini. Hal seperti ini terakhir Ia rasakan ketika masih bersama kedua orang tuanya dan itu sudah sangat lama sekali.
Selama beberapa tahun belakangan ini Ia selalu tunduk di bawah perintah sang Tante, apa pun yang Mona katakan itu yang Ia lakukan, sungguh miris.
" Ah sudahlah Alya, jangan pikirkan masalah itu. Yang terpenting sekarang masak yang enak setelah itu kembali ke rumah " Gumam Alya menyemangati dirinya sendiri.
" Apa dia sudah bangun, bagaimana kalau dia bingung mencariku "
Romi mulai mencari kesana kemari tapi tidak menemukan Alya di manapun.
" Dimana gadis itu " Gumam Romi
Ekor matanya menangkap sebuah kertas di atas meja.
" Hai kak Romi caem 😛, maaf aku pergi tanpa pamit dulu. Maaf juga aku mengacak acak isi kulkas mu, oh ya terimakasih buat semuanya,
Alya 🙏 " Isi dari kertas itu.
Romi pun segera berlari ke arah dapur, aroma makanan menyeruk di indra penciuman nya membuatnya tiba tiba merasa lapar apalagi ketika melihat semua hidangan yang ada di atas meja.
" Wah nampaknya sangat lezat "
Ia pun meletakkan barang bawaan nya di atas meja dan mengambil piring serta duduk makan dengan lahapnya.
" Hm enak sekali " Gumamnya.
Tidak terasa sajian yang ada di atas meja hampir tak tersisa.
" Ya ampun saking enaknya aku sampai lupa kalau tadi aku bawa makanan dari resto " Ia memandangi kantong plastik yang baru Ia letakkan beberapa waktu lalu kemudian tertawa kecil.
" Makasih Al, tidak apa. Makanannya bisa aku berikan pada tetangga sebelah "
Begitulah kebahagiaan Romi, hari ini Ia bisa makan enak dan juga bisa berbagi. Dalam hati kecilnya berharap ketika Ia menemukan wanita yang sudah Ia gauli beberapa bulan yang lalu dan menikahinya Ia bisa makan masakan rumahan seperti itu setiap hari.
" Semoga beruntung Romi, semoga dia orang yang baik sesuai yang kamu harapkan " Begitulah harapan Romi.
***
Dira tidak Terima karena gagal menikah dengan seorang anak konglomerat, Pria yang menurutnya bisa membahagiakan dirinya kelak tanpa harus susah payah.
" Mas Andre sialan, Alya brengsek, dan apalagi itu. Si siapa namanya, Nay.... Nayla ! wanita dari planet mana, tiba tiba hadir dan menghancurkan rencanaku. Dasar tidak berguna......! " Maki Dira.
Ia melemparkan gelas yang ada di tangannya, bukan hanya itu. Tempat yang semula bersih dan rapi kini bagaikan kapal pecah, sana sini berantakan.
Sungguh ya Dira wanita tak bermoral, barang yang tidak bersalah ikut kena imbasnya.
" Awas saja kalian, aku akan buat perhitungan dengan kalian. Dan kamu Alya, kamu pikir aku akan tinggal diam, kalau aku tidak bisa mendapatkan Mas Andre maka tidak ada siapa pun yang akan mendapatkan nya juga. Langkahi dulu mayat ku itupun tidak akan membuatku tenang dan menyerahkan Mas Andre padamu "
Dira benar benar kehilangan akal sehatnya karena terobsesi dengan pikiran akan kenyamanan, menjadi Nyonya Andre dan berlimpah harta kekayaan.