
Erik mendengar kemarahan adiknya dari bisik bisik para karyawan, Ia menghela nafas berat. Sepertinya semuanya tidak ada gunanya, bukannya berkesan, sang Adik malah semakin tidak suka dengan perhatian yang di berikan Pria yang sudah berniat baik padanya.
Sayangnya Ia tidak sempat mendengar lebih lanjut kasak kusuk mereka karna para karyawan itu keburu kabur tunggang langgang saat melihat kedatangan dirinya.
" Apa lagi sih, aku sudah bilang jangan bawa apapun ke dalam ruangan ku " Sentak Renata.
..." Mas Erik ! "...
Renata tidak menyangka kalau yang masuk keruangannya saat itu adalah Erik, saudara laki lakinya.
" Ada apa lagi sih, ini masih pagi, kenapa kamu jadi semarah ini " Tanya Erik mencoba biasa saja.
" Tidak apa apa, sudahlah Mas, sebaiknya Mas juga keluar sekarang karena aku ingin bekerja "
Erik meraih ponselnya dan mengetik beberapa pesan lalu mengirimkan nya.
" Jangan selalu marah marah tanpa alasan, takut nanti wajahmu yang cantik ini terkena stroke karena keseringan marah marah "
Renata mendengus kesal, setiap kali kakaknya itu menemuinya bukan membuatnya tenang tetapi malah membuat mood nya semakin buruk.
" Sudahlah Mas, aku sedang tidak ingin bercanda dengan Mas. Keluar sekarang Mas "
Renata mendorong pelan tubuh Erik hingga ke depan pintu.
" Dadah Mas Erik " Renata langsung menutup pintu dengan rapat.
Berharap dengan begini konsentrasi nya akan bagus tapi malah sebaliknya, pikiran nya malah terganggu dengan berbagai macam hal.
\*\*\*
Malam hari di kediaman Hendrik, Renata sedang di rias oleh adik keponya. Sore tadi ketika Renata kembali dari tempat bekerja, Ia dikejutkan dengan kabar bahwa keluarga Andre akan datang guna untuk membicarakan keseriusan mereka melamar dirinya.
Awalnya Renata bersikeras menolak namun sesuatu membuat Renata dengan terpaksa menerima nya.
" Wah Mbak Rena, Mbak sangat cantik. Donita yakin kalau calon suami Mbak akan klepek klepek dan semakin tidak bisa berpaling dari Mbak. Wah senengnya "
Donita sudah membayangkan hal itu lebih jauh, sedangkan Renata hanya bersikap biasa saja.
" Biasa aja kali Nita, dia nggak gitu gitu amat. Nanti juga kamu akan tahu Dek "
Bagaimana nantinya kalau si kepo tahu yang sebenarnya.
" Ah Mbak, dia pasti sangat tampan sesuai dengan Mbak ku ini. Cantik, pinter, ah pokok nya the best lah "
Renata hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah adik perempuan nya itu.
Jam setengah tujuh malam terdengar deru mobil di depan rumah, Renata masih berdiam diri di kamar, tidak ingin menyambut kedatangan keluarga Pria.
" Ibu, Ayah, masuklah lebih dulu, Andre mau ngangkat telpon dulu " Pinta Andre
Ketika akan turun ponselnya berdering, mau tak mau Ia harus menerimanya.
" Ah Nyonya, silahkan masuk " Donita mempersilahkan Bu Rossa untuk masuk.
Rossa mengangguk dan tersenyum
" Makasih sayang, nama mu siapa " Rossa mengelus kepala Donita pelan.
" Ah aku baik baik Nyo~
" Bu Rossa, bukan Nyonya " Ralat Rossa.
Donita tersenyum seraya mempersilahkan tamunya untuk masuk, tidak lama di susul oleh Pak Burhan dan Donita pun melakukan hal yang sama.
Donita melongak kesana kemari, mencari sosok Pria yang akan menjadi kakak Ipar laki lakinya.
" Dimana dia, apa dia nggak datang " Gumam Donita.
Ia mencari kesana kemari hingga akhirnya belakang nya tersandung sesuatu. Gegas Ia berbalik, dan sontak matanya melotot melihat siapa yang baru saja bertabrakan dengannya.
" Kamu, Om Om menolak tua, ngapain kamu kemari. " Donita meletakkan kedua tangannya di pinggang dengan mata hampir keluar dari tempatnya.
Andre menghela nafas berat, Ia dapat masalah kali ini.
" Hei minggir gadis rese, aku mau masuk "
Donita menghalangi Andre agar tidak masuk.
" Hei Om Om menolak tua, kamu tuh tidak di harapkan disini. Cepat pergi, disini akan ada pertemuan keluarga " Donita tetap kekeh tidak mau mnyerah.
Donita juga tidak mau mengalah, Ia mendorong tubuh Andre dengan keras keluar pagar.
" Pergi sana, baru juga kurang dari jam tujuh kamu sudah mimpi "
Dengan sekuat tenaga Donita menarik pintu pagar, Andre bahkan tidak dapat masuk. Donita menepul nepuk kedua tangannya karena berhasil mengusir Andre dari halaman rumah mereka. Ia masuk kedalam rumah dan kembali bersikap ramah pada tamu mereka.
Rossa dan Burhan saling pandang karena Andre belum kunjung datang juga.
" Sabar Sayang, mungkin ada masalah penting " Burhan berusaha berpikir positif.
" Tapi Mas, ini sudah lama loh. Malu kita nanti, bisa bisa rencana kita gagal "
Keduanya berbisik bisik, Hendrik turun menyambut kedatangan tamu terhormat, yaitu Bu Rossa dan Hendrik.
" Sudah lama menunggu "
" Belum Pak " Burhan yang langsung menjawab pertanyaan Hendrik.
" Sebaliknya kita langsung makan malam dulu setelaj itu baru kita bicara "
Burhan dan juga Rossa menyanggupinya dan mereka pun makan malam bersama. Hendrik segera meminta pelayan untuk membawa Renata turun ke bawah.
" Gimana doang Mas, ini sudah waktunya " Bisik Rossa gelisah.
Renata turun di gandeng Donita, bersamaan sebuah suara mengucap salam dari luar.
" Assalamu'alaikum "
" Wa'alaikum salam " Jawab mereka serentak.
Dibelakang Erik nampak Andre datang dengan kondisi acak acakan.
" Nak, kamu ~ pakaian mu kenapa kotor begini " Bisik Rossa bingung.
Hal yang sama juga di rasakan Burhan, Ia menunggu jawaban dari sang Putra.
" Hei kamu, Om Om menolak tua, kenapa kamu bisa masuk. Aku sudah bilang disini tidak menerima kedatangan mu, kami ada pertemuan keluarga " Donita langsung menyemprot Andre.
Semua yang hadir disana terkejut namun tidak dengan Erik, Ia membawa adiknya menjauh dari tempat pertemuan itu.
" Maaf ya Pak, Bu, Papa. Silahkan di lanjutkan obrolan nya. Kamu ! cepat ikut Mas " Erik menarik tangan Donita pelan.
Donita terus meronta.
" Mas ih, aku harus mengusir orang itu. "
Erik melepas gengaman tangannya.
" Nita, Mas malu tahu nggak. Kamu sudah benar-benar keterlaluan "
Donita bingung apa maksud kakak laki-laki nya itu.
" Malu kenapa dan aku ~ aku keterlaluan apa Mas " Tanya Donita.
" Kamu mengusir Pria yang akan menjadi calon kakak Ipar mu, dia ~ pria yang kamu usir tadi adalah Andre, Pria yang selama ini ingin menikah dengan Mbak mu, kamu paham tidak "
Donita shock, Ia menggeleng gelengkan kepalanya pelan, tidak percaya dengan ucapan Kakaknya itu.
" Dia Mas ~ Dia yang akan jadi kakak Ipar laki laki. Mana mungkin ? "
Erik yang baru pulang dari luar melihat seseorang yang menaiki pagar, di remang remang cahaya Erik tidak bisa melihat dengan jelas.
Ia menarik Pria yang di anggap adalah maling.
" Aduh aduh, tolong lepaskan aku. " Rintih Andre.
Erik menahan tangannya, Ia mencoba melihat dengan jelas.
" Andre, kau ~ ngapain kau ada di luar " Tanya Erik.
Andre meringis menahan sakit
" Aku tadi sudah masuk, tapi adik resemu itu mengusir ku. Nggak di kantor, disini punya teman sama sama rese "
Erik nampak berpikir dan kemudian teringat Donita.