Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Permintaan Bu Rossa


Alya memandang wajahnya di cermin, mengatur nafasnya yang terasa sesak. Ia sangat gugup karena terlalu khawatir.


..."Semangat Al, bukannya semua masalah harus di hadapi. Untuk apa aku takut, aku juga tidak melakukan kesalahan apapun padanya, jadi tidak ada alasan untuk takut dengannya "...


Bunyi klakson di depan rumah mengembalikan kesadaran Alya, bahwa saat ini bukan waktunya untuk berpikir tapi melainkan bertindak.


Terdengar suara Nayla dari ruang tengah, nampak sedang berbicara dengan penghuni rumah.


..." Yuk Al, kita bisa langsung jalan sekarang " Ajak Nayla....


Alya menyempatkan masuk ke kamar Pak Hendrik untuk minta izin namun yang di cari tak nampak disana. Ia memilih mengirim pesan untuk Erik agar Pria itu mengetahui kalau Ia sedang keluar bersama Nayla.


" Oke sudah selesai, Bi Alya berangkat dulu ya, ada urusan di luar. Hanya sebentar saja kok Bi, setelah urusannya selesai Alya langsung pulang " Pamit Alya.


Mereka pun keluar setelah sebelumnya Nayla juga pamit pada ART rumah itu.


......" Titip Non Alya ya Bu, kalau sudah selesai bisa langsung di antar pulang ya " ......


..."Begitu berartinya Alya di rumah ini, sampai sampai seorang pelayan pun menitipkan Alya padaku, seakan tidak ingin terjadi apa apapun padanya. Apa benar dia hanya seorang perawat khusus atau ada hal lain yang sengaja di sembunyikan Erik. " Batin Nayla....


Bukan tanpa alasan kalau Nayla berpikiran seperti itu, mengingat bagaimana cara Erik meminta Alya pindah kerja begitu juga bagaimana cara Pria itu memperlakukannya selama ini tentu sangat berlebihan kalau gadis ini hanya seorang pelayan.


..."Kak Nay......! Ayo kak, kita jadi berangkat atau tidak " Alya menepuk pundak Nayla karena sejak tadi sepertinya wanita itu melamun....


" Ah iya Alya maaf ya, tentu saja jadi dong. Masa iya aku sudah jauh jauh kemari dan sudah izin tapi ujung ujungnya tidak jadi. Yuk.... berangkat sekarang, pasti Ibu sudah menunggu kita di rumah "


Nayla membukakan pintu untuk Alya, hatinya benar benar bahagia. Ia sangat berharap semua rencana yang sudah mereka susun akan berjalan lancar.


Di dalam mobil Alya hanya diam saja, Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela. Hatinya benar-benar gugup, mentalnya belum kuat kalau harus berhadapan dengan Pria yang masih sangat di cintainya itu. Bukan karena rasa cintanya namun Ia takut akan ucapan Pria itu yang tak henti hentinya merendahkan dirinya.


..."Santai saja Alya, tidak usah gugup. Soal Mas Andre tidak perlu kamu risaukan, mulai sekarang dia tidak akan berani mengganggumu apalagi berlaku kasar padamu. Kalau sampai itu terjadi dia akan berhadapan langsung denganku "...


Seakan tahu apa yang sedang membuat gadis itu risau Nayla mencoba mengurai suasana, Alya tersenyum menanggapi.


..."Bagaimana Kak Nayla bisa yakin kalau Mas Andre tidak akan menganggu ku lagi, kemarin saja dia sudah buat kesulitan padaku. Aku yakin masalah kemarin ada campur tangannya, bagaimana bisa dia tahu kalau aku kehilangan motor dan mengajakku pulang dengannya, memang aku anak kecil yang tidak tahu apa apa " Batin Alya. ...


Mereka akhirnya tiba di kediaman Burhanudin, Alya turun dari mobil memandang rumah yang bagaikan istana itu. Rumah yang beberapa bulan lalu menjadi saksi bisu bagaimana Ia mempermalukan dirinya sendiri.


..." Ayo Alya kita masuk " Ajak Nayla. ...


Alya menguatkan hatinya dan melangkah masuk


" Ibu... aku pulang, lihat aku bawa tamu spesial " Teriak Nayla seperti anak kecil.


" Eh eh eh... sudah pada datang rupanya, ayo nak silahkan duduk. Sini duduk dekat Ibu "


Bu Rossa menggiring Alya duduk di sampingnya, Alya menjadi salah tingkah mendapat perlakuan lembut seperti saat ini. Sementara Nayla tersenyum menyaksikan pemandangan di depan matanya.


......"Ternyata Ibu benar-benar sangat menyayangi Alya, ah andai saja Mas Andre bisa membuka mata dan hatinya " Batin Nayla berharap ada kebaikan setelah itu. ......


Bibi rumah itu datang membawakan minuman serta cemilan untuk mereka bertiga, mereka akhirnya menikmati kebersamaan mereka nampak sesekali melempar candaan yang di akhiri gelak tawa mereka bertiga.


***


" Pikirkan lagi ya Nak, Ibu sungguh-sungguh dan sangat berharap jawaban terbaik darimu Nak "


Ucapan Bu Rossa terus terngiang di telinga Alya, hingga sampai di kediaman Pak Hendrik Alya masih saja termenung. Bahkan Alya hanya melepaskan kepergian Nayla dengan senyum tanpa berkata apa apa.


Bibi yang melihat kedatangan Alya pun penasaran dengan apa yang terjadi pada gadis itu, buru buru Ia mengeluarkan ponsel miliknya dalam kantong celananya guna menghubungi seseorang.


Erik yang mendapat panggilan telpon dari pelayan rumahnya itu langsung berlari pulang.


" Ada apa dengannya, apa terjadi masalah disana. Awas saja kau Andre kalau terjadi apa apa padanya akan ku buat perhitungan denganmu "


Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya menyempatkan menyapanya tapi tidak di hiraukan.


" Assalamu'alaikum.... ! Al..... Al..... ! Bi.... bibi..... ! " Panggil Erik


Bibi bergegas menemui Erik yang memanggil nya terus menerus.


" Mana Alya Bi " Tanya Erik.


" Ada Mas, sepertinya di atas dari tadi belum turun "


Erik segera berlari ke atas mencari dimana keberadaan Alya.


A " Tangan Erik mengambang di depan pintu karena Alya tiba tiba keluar saat dirinya baru akan mengetuk pintu.


..." Mas Erik, Mas disini... ! tapi ini kan jam kerja Mas, kenapa Mas pulang, apa ada yang ketinggalan di rumah. Biar Alya siapkan dulu " ...


Erik memperhatikan kepanikan Alya, Ia juga bingung harus menjawab apa. Terlepas dari kebingungan nya Ia sedikit lega karena Alya baik baik saja.


..." Ah iya Al, Mas tadi ada berkas yang ketinggalan di dalam lemari jadi Mas pulang untuk mengambilnya. Hm... bagaimana dengan acaranya tadi, tidak ada masalah kan, semuanya baik baik saja kan " ...


Alya mengangguk mengiyakan, mengatakan kalau semuanya baik baik saja. Ia tidak ingin membuat Erik khawatir padanya, dengan mengatakan apa yang mereka bahas dalam pertemuan itu, tentang permintaan Bu Rossa yang membuatnya pusing tujuh keliling.