Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Kamu akan menyesal


Alya melangkah menyusuri jalanan yang sepi, sungguh tega Pria yang di cintainya itu mencampakan nya begitu saja tanpa rasa bersalah sedikitpun . Rasanya semua raganya sakit, dari sudut bibirnya yang sakit mengeluarkan darah dan juga badannya yang di dorong paksa jatuh dari mobil, tapi yang lebih parah sakit nya adalah hatinya. Hatinya yang tersayat sayat tidak mengerti takdir begitu kejam mempermaikan dirinya.


Menyusuri jalan sendirian membuatnya semakin merasa terbuang, apalagi mentari sudah hampir hilang kembali keperaduannya.


" Ya Allah, aku harus kemana, aku bahkan tidak tahu area ini " Jerit hati Alya putus asah.


Erik beberapa kali melihat jam tangannya serta pintu masuk, ini sudah hari kedua dirinya tidak melihat kehadiran Alya. Ia takut terjadi apa apa pada gadis itu, belum lagi pemilik Resto sudah berulang kali menanyakan dirinya.


Akhirnya Erik memutuskan untuk mendatangani kontrakan Alya, namun berulang kali Ia mengetuk tak ada jawaban disana, hingga kedatangan seseorang yang membuatnya terheran.


" Mas mencari Mbak Alya ya " Tanya seorang wanita dan Erik dengan cepat mengangguk.


" Iya Bu, apa Ibu melihatnya " Tanya Erik lagi.


" Kemarin Ibu melihatnya pergi terburu buru, seperti sedang ketakutan "


......" Ketakutan, apa terjadi sesuatu dengan nya. Ya Tuhan, jangan sampai terjadi sesuatu yang.... ......


Erik tidak ingin memikirkan yang tidak baik, Ia akhirnya geleng geleng kepala. Doa doa yang terbaik Ia panjatkan untuk gadis itu dengan harapan dimana Ia berada selalu dalam lindungan yang Maha Kuasa.


" Baik Bu, terimakasih informasinya, ini untuk Ibu, aku permisi dulu ya Bu, Assalamu'alaikum " Pamit Erik.


Iya melajukan motornya mengamati sekitar jalan kota, berharap bisa bertemu Alya namun hasilnya nihil.


***


Sementara di tempat lain, ponsel Nayla bergetar dan ada pesan masuk di sana. Nayla meraih benda bergetar itu dan membacanya.


[Assalamu'alaikum Kak, maaf apa kita bisa bertemu ]


Nayla berpikir sejenak, mungkin ada yang sangat penting sehingga Alya mengajaknya bertemu.


[Boleh Al, lima belas menit lagi di resto tempatmu bekerja ya ]


[ Jangan disana kak, aku sedang di taman kota, aku tunggu disini saja ]


[Baik Al, tunggu disana ya ]


Nayla bergegas keluar setelah berganti baju dan menitipkan Putrinya pada Bu Rossa.


" Bu, titip Yasmin ya, aku ada perlu sebentar di luar. Aku akan segera kembali "


Bu Rossa mengangguk dan dengan senang hati menjaganya cucu keduanya itu.


Hanya butuh beberapa menit saja Nayla sudah tiba di taman kota tempat mereka janjian.


" Ada apa Al " Tanya Nayla ketika sudah bertemu.


Alya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecil miliknya dan menyerahkan nya pada Nayla.


" Ini kak, tolong berikan pada Mas Andre "


Nayla menerimanya dan bingung melihat amplop yang berisi uang, pikirannya sudah melayang kemana mana. Apalagi melihat wajah Alya yang nampak beda dari biasanya, terdapat luka di bibirnya.


" Uang, buat apa Al, kenapa di berikan ke Mas Andre. Kenapa bukan kamu saja yang memberikan nya untuknya. "


Wajah Alya nampak berubah masam, mengingat perlakuan Andre saja sudah membuatnya muak apalagi bertemu orangnya. Ia berharap tidak pernah bertemu lagi dengan Pria itu.


" Kak Nay kan tahu kalau hubungan aku dengan Mas Andre kurang baik, aku tidak mungkin memberikan nya langsung "


Sekuat tenaga Alya meredam emosinya agar tidak marah di depan Nayla tapi justru itu membuat Nayla semakin curiga.


" Apa terjadi sesuatu denganmu dan itu Mas Andre......, Apa Mas Andre menyakitimu Al....."


Alya hanya tersenyum menyembunyikan luka hatinya.


" Tidak Kak, oh ya terimakasih ya sudah membantuku mengembalikannya. Aku pamit dulu "


Alya bergegas meninggalkan tempat itu, sedangkan Nayla nampak memutar otaknya. Berulang kali Ia menatap amplop itu dan juga kepergian Alya hingga hilang dari pandangannya.


Di tengah perjalanan Nayla mengetik sebuah pesan.


[Mas, boleh pulang kerumah sekarang, ada yang penting ]


Tidak membutuhkan waktu yang lama pesannya pun terbalas.


[ Baik Dek, Mas pulang sekarang ]


Andre tiba di rumah, bergegas Ia mencari keberadaan adiknya.


" Bu, Nayla mana " Tanya Andre pada sang Ibu.


" Itu " Tunjuk Rossa


" Ada apa Nay, Mas di suruh pulang tiba tiba" Tanya Andre langsung.


Nayla mencoba mengatur nafasnya, sejak tadi amarahnya sudah ingin meledak. Ia tahu pasti sudah terjadi sesuatu pada Alya dan juga Mas nya itu.


" Jelaskan padaku apa ini Mas " Nayla meletakkan amplop yang di berikan Alya dan Andre pun menyambutnya.


..." Uang, ini kan uang yang aku berikan pada wanita itu, kenapa sampai ada di tangan Nayla. Ah mana mungkin, mungkin ini uang lain, wanita itu kan matre, pasti uang yang ku berikan kemarin sudah habis untuknya berfoya foya " Pikir Andre....


" Uang, Uang dari mana ini dan apa yang harus Mas jelaskan " Tanya Andre bingung.


Brakh " Nayla menghempaskan tas miliknya di atas meja, emosinya sudah meledak.


Bu Rossa terkejut namun Ia enggan mencampuri urusan anaknya, melihat kemarahan Nayla, Ia curiga pasti ada yang tidak beres.


" Mas jangan berpura-pura lagi, uang ini dari Alya, dia menghubungi aku dan mengajakku bertemu. Dia hanya menitipkan ini dan memintaku memberikannya padamu "


" Pura pura menolak " Cibir Andre.


" Mas........... " Teriak Nayla histeris.


" Apa yang Mas lakukan padanya, jangan bilang Mas menyakitinya "


" Wanita seperti dia itu memang sudah pantas mendapatkan hal seperti itu, lagi pula dia sudah sering melakukannya kan dengan banyak Pria. Wanita sok suci " Lagi lagi Andre mencibir.


Nayla benar benar tak mampu menahan emosinya, mendengar perkataan Andre sudah menjawab semua dugaannya yang ternyata benar adanya.


Kini bukan hanya Nayla yang di buat emosi dengan ucapan Andre, Bu Rossa yang tadi hanya menonton perdebatan kedua anaknya ikut menanggapi.


" Apa maksudmu Ndre, jadi kamu menyakiti anak itu " Rossa terduduk lesu.


" Kamu keterlaluan Mas, kamu menyakitinya tanpa sebab "


Andre tertawa " Tanpa sebab katamu Nay, wanita itu menjual diri


Plak..... Plak....... !


Andre menghentikan ucapannya karena mendapatkan dua tamparan tak terduga secara bergantian.


" Kau akan menyesal nanti Ndre dengan semua yang sudah kau lakukan Nak " Ucap Bu Rossa syock.


Ia kembali tertunduk lemas di sofa ruang tamu.


" Dia bukan hanya akan menyesal Bu, tapi mungkin akan gantung diri kalau tahu yang sebenarnya. Kalau cinta itu percaya Mas, di selidiki kebenarannya bukan di tuduh macam macam apalagi sampai menyakitinya. Cemburu buta, perbuatan Mas ini justru membuat dia menjauh darimu, dan ketika kamu sadar nanti kamu sudah kehilangannya "


Nayla dan Bu Rossa tertunduk lemas meredam amarah yang menjadi jadi, nampak dari luar Asrul dan Burhan bergegas masuk.


Tadi mereka baru saja mendapat kabar dari PRT tentang keributan di rumah dan langsung pulang. Mereka bingung melihat dua bidadari surga rumah itu duduk di sofa dengan wajah yang sulit di artikan.


" Sayang, ada apa " Tanya Burhan dan Asrul bersamaan.


" Kalian para Pria sama saja, jangan ada yang masuk kamar kalau kalian masih saja mempermainkan hati wanita. Silahkan kalian introspeksi dan urus diri kalian sendiri jangan libatkan kami "


Entah kenapa dua wanita itu punya pemikiran yang sama dan segera masuk kekamar masing masing, meninggalkan Asrul dan juga Burhan yang kebingungan.