
Anggun menarik nafas lega karena bisa membuat Erik meninggalkan ruangan tempat Pak Hendrik di rawat. Sementara Erik masih saja penasaran dengan yang terjadi pada Ayahnya, apalagi mendengar ucapan Suster dan tingkah Ibu tirinya itu.
" Kenapa kau tidak mati saja Mas, biar aku jadi janda. Ha ha ha janda, ya.... janda kaya raya "
Segala cara di lakukan anggun namun tak satupun yang berhasil.
" Ah sial, kenapa dia selalu beruntung " Gerutu Anggun.
Bagaimana bisa setiap punya rencana selalu saja ada yang membuatnya gagal. Seperti kali ini Anggun menjadi gugup karena perbuatan nya hampir saja kepergok oleh Dokter yang menangani Pak Hendrik.
" Ada apa Bu " Tanya Dokter Renaldi ketika masuk kedalam ruangan itu.
" Ah Pak, Pak Dokter. Hm.... tidak apa apa, tadi saya hanya membantu membenarkan bantal suami saya, biar Ia agak merasa nyaman, siapa tahu dengan itu bisa membuatnya segera siuman " Jawab Anggun, Ia mencoba bersikap setenang mungkin.
Dokter kembali memeriksa keadaan pasien dan sesekali mencuri pandang pada Anggun yang berdiri tidak jauh darinya.
" Oh ya Bu, pasien sudah mulai membaik, kalau Ibu ingin pulang untuk istirahat silahkan. Biar pasien nanti di jaga sama Suster disini "
Anggun tidak suka mendengar ucapan Dokter, Ia menjadi kesal. Bagaimana bisa Pria yang sudah sekarat di katakan baik baik saja.
" Tidak Dok, biar saya saja yang menjaga suami saya. Lagipula suami saya pasti akan senang ketika siuman nanti langsung melihat saya Istrinya "
Dokter itu pun tersenyum sinis, membayangkan ucapan seseorang padanya sehari sebelumnya.
..." Ternyata yang di katakan Pak Erik benar, orang ini punya tujuan tidak baik "...
" Oh ya, tapi Pak Erik sudah menyewa seorang perawat khusus untuk merawat Pak Hendrik. "
Anggun terkejut mendengar penuturan Dokter.
" Perawat khusus Pak, Erik ? bagaimana bisa Pak. "
..." Bagaimana mungkin Erik mencari perawat khusus untuk Mas Hendrik, bahkan tanpa diskusi terlebih dulu denganku. Sekarang aku jadi semakin susah untuk menjalankan rencanaku. Erik...... ! Rupanya anak ingusan itu tidak bisa di pandang remeh. Aku pikir dia hanya anak ingusan yang mudah untuk di singkirkan, ternyata aku salah besar " Batin Anggun...
" Tentu saja Bisa Bu, ini di lakukan Pak Erik juga demi anda Bu. Pak Erik tidak ingin Ibunya kelelahan karena berjaga siang dan malam di RS, seharusnya anda bersyukur karena Pak Erik begitu peduli kepada Anda dan menginginkan anda untuk beristirahat agar tidak mengganggu kesehatan anda " Ucap Dokter Renaldi penuh penekanan pada setiap ucapannya.
..." Sial " Maki Anggun dalam hati....
Tidak berselang lama pintu ruangan itu di ketuk seseorang.
" Masuk "
" Assalamu'alaikum Dok, maaf saya terlambat "
Dokter tersenyum menyambut kedatangan wanita itu.
" Oh tidak apa apa, mari masuk. Hm..... ini Pak Hendrik yang saya maksud, kondisinya sudah mulai membaik. Kamu hanya perlu memantau kondisinya saja dan laporkan setiap ada perkembangan. Apa kamu sudah faham "
" Baik Pak Dokter, saya akan merawatnya dengan baik. Dokter tenang saja "
Keduanya melirik sebentar kearah Anggun dengan pemikiran yang sama, sementara Anggun makin dilanda kekesalan tingkat tinggi. Ia memperhatikan penampilan wanita yang ada di depannya, wanita yang akan selalu berada di samping suaminya selama beberapa hari kedepan.
..." Sialan, ternyata Erik benar benar menyewa perawat khusus untuk Mas Hendrik, mana penampilannya seperti ini. Cantik dan juga masih muda, hish benar benar sialan. Bagaimana kalau Mas Hendrik nanti tergoda dengannya dan aku terbuang "...
Ketakutan melanda hati Anggun ketika mengetahui perawat yang di kirimkan Erik untuk Ayahnya.
" Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu, Selamat bertugas ya. " Dokter menyalami tangan perawat khusus itu sebelum keluar.
Langkahnya terhenti di depan pintu karena menyadari sesuatu.
" Bu Anggun, apa anda tidak ingin kembali ke rumah dan istrahat. Bukankah suami anda sudah ada yang merawatnya, terkecuali kalau ada yang anda rencanakan "
Bak di sambar petir, Anggun lagi lagi terkejut dengan ucapan Dokter. Wajahnya berubah masam, sementara sang Dokter melenggang keluar dengan senyum penuh kepuasan.
" Hish, awas lo "
Anggun menghentakkan kakinya dan ikut keluar, Ia benar benar murka pada anak tirinya dan juga pada perawat yang di kirimkan nya itu.
***
Perawat yang di kirimkan khusus oleh Erik itu merawat Pak Hendrik dengan baik, Ia merasa kasihan melihat wajah pucat Pria itu.
" Sepertinya dia orang baik, tapi kenapa ada orang yang ingin menyakitinya. Hah..... dunia dunia, ternyata bukan hanya aku yang tidak punya apa apa ini yang punya masalah bahkan orang kaya juga punya masalah, dan anehnya ada yang begitu sangat membenci nya dan menginginkan kematiannya. Huffftt..... Tapi Bapak tenang saja, saya akan merawat Bapak dengan sungguh-sungguh. Saya akan pastikan tidak akan ada yang bisa melukai Bapak kalau perlu nyawa saya sebagai taruhannya " Gumam sang perawat.
Ia dengan senang hati menjalankan tugasnya, apalagi mengingat Erik yang begitu mempercayakan tugas untuk merawat sang Ayah itu padanya.
" Aku tidak akan mengecewakan kalian "
Rona bahagia sangat jelas terpancar di wajahnya, berbanding terbalik dengan wajah seseorang yang berada di balik kaca yang sejak tadi sedang menyaksikan gerak gerik sang perawat, tentu saja dengan geram.