
Di dalam mobil Rena diam saja, Ia masih mengingat pertemuan nya dengan Pria di masa lalunya.
" Mbak, itu tadi siapa sih. Tahu nggak Mbak, aku tuh sebel banget sama itu orang "
Renata menoleh mendengar ucapan Adiknya, tidak mungkin Ia tidak menanggapinya. Apalagi tumben tumbenan Adiknya sebel kepada orang lain, biasanya juga dia yang ceramah begini dan begitu.
" Sebel kenapa dan dengan siapa " Tanya Renata.
Siapa yang menyangka kalau mereka akan saling menyayangi walau bukan saudara kandung.
" Itu loh Mbak, pria yang tadi " Jelas Donita dengan gerak geriknya yang membuatnya nampak lucu.
" Hm, kenapa jadi sebel. Kan dia nggak gangguin kamu tadi "
" Aduh Mbak, gimana nggak sebel Mbak. Masa dia nggak nyadar kalau sudah tua, dia juga tadi gangguin Mbak kan. Ah coba saja tadi dia nggak pergi dan masih gangguin Mbak, pasti sudah ku beri bogem di wajahnya itu, biar dia sadar sudah tua. Asal Mbak tahu, kalau sampai Mas Erik tahu soal ini pasti Mas Erik juga akan melakukan hal yang sama "
Renata hanya geleng-geleng kepala, apa setelah ini hubungan percintaan nya akan di ganggu oleh Adik dan juga kakaknya itu.
" Dek, dia itu belum tua tua amat. Iya sih benar kata kamu, sudah ada keriput keriput sedikit. Oh ya Dek, sebaiknya kejadian tadi tidak perlu kamu beritahu Mas Erik, Mbak hanya males saja kalau dengar ceramahnya "
Donita mendengus kesal, Ia tidak suka Renata membela Pria itu dan terkesan menyalahkan penilaiannya.
" Apa, jadi dia belum tua menurut Mbak, apa jangan jangan Mbak suka ya sama dia. Oh atau bisa saja Mbak mau ya kalau orang itu tiba-tiba datang dan melamar Mbak begitu "
Astagfirullah kini giliran Renata yang harus di uji kesabaran nya. Punya Adik yang cerewet ternyata nggak bagus juga, semua di protes.
" Bukan begitu Dek, Mbak ngomong begitu karena memang orang itu belum menikah, dia masih bujangan. Ah sudahlah Dek, ngapain kita ngomongin Dia, nggak penting juga kan "
Donita menatap wajah kakaknya, ada sebuah pertanyaan yang mengganjal di hatinya, namun melihat mood kakaknya yang sudah tidak baik pertanyaan itu Ia urungkan.
..." Apa Mbak Rena mengenal Pria tadi, nggak mungkin kan itu salah satu mantan Mbak Rena. Ih masa iya Mbak ku yang cantik ini pacaran sama Om Om, ih jangan sampai aku juga ketemu Om Om juga " Batin Donita bergidik ngeri. ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Andre memilih pulang ke rumah, bekerja pun pikiran nya tidak tenang, hari ini mood nya benar-benar hancur.
" Ah sial " Ia melepaskan kemeja, dasi dan juga bajunya dengan kasar.
" Enak saja mereka mengatakan aku tua, apa mereka buta ya, tidak bisa melihat dengan benar. Aku masih tampan begini juga di bilang tua "
" Bos, kapan anda akan menikah. "
" Kenapa kamu nanya itu, urus saja pekerjaan mu " Andre selalu marah kalau di singgung soal tua dan menikah.
" Oh pekerjaan ku sudah pasti tanggung jawab ku, tanpa di minta pun aku pasti akan menyelesaikan nya bahkan tanpa cacat sekalipun. Apa selama bekerja aku pernah mengecewakan mu "
Memang benar sih sang sekertaris tidak pernah mengecewakan nya tapi masa iya sih dia juga ikut ikutan menyinggung soal jodoh juga.
" Maaf Bos, aku hanya takut nanti nggak ada anak gadis orang yang mau nikah sama Bos. Mana ada yang mau punya suami sudah mau masuk kepala empat. Satu lagi, apa Bos nggak malu, coba saja Bos pikir, kalau nanti Bos punya anak dan Bos harus terpaksa mengantarkan nya ke sekolah. Apa penilaian anak anak yang lain, pasti mereka akan bilang kalau anak Bos di antar oleh kakek nya. Miris sangat ya kalau jadi anak Bos nanti " Si sekertaris tukang kompor.
Tung !
Sebuah alat tulis berhasil mendarat di pelipis sang sekertaris membuat Pria itu terkejut.
" Jangan pernah berpikir yang seharusnya tidak kamu pikirkan, kerja yang benar. Masalah jodoh itu urusanku yang malu aku kenapa kamu yang harus repot.
Sang sekertaris akhirnya memilih diam. Ya, usahanya juga gatot, gagal total.
Meskipun begitu Andre merasa terusik dengan ucapan Sekertaris nya itu.
" Apa benar ya kalau yang menjadi Istriku nanti akan malu punya suami sepertiku "
Andre mematut dirinya di depan cermin.
" Tidak ada yang salah kok, masih tampan gini juga, siapa yang berani menolakku, tampan tajir dan baik hati " Gumamnya.
Kabar bahagia untuk Dirgantara group, sejak pagi mereka mendapatkan kabar yang baik. Satu persatu yang pernah mundur akhirnya mengajukan diri lagi.
" Ada apa dengan mereka, bukankah sebelumnya mereka bersikeras tidak ingin bergabung disini lagi. Ah--- sudahlah, yang penting sekarang semua masalah sudah teratasi dan aku tidak harus pusing dengan memikirkan banyak hal begitu juga dengan Rena, Dia tidak harus menikah dengan Pria plin plan itu "
Erik sebenarnya tidak membenci Andre, Ia tahu Pria itu adalah Pria yang baik. Hanya saja caranya mendapatkan sang Adik itu menurutnya konyol, mempertaruhkan perusahaan demi mendapatkan perhatian.
🎉🎉
hallo semua, jangan lupa buat mampir di karya author yang baru ya, semoga suka