Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Tuduhan Keji


Alya sungguh-sungguh dalam pekerjaannya, meskipun gajinya tidak sebesar ketika menjadi pegawai kantoran tapi Ia senang bisa mengerjakan sesuatu yang baik, belum lagi Ia selalu bersyukur karena bisa terbebas dari gangguan Mona sang Tante dengan campur tangan Romi.


Waktu itu Romi tidak tega melihat Alya di paksa melayani Pria hidung belang, Romi akhirnya mampu membebaskan Alya dari cengkeraman Mona dengan ancaman hukum. Semenjak saat itu Alya merasa tenang, meskipun sekali kali Tantenya tetap meminta uang darinya.


" Al, pulang bareng yuk " Ajak seorang teman kerjanya setelah jam giliran pulang kerja tiba.


Biasanya Alya selalu menolak pada ajakan teman kerjanya itu, karena biar bagaimana pun juga temannya itu adalah seorang Pria, dan dia begitu trauma dengan mahluk Tuhan yang berstatus Pria.


Satu satunya Pria yang bisa membuatnya nyaman dan percaya saat ini hanyalah Romi, Pria yang selalu ada untuknya bahkan sering kali menolongnya saat dalam masalah.


" Ayolah Al, kamu selalu menolakku setiap kali aku ajak pulang bareng, apa aku semenakutkan itu " Tanya Erik seorang Pria yang selama beberapa minggu ini selalu memperhatikan Alya.


Alya tak sampai hati melihat wajah memelas Pria itu jadi Ia putuskan untuk ikut dengannya, sebenarnya Pria itu adalah Pria baik baik hanya saja trauma yang Alya alami membuatnya enggan.


Bersamaan dengan itu sebuah mobil melewati tempat itu, melihat Alya berboncengan dengan Pria lain, ada rasa semakin tidak suka.


" Dasar wanita murahan, jajakanlah tubuhmu itu sesukamu, sampai berapa Pria yang kamu inginkan "


Alya menoleh dan tiba tiba matanya tertuju pada mobil yang kacanya mulai menutup. Jantungnya tak karuan ketika tanpa sengaja matanya bertabrakan dengan sang pengendara mobil.


Tidak menutup kemungkinan, rasa cinta itu masih ada namun Ia harus coba tekan karena Ia sadar status nya hanya gadis biasa. Ia tidak ingin di permalukan lagi oleh keluarga terpandang itu.


" Sudah siap Alya, kita berangkat sekarang " Tanya Erik membuyarkan lamunan Alya.


" Iya Mas " Sahut Alya.


" Bismillah dulu Al, biar selamat sampai tujuan "


Sebenarnya Erik hanya ingin membuat Alya merasa nyaman dengannya.


" Sudah Mas sejak tadi, apa kita bisa berangkat sekarang " Giliran Alya yang mengajaknya berangkat.


" Oke Al, berangkat..... ! " Erik menirukan slogan sebuah artis terkenal yang kocak.


Erik membawa motor miliknya dengan kecepatan sedang, Ia tidak ingin memberikan kesan tidak baik untuk pertama kali.


" Al, sepertinya mobil di belakang ngikutin kita dari tadi ya "


Alya melirik kebelakang dan terkejut melihat mobil siapa yang di maksud.


..." Kenapa Mas Andre mengikuti kami, tidak mungkin kan dia sengaja, mungkin saja ada urusan nya yang searah dengan kami " Batin Alya....


" Al, apa kita kebut saja " Tanya Erik.


" Tidak usah Mas, seperti ini saja. Belum tentu mobil itu mengikuti kita, bisa saja tujuannya searah " Jawab Alya.


Erik mengikuti ucapan Alya meskipun sesekali memperhatikan mobil yang sejak tadi mengikuti mereka.


Alya turun setelah tiba di tempat tujuan, tak lupa Ia mengucapkan terimakasih pada Erik yang sudah membawanya dengan selamat.


" Makasih ya Mas, maaf aku tidak bisa mengajakmu kedalam, karena disini hanya ada aku "


Erik tertawa kecil, Ia merasa lucu pada Alya.


" Tidak apa Al, oh ya aku pulang dulu. Kamu hati hati ya disini, kalau ada apa apa langsung hubungi aku saja oke "


" Bagus ya, berapa lagi Pria yang mau kau gilir "


Alya menoleh melihat siapa pemilik suara itu, hatinya lagi lagi kecewa melihat ternyata yang datang adalah Pria yang di cintainya.


Kecewa dengan tuduhan Pria itu, keji dan tak beralasan.


" Mau berapa banyak lagi sepertinya itu bukan urusan anda Pak Andre, bukan hak anda berkomentar tentang kehidupan saya " Alya menekan setiap kata yang di ucapkan nya menutupi rasa kecewa di hatinya.


Cepat cepat Ia masuk kedalam kontrakan menutupnya dan merosot ke lantai, menangis atas rasa sakit mengenai tuduhan yang Andre tujukan padanya.


Sebegitu hinanya dirinya sampai Ia di tuduh seperti itu, bahkan Ia selalu menghindari para Pria bagaimana mungkin dirinya di tuduh seperti itu.


Sementara Andre meninggalkan tempat itu, Ia memukul mukul setir miliknya.


" Kenapa Al, kenapa kamu menghianatiku. Menghianati cinta ini "


Kedua insan itu pergi dengan rasa kecewa masing masing.


***


Alya kembali bekerja, setelah kejadian itu dirinya semakin menutup diri pada Pria. Bahkan beberapa kali Erik mengajak dirinya untuk sekedar pulang bersama selalu Ia tolak secara halus.


Tiba tiba tangannya di tarik oleh seseorang ketika Ia jalan jalan menikmati udara di sore hari selepas pulang kerja.


" Kamu siapa, lepaskan aku " Jerit Alya namun orang itu terus menariknya kedalam mobil.


" Terimakasih " Ucap seseorang yang berada di balik setir pada Pria yang sudah membantunya.


" Mas Andre "


" Untuk apa Mas membawaku, cepat turunkan aku " Pinta Alya namun Andre tidak mengindahkan nya dan semakin melajukan mobil miliknya hingga ke tempat yang sunyi.


" Apa yang akan kamu lakukan " Tanya Alya ketakutan karena Andre tiba tiba seperti kerasukan.


Ia melompat ke kursi belakang dan langsung mendekap Alya dengan kuat, mel**** bibir gadis itu tanpa ampun. Alya terus berontak namun tenaganya kalah kuat, hingga akhirnya hanya tangis yang mampu mewakili kehancuran hatinya.


..." Sial kenapa rasanya manis sekali " Batin Andre....


Ia baru berhenti ketika sama sama hampir kehabisan oksigen, sementara Alya menangis sesegukan tanpa suara, tubuhnya berguncang mengiringi sakit di bibir dan di hatinya.


" Tidak usah pura pura menangis, bukankah kau sering melakukan ini. Tenang saja aku akan memberikan mu uang banyak "


Andre meraih satu amplop dan memberikan nya pada Alya dengan kasar. Alya hanya tertunduk menangis ketakutan.


" Munafik, aku akan memberikan mu uang lebih kalau kau mau melayani ku semalam saja "


Entah sudah berapa banyak hinaan yang Andre berikan, membuat Alya ketakutan dan semakin menangis.


" Cepat turun sana, dasar wanita tidak berguna "


Andre mengusir Alya dan mendorong nya keluar dari mobilnya dan meninggalkan nya begitu saja tanpa rasa kasihan.