
Tidak menyangka ucapannya akan menjadi bumerang baginya, Alya benar-benar bingung langkah apa yang harus Ia ambil.
..." Ah sudahlah tinggal hadir saja beres, lagi pula Pria itu kan membenciku tidak mungkin dia menyetujui permintaan Ibu dan saudaranya itu. Sudahlah, mungkin aku saja yang ketakutan berlebihan pada sesuatu yang belum pasti terjadi "...
Hari yang di tunggu pun tiba, Alya sudah bersiap siap. Hari ini Ia menggunakan gaun pemberian Erik, meski sudah berulang kali Alya menolaknya tetap saja Pria itu gigih memaksakan kehendaknya dan akhirnya Alya hanya bisa menerima nya saja.
..." Apa ini tidak berlebihan Mas, harganya sangat mahal bahkan melebihi gajih ku sebulan "...
" Ini sudah cocok untukmu, kamu tinggal pakai saja dan jangan pikirkan harganya ya "
..." Tapi Mas "...
" Cukup Alya, aku ingin kamu hadir disana seperti yang lainnya. Apa kamu mau mereka semua mencemooh diriku karena tidak memberikan Adikku yang cantik ini gaun yang mewah sedangkan aku mampu membelinya "
..." Cukup Mas, aku Alya bukan Adikmu Mas. Aku hanya seorang pelayan disini, aku tidak mau ada yang cemburu di luar sana karena melihat Mas Erik memperlakukan ku berbeda dari pelayan yang lain "...
" Sudahlah aku tidak mau dengar alasan apapun, kamu terima baju ini atau kamu buang saja. Satu lagi jangan larang aku untuk memanggilmu Adik...... karena kamu memang Adikku " Erik langsung berlalu pergi bahkan meninggalkan Alya yang masih berada di dalam butik langganan keluarga itu.
Mata Alya membulat sempurna mendengar keputusan Erik yang menurutnya egois.
..." Buang.... ? bagaimana mungkin dia mengatakan itu, barang segini bagus dan mahal. Dasar orang kaya, main buang saja kalau tidak suka. Itu lagi, ngapain sih dia ngebet banget memanggilku Adik, apa dia tidak malu mengakui Aku sebagai Adiknya yang notabene nya hanyalah seorang pelayan. Ah.... sudahlah, apalah daya aku ini. Tidak bisa berbuat apa apa, hanya bisa pasrah dan menerima saja yang di takdirkan untukku. Biarkan saja, aku mau lihat sampai mana dia ingin menganggap ku Adiknya, semoga dia cepat bosan dan menyadari kesalahannya yang konyol itu "...
Alya mendengus kesal, itulah akhir dari perdebatan mereka yang berakhir Ia harus memakai gaun itu hari ini. Ponselnya berkedip pertanda ada pesan masuk, Alya pun segera memeriksanya.
..." Aku ada di depan Adikku, cepatlah turun sebelum terlambat "...
Kembali kesabaran Alya di uji, Ia membuka tirai dan melihat mobil Erik yang memang sudah terparkir di luar.
..." Haish kenapa sih Pria itu seenaknya saja, dia bahkan tidak bertanya bagaimana pendapat ku. Apa aku mau ikut dengannya atau tidak, mentang mentang dia Bos disini jadi berlaku seenaknya "...
" Bibi.....! Al berangkat dulu ya, maaf... tapi sudah di tungguin Mas Erik di luar. Pekerjaan Alya nanti Alya selesaikan setelah kembali ya Bi "
Alya berlari keluar rumah yang disana sudah di sambut Erik dengan senyum terbaiknya.
..."Mas kenapa sih, kenapa tidak bertanya dulu padaku. Aku bisa naik taksi tanpa harus di antar, Mas kan juga banyak kerjaan di kantor, kok masih sempat sempat nya ngantar Alya sih "...
Bukan Erik namanya kalau di marahin akan minta maaf, Ia akan melakukan apapun yang menurutnya benar. Di dalam mobil Alya hanya diam saja, memandang keluar hingga tak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di tempat tujuan.
Nampak sudah ada beberapa orang yang datang lebih dulu.
..." Masuklah Alya, Mas akan kembali ke kantor. Kalau kamu tidak mau Mas jemput nanti akan ada supir yang jemput "...
Alya pasrah dengan keputusan Erik, semuanya sama saja.
" Bukan dia yang datang tapi tetap saja ada supir, memangnya aku ini apa, Bos kali hah.... capek aku dengan semua ini "
Walau ragu Alya tetap melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah itu, baru saja beberapa langkah Ia sudah di sambut baik oleh pelayanan rumah disana.
..." Non Alya, ternyata sudah datang. Ayo Bibi antar kebelakang, acaranya sudah hampir mulai "...
Alya mengangguk dan tersenyum ramah sekaligus mengikuti langkah kaki wanita yang lebih tua darinya itu.
Alya mengedarkan pandangannya memindai semua yang ada disana, Ia berharap tidak bertemu dengan seseorang.
..." Al ayo sini " Nayla memanggilnya, nampak wajahnya begitu sumringah melihat kedatangan Alya....
Alya mulai mendekat berbaur dengan yang lain, ikut menyaksikan tahap demi tahap acara itu berjalan. Semua nampak bahagia termasuk Alya, Ia larut dalam kebahagiaan itu karena tidak melihat Andre disana.
..." Ayo Al kita kesana, makan makan. Ada banyak makanan lezat, semoga kamu suka "...
Nayla membimbing Alya ke tempat yang di maksud. Sedang asyik memilih santapan mereka di kejutkan dengan kehadiran seseorang.
..." Hai semua, apa kabar. Ya Tuhan, ternyata ada acara disini ya, tega sekali ya aku tidak di undang " Suara wanita itu....
Bu Rossa dan Nayla melemparkan pandangan, mereka bingung datang dari mana wanita itu. Tidak ada undangan untuknya, sudah sangat lama sekali tak nampak barang hidungnya.
..." Kenapa kalian tidak menawari ku makan, bukannya makanan di atas meja juga banyak. Apa sebegitu tidak pentingnya aku buat kalian "...
Lagi lagi yang hadir disana hanya memandang sesaat lalu kembali menikmati hidangan mereka. Bagi mereka untuk apa meladeni pembicaraan orang yang tidak mereka kenal.