
🪴🪴🪴
Asrul memberikan apa yang selama ini belum pernah Ia berikan pada Putra nya itu, meski awalnya Alwi menolak namun karena Asrul memberinya pengertian akhirnya Ia pun menerimanya.
" Ambillah Nak, ini semua memang hak kamu Nak, dan seharusnya Papa berikan ini dari dulu. Kamu bisa gunakan untuk apa saja yang kamu inginkan tanpa harus meminta izin lebih dulu "
Alwi menerima nya dan berterima kasih tidak lupa Ia juga mencium punggung tangan Asrul, hati Pria itu benar benar tenang dan sangat bahagia.
Andai waktu bisa di putar mungkin dia tidak akan menyianyiakan hidupnya hanya demi ego nya semata dan menyakiti orang orang yang menyayanginya.
Asrul menarik nafas berat memandang kepergian Putra nya, dalam hati Ia sudah bertekad akan berjuang demi meluluhkan semua nya.
Sejauh ini hampir semua sudah mampu Ia taklukan, hanya tinggal satu orang saja. Ia tahu ini sangatlah sulit namun bukan berarti tidak mungkin.
***
Nayla hanya berdiam diri di ruangan nya, sekarang hidupnya jadi serba salah. Keberadaan nya di kantor hanyalah absen di pagi hari dan juga menunggu menjelang sore hari ketika satu persatu karyawan nya membubarkan diri.
Ia malas untuk pulang ke rumah tapi Ia juga bingung harus kemana, tidak mungkin Ia kembali ke rumah orang tua nya dan membuat mereka bersedih karena kehadiran nya di sana.
Tidak ada pilihan lain, jalan satu satu nya hanyalah kembali ke rumah. Ia mengerjakan aktifitas nya kembali sesaat setelah tiba di kediaman nya.
Hingga malam hari tiba Asrul lebih dulu mengambil bantal dan juga selimut dan memindahkan nya di sofa yang terletak di kamar itu. Ia tidak ingin Istri nya itu kabur lagi ke kamar sebelah hanya karena tempat tidur nya Ia tempati.
" Ah tidak apa apa, kamu saja yang tidur di sana biar aku di sini saja " Jawab Asrul.
Kedua nya sama sama diam setelah nya, Nayla langsung tertidur sementara Asrul masih sangat sulit untuk memejamkan mata. Ia hanya memandangi Istri nya dari jarak jauh, ingin rasanya Ia berpindah tempat dan tidur di sana namun logikanya masih menolak nya.
Hari demi hari seperti itulah rutinitas yang mereka lalui, di depan Alwi mereka nampak baik baik saja. Nayla bahkan menyiapkan sarapan untuk suami dan juga anak nya itu.
" Mama..... kenapa Mama selalu berangkat pagi. Papa kan belum sarapan, setiap pagi Papa selalu menanyakan Mama ada di mana. Apa Mama masih belum bisa menerima Papa " Tanya Alwi
Nayla tersenyum, Ia mengurungkan niatnya untuk berangkat lebih dulu.
" Tidak sayang, siapa bilang. Mama sama Papa sekarang Alhamdulillah sudah baik baik saja. Mama memang harus pergi pagi pagi, bukan kah memang Mama berangkatnya selalu seperti itu Nak " Jawab Nayla.
Alwi memang membenarkan ucapan Mamanya, tapi sekarang dan dulu berbeda. Dulu Mama nya hanyalah seorang diri dan sekarang berbeda, ada orang lain yang selalu bertanya dimana keberadaan dirinya setiap harinya.
" Ya sudah terserah Mama, tapi kalau boleh Alwi hanya meminta pada Mama agar Mama bisa meluangkan sedikit waktu Mama. Alwi ingin sarapan bersama, semenjak hadirnya Papa di rumah ini kita bahkan tidak pernah lagi sarapan bersama. Mama semakin sulit untuk ada di rumah "
Usai mengucapkan itu, Alwi langsung melangkah pergi. Nayla memandang kepergian Putranya itu hingga hilang di balik pintu.
Ia pun melakukan hal yang sama, melangkah meninggalkan kediaman nya setelah sebelumnya menitipkan semuanya pada asisten rumah tangga di rumahnya.