
🌸🌸🌸
Sudah 2 hari semenjak kepulangan Siska dari luar kota, dan sudah beberapa kali juga Ia menghubungi bahkan mengirimkan pesan pada Asrul agar menjemput nya di rumah nya, namun yang di tunggu tak kunjung datang. Di telpon pun tidak pernah di jawab
" Apa- apaan ini, kenapa telpon tidak di jawab, pesan pun tidak di balas. Apa yang kamu kerjakan disana sampai menjemputku saja kamu tidak punya waktu "
Siska marah- marah pada ponsel nya sendiri, yang tidak ada jawaban setiap kali di gunakan.
" Belum di jawab juga " Tanya Bu Dewi
" Belum Bu, bahkan pesan pun tidak di balas "
" Sayang kenapa tidak kamu saja yang kesana, mungkin dia sibuk jadi tidak bisa menjemput mu. " Saran Bu Dewi.
*
*
*
Benar saja apa yang di pikirkan Nayla, Asrul ternyata membawa nya ke kediaman milik nya.
" Turun " Ucap Asrul ketika mobil sudah terparkir di halaman rumah nya.
Nayla merasa enggan untuk turun, Ia tahu kalau anak nya masih salah faham pada nya. Ia takut kecewa, atas penolakan Putra nya sendiri. Di balik semua itu Nayla juga takut kalau semua itu hanyalah jebakan dari Pria itu.
" Cepat turun, apa kamu tidak ingin bertemu anakmu. Eh..... anak kita maksudnya " Asrul melarat ucapan nya sambil tersenyum menggoda.
Walau ragu akhir nya Nayla ikut turun dan berjalan mengiri langkah kaki Asrul memasuki rumah yang pernah menjadi tempat kediaman nya selama setahun lamanya.
" Assalamu'alaikum........! " Asrul mengucap salam.
" Waalaikum salam " Jawab Bu Fian yang kebetulan lewat di sana.
" Eh sudah pulang "
Bu Dian heran melihat wajah Asrul yang berbeda dari biasa nya.
" Kamu kenapa, ada yang kamu sembunyikan dari Ibu hmm.......! "
Asrul cengengesan seperti anak baru gede menjawab pertanyaan Bu Dian.
" Kalau melihat wajah mu seperti nya bukan masalah besar " Tebak Bu Dian
Asrul menarik tangan Nayla yang sebelum nya Ia suruh bersembunyi di tubuh kekar nya.
" Nak..........!. " Seru Bu Dian.
Bu Dian tidak mampu menyembunyikan kebahagiaan nya ketika melihat wanita yang selalu menjadi menantu kesayangan nya.
Namun kemudian Bu Dian khawatir kalau Asrul membawa nya ke rumah hanya untuk menyakiti nya lagi.
" Nak Ibu ingin bicara sebentar, Nak.... tunggu disini ya sebentar nanti Ibu bawa Alwi turun " Ucap Bu Dian dengan senyum tulus nya.
Asrul mengikuti langkah Ibu nya hingga sampai ke kamar Bu Dian dan langsung menutup pintu, Bu Dian duduk di bibir kasur
" Katakan pada Ibu untuk apa kamu membawa nya kemari, jangan katakan kalau kamu membawa nya kemari hanya untuk menyakiti nya lagi. Maaf Nak kalau itu benar Ibu tidak setuju, cukup sudah Nak kamu menyakiti nya. Jangan menyakitinya lebih jauh lagi sebelum kamu menyesal nanti, dan tidak ada lagi alasan untuk penyesalanmu itu. " Pesan Bu Dian.
Usai mengucapkan itu, Bu Dian langsung keluar kamar menuju kamar Alwi dan membujuk nya agar mau turun ke bawah menemui Ibu nya. Tinggallah Asrul bagai kambing congek merenungi apa yang baru saja di katakan Ibu nya.
" Oma..... "
Bu Dian tersenyum melihat cucu kesayangan nya itu. Betapa sangat beruntung nya diri nya mempunyai cucu sepintar Alwi, dia tidak akan mau bermain- main sebelum pekerjaan sekolahnya selesai.
" Sayang, sudah PR nya " Tanya Bu Dian.
" Bentar lagi Oma " Jawab Alwi tersenyum walau tanpa menoleh.
" Sudah selesai Oma "
" Ya Allah, andai Mama ada di sini dan melihat Alwi mengerjakan tugas sekolah Mama pasti senang " Batin Alwi.
" Wah cucu Oma memang paling pintar. Hmm.... Alwi Oma boleh tanya sesuatu nggak " Tanya Bu Dian hati- hati.
" Tanya saja Oma, kenapa harus tanya lagi "
Bu Dian kali tersenyum, ternyata sifat nya sama persis dengan Asrul kecil.
" Kalau seandai nya Mama Nayla datang kemari apa Alwi akan mau menemui nya " Tanya Bu Dian hati- hati, takut pertanyaan nya salah dan membuat cucu nya bereaksi serius.
" Mama.....! Benarkah Mama ada disini. Mama Alwi sangat merindukan Mama, Alwi ingin di peluk Mama. " Batin Alwi.
Alwi diam saja tidak bereaksi apa pun.
" Bagaimana sayang " Ta ya Bu Dian lagi.
" Tidak Oma, Alwi tidak ingin bertemu Ibu. Ibu sudah jahat sama Alwi, Ibu sudah tidak sayang sama Alwi lagi. " Jawab Alwi membuat Bu Dian terkejut
" Sayang, dengarkan Oma. Tidak ada seorang Ibu yang tidak menyayangi anak nya, sama seperti Oma, Oma sangat menyayangi Papa nya Alwi meskipun Papa nya Alwi sudah besar. Mama Nayla juga pasti sangat menyayangi Alwi, apalagi Alwi kan masih kecil. Hm.. begini saja, sekarang Oma tanya sama Alwi. Apa selama Alwi sama Mama apa Mama pernah marah sama Alwi meskipun Alwi pernah berbuat salah atau semacam nya yang membuat Mama Nayla marah "
Kenangan bersama sang Ibu kembali berputar di memori ingatan Alwi. Betapa Mama nya sangat menyayangi nya, bahkan beliau akan menangis kalau hal kecil saja terjadi pada nya.
" Bagaimana Nak.......? "
Melihat Alwi diam saja, Bu Dian kemudian melanjutkan ucapan nya.
" Baiklah, sebenar nya Mama Nayla ada di bawah. Kalau boleh Oma minta Alwi turun kebawah sebentar, mungkin Alwi ingin bertemu Mama Nayla sebentar "
Alwi beroerang dengan hati nya, tidak bisa di pungkiri betapa ingin nya Ia memeluk wanita yang sangat di sayangi nya itu, namun ketika mengingat semua ucapan Tante Siska dan juga fakta yang di lihat nya dengan mata nya sendiri membuat nya menahan rasa rindunya itu.
" Ayo, ikut Oma sebentar ke bawah " Ajak Bu Dian
Alwi tetap tidak bereaksi membuat Bu Dian enggan untuk memaksanya lagi.
" Ya sudah kalau Alwi tidak ingin ketemu Mama, Oma turun sebentar ke bawah. Oma harus memberitahukan Mama Nayla kalau Alwi tidak ingin di ganggu " Ucap Bu Dian seraya melangkah keluar.
Di ruang tengah Nayla sedang menunggu dengan gelisah, Bu Dian turun dan merasa kasihan pada Nayla.
" Kasihan sekali kamu Nak, tidak ada orang lain yang mengenalimu sebaik dari Ibu mengenalmu. Maafkan Ibu karena kamu harus melewati semua ini, Ibu tahu dia hanya tidak bisa mengartikan apa yang ada di hati nya. " Batin Bu Dian.
" Nak, maaf Ibu terlambat "
Bu Dian duduk di samping Nayla, suara Bu Dian mengejutkan nya dari lamunaj nya.
" Tidak apa- apa Bu " Jawab Nayla.
Ia mengarahkan pandangan nya ke lantai atas dan berharap bisa melihat Putranya walau hanya sebentar
" Pasti dia tidak ingin bertemu " Ucap Naya, ada rasa kecewa di hatinya namun berusaha Ia tepis
" Maaf Nak, Ibu tidak bisa membujuk nya karena Alwi.......
" Untuk apa Mama kemari, sebaiknya Mama segera pulang karena Alwi mau istrahat. "
Nayla terkejut mendengar suara putra nya, betapa rindu hatinya ingin memeluk tubuh anak semata wayang nya.
Nayla melangkah beberapa langkah namun ia di hentikan oleh suara Alwi.
" Jangan maju, cepatlah pulang karena Alwi ingin istrahat "
Walau besar ingin nya Ia memeluk putra nya namun Ia tetap bersabar tidak ingin memaksakan ke inginan nya pada Putra nya itu
😍😍😍