
Nayla melamun memikirkan tentang hubungan nya dengan Pria yang selama ini dia hormati dan juga sayangi sebagai seorang suami, namun rasa itu di luluh lantahkan dengan semua penghianatan serta ketidak adilan yang Ia berikan.
" Aku tidak boleh seperti ini, Mas Asrul tidak pernah menunaikan kewajiban nya padaku bahkan anak nya sendiri. Secara agama juga kami sudah berpisah, dan untuk hukum aku juga bisa menggugat cerai dirinya dengan alasan itu, bukan kah itu akan bisa di terima "
Karena merasa sedikit pusing akhirnya Ia memutuskan untuk mengunjungi kediaman orang tua nya, sekaligus minta pendapat pada Ibu sambungnya itu.
Baru saja Ia akan membuka mobil Ia di kejutkan dengan sebuah tangan yang menariknya keluar dan membawanya masuk ke sebuah mobil lain.
" Apa apaan sih, kamu siapa " Nayla protes pada Pria itu.
Baru saja Ia ingin berteriak matanya menangkap siapa yang berada di balik setir.
" Mas Asrul, Mas apa apaan sih. Kenapa selalu seperti ini " Protes Nayla.
Namun suaranya tidak di dengarkan oleh Pria itu, Asrul mengemudikan mobilnya menjauh dari tempat itu, dan membawa nya entah kemana.
Nayla semakin gelisah karena sudah lama berada di dalam mobil namun tidak sampai juga ke tempat tujuan. Ia mengeluarkan ponsel miliknya nun dengan segera Asrul pun merebut dari tangan nya.
" Mas... bahkan ponselku saja kamu ambil, sebenarnya apa mau mu Mas, kamu selalu mencampuri hidupku "
Asrul hanya tertawa kecil melihat protes Nayla, bagi nya itu sangat lucu.
Hingga mobil berhenti di sebuah rumah besar di tempat terpencil, rumah yang berdiri sendiri di atas bukit dengan pemandangan yang indah.
Asrul mengajak Nayla untuk turun namun Nayla merasa ragu, Ia takut Pria itu akan berlaku macam macam padanya. Sementara ponsel miliknya ada di tangan Pria itu hingga dirinya tidak bisa menghubungi siapa pun.
" Ayo keluar kita sudah sampai "
Nayla masih tetap bersikeras tidak ingin turun dari sana, apalagi memandang sekeliling tidak ada siapa pun juga.
" Cepatlah turun, aku tidak akan berbuat macam macam padamu " Ucap Asrul yang mengerti ketakutan wanita itu.
Nayla perlahan turun setelah meyakinkan dirinya kalau semua nya baik baik saja.
Walau ragu namun Nayla mengikuti apa yang di perintahkan Asrul padanya yaitu dengan mengikuti kemana langkah Pria itu.
" Kenapa Mas membawaku kemari, berikan ponselku aku ingin menghubungi Ayah agar menjemput ku kemari. "
Asrul tertawa kencang hingga menggema di dalam ruangan itu membuat Nayla teringat akan masa kelam dirinya dulu.
" Tidak akan ada yang mencari mu sayang, karena mereka sudah tahu kalau kamu sekarang sedang bersama ku. Ayahmu juga sudah tahu itu "
Nayla tidak percaya ucapan Asrul, bagaimana mungkin Ayahnya mengijinkan dirinya pergi dengan Pria yang sudah menghancurkan hidup Putrinya sendiri.
" Mas jangan bohong, bagaimana mungkin Ayah mengijinkan aku pergi bersama mu. Kamu pasti sudah melakukan macam macam ya kalau itu memang benar "
Asrul makin tertawa keras melihat tingkah Nayla yang marah marah dan menunjuk nunjuk dirinya.
" Aku tidak melakukan apa pun pada mereka, hanya sedikit rayuan selesai deh. Oh ya dan juga janji untuk menjagamu agar kamu kembali dalam keadaan baik baik saja itu sudah cukup untukku dapat ijin dari Pak Burhan, Ayah tersayang mu itu. Eh salah aku ralat lagi, mertua ku yang paling baik "
Nayla mendengus kesal, Ia tidak percaya Ayahnya dengan begitu mudahnya mengijinkan nya pergi dengan Pria yang sekarang menurut Nayla benar benar egois.
" Aku beritahu padamu, jangan pernah berharap banyak dariku. Di antara kita sudah tidak ada hubungan lagi "
Asrul tertawa kecil mendengar ucapan Nayla
" Siapa bilang kita tidak punya hubungan lagi, aku ini masih sah suami mu di pengadilan agama dan tidak ada seorang pun yang bisa menyangkalnya " Ucap Asrul di sela tawa nya.
" Suami seperti apa, pernahkah kamu melakukan tugasmu, menjalankan kewajiban mu selama ini sebagai seorang suami atau pun sebagai seorang Ayah. Aku sudah mengajukan gugatan ke pengadilan dan sebentar lagi hubungan yang kamu bangga bangga kan itu sebagai alasan untuk mengekang ku semuanya akan segera berakhir. "
Bukan main terkejutnya Asrul, hal yang Ia takutkan beberapa hari ini ternyata akan benar benar terjadi. Nayla akan memilih jalur hukum untuk mengakhiri hubungan mereka yang selama ini memang kurang sehat.
" Sebaiknya sekarang antar aku pulang dan jangan pernah bermimpi untuk mengganggu hidupku lagi. Soal Alwi aku tidak akan pernah melarang mu menemuinya, karena dia sudah besar. Dia sudah bisa menentukan mana yang terbaik untuknya, di tempat mana Ia merasa nyaman. Tapi tidak dengan ku, aku mohon padamu Mas, LEPASKAN AKU. Carilah kebahagiaan mu sendiri di luar sana dan begitu juga denganku. Biarkan aku memilih jalanku sendiri tanpa harus ada gangguan darimu, begitu juga dengan mu, aku tidak akan pernah menghalangi kebahagiaan mu "
Nayla lega bisa mengatakan semua unek unek di hati nya namun tidak dengan Asrul, Ia merasakan sakit yang teramat sakit. Rasa sakit di hatinya sangat menyiksanya bahkan kerongkongan nya serasa mau putus. Untuk menelan ludah saja rasa nya begitu menyakitkan bagi nya.