
" Sial, apes banget aku hari ini. Apa dunia ini sesempit ini, sehingga kemana pun aku pergi harus selalu bertemu dengannya " Umpat Andre kesal.
Ingin rasanya Ia putar balik tapi pekerjaan nya sangatlah penting baginya, hatinya mendidih melihat Alya ngobrol dengan seorang Pria. Amarahnya menggebu ingin rasanya menghabisi Pria itu.
Aww, sakit " Rintih Alya pelan sembari memegang pundaknya yang terasa sakit karena di senggol seseorang, tubuhnya bahkan sampai mundur kebelakang saking kuatnya senggolan itu.
" Wanita murahan " Bisik Andre ketika melewati Alya.
Ya Tuhan kenapa orang ini ada disini dan selalu seperti ini ucapannya, tidak bisakah dirinya berkata sopan padaku. Sehina inikah aku dimatanya.
" Hei Bro hati hati jalannya, jangan main asal tabrak saja " Tegur Erik tidak terima.
" Sudah Mas sudah, biarkan saja, lagi pula aku tidak apa apa " Alya menahan Erik yang ingin memberi pelajaran pada Andre.
" Tapi dia sudah keterlaluan, masa nggak melihat orang segede ini main tabrak saja" Erik masih saja emosi tidak terima dengan perbuatan Andre.
Sementara Andre melangkah pergi dengan sikap angkuhnya tidak merasa bersalah sama sekali. Terlihat mulutnya yang komat kamit entah apa yang di ucapkan nya.
Alya menguatkan hatinya dan kembali melakukan tugasnya.
" Masuk " Suara dari dalam ruangan mempersilahkan.
Andre melangkah memasuki ruangan itu
" Eh Ndre sudah tiba, silahkan duduk " Pinta Asrul namun yang di perintahkan tak kunjung duduk.
" Hei ada apa, apa ada masalah. Wajahmu sepertinya lagi kesal "
Andre menghempaskan bokongnya di kursi dengan menarik nafas berat.
" Kenapa wanita itu ada disini, apa dia juga karyawan disini " Tanya Andre
" Wanita, wanita siapa Ndre " Asrul balik bertanya.
" Siapa lagi kalau bukan wanita mur
" Cukup Mas, kenapa selalu kata itu yang Mas ucapkan. Dia punya nama, apa begini sifat aslimu, dimana Mas Andre yang aku kenal dulu, ucapannya yang lemah lembut selalu menghargai orang lain apalagi wanita. Apa ini hasil dari sekolah tinggi di luar negeri, bicara ceplas ceplos nggak ada etika. Mulut laki laki tapi kaya perempuan, aku kecewa padamu " Ucap Nayla dengan suara lantang.
Asrul hanya melongo melihat kedatangan sang Istri yang tiba tiba, bukan hanya itu, yang membuatnya terkejut adalah ucapan Istrinya itu. Ia tidak menyangka kalau Nayla bisa berbicara pada Kakaknya dengan kasar, karena selama ini mereka saling menghormati.
" S sayang... kapan datangnya, kenapa tidak kabarin dulu kalau mau datang "
Asrul merentangkan tangannya memeluk Istrinya itu dan melayangkan kecupan sayang padanya. Sementara Andre jadi salah tingkah, Ia bingung harus mencari alasan demi membela diri pada adiknya itu.
Selama ini Ia memang selalu menyayangi adiknya itu, bahkan tidak pernah sekalipun Ia berkata kasar.
" Tapi Nay dia memang pantas mendapat sebutan itu, seharusnya aku menyebutnya ****** atas semua perbuatannya yang memalukan itu "
Darah Nayla mendidih Ia mengayunkan kembali tas miliknya hendak menggebrak meja kerja suaminya namun Asrul dengan sigap menangkapnya.
" Cukup sayang " Asrul merangkul Nayla
" Mas, sebaiknya Mas pulang sekarang, soal urusan kita nanti kita bicarakan lagi "
Asrul terpaksa mencari aman dengan meminta Andre keluar dari ruangannya agar Istrinya bisa sedikit tenang, dengan cepat Andre meninggalkan ruangan itu sambil geleng geleng kepala.
Sebenarnya hatinya sangsi dengan pemikirannya tentang Alya, tapi egonya yang sangat tinggi membuatnya buta apalagi melihat Alya bersama Pria lain, hinaan itu langsung keluar dari mulutnya tanpa bisa Ia kendalikan.
" Lepas Mas, aku harus mengajarkan nya agar tidak berlaku semena mena pada orang lain, menuduh orang lain tanpa bukti itu menyakiti orang lain dan juga melanggar hukum " Nayla berontak dan Asrul terpaksa memeluk nya erat agar Istrinya itu diam.
" Sayang tenang, aku bukan melarang mu untuk mengejar Mas Andre, aku bahkan mendukung mu kalau kamu memang ingin menghajarnya. Tenang ya sayang, tenang " Bujuk Asrul sembari mengelus elus punggung Istrinya agar merasa tenang.
Nayla mengurai pelukan Asrul menatap mata Suaminya itu, mencoba mencerna ucapannya.
" Hm " Jawab Asrul masih memegang tangan Nayla.
" Lalu kenapa tadi Mas mencegahku, seharusnya sudah aku tampar wajahnya " Nayla masih sangat emosi.
" Iya sayang, kamu tadi bukan mau menampar nya tapi menggebrak meja dengan tas mu. Aku hanya kasihan sama ponselmu "
Bukan tanpa alasan Asrul melakukan itu, cukup kemarin ponsel Istrinya itu pecah karena menggebrak meja dengan tasnya. Masa baru beli beberapa hari di hancur lagi.
" Oh maaf Mas, tapi dia keterlaluan Mas "
Baru saja suaranya lemah karena menyadari kekeliruan nya, tapi kemudian suara itu kembali meninggi karena emosinya yang masih menggebu-gebu.
" Dasar wanita sialan, gara gara dia aku di musuhi adikku sendiri, awas saja kalau bertemu aku akan buat perhitungan dengan mu " Andre masih saja mengumpat tak karuan
***
Erik menarik nafas berat, Ia sangsi dengan apa yang Ia lakukan.
" Apa aku salah menyetujui ide mereka, kalau hal ini berlangsung lama aku kasihan padanya. " Gumam Erik di dalam mobil miliknya.
Menunggu beberapa saat akhirnya Erik keluar dari dalam mobil miliknya setelah melihat Alya keluar dari kantor tempatnya bekerja.
" Al, ayo masuk ikut aku "
" Terimakasih Mas atas tawarannya tapi aku bisa pulang sendiri " Tolak Alya halus.
" Aku sedang tidak menawari mu tapi menculik mu "
Dahi Alya berkerut
" Ada ya orang yang ingin menculik tapi ngomong dulu "
" Memang nggak ada ya, kalau begitu aku yang memulainya. Ayo tuan putri aku ingin menculik mu "
Alya enggan untuk ikut Ia terus menolak secara halus berharap Erik akan mengerti. Tiba tiba tangannya di tarik keras oleh seseorang.
" Sini ikut aku "
Baik Erik dan Alya sama sama terkejut melihat siapa yang datang dan tiba tiba menarik nya dengan paksa. Alya berusaha berontak, Ia benar benar ketakutan.
" Lepaskan tanganku Mas, sakit ini tahu Mas " Rintih Alya.
Erik tidak tinggal diam, Ia melepaskan bogem mentah di perut dada dan juga kaki yang tak luput dari terjangan nya.
" Dasar banci, lepaskan dia. "
Serangan demi serangan keduanya layangkan secara bergantian.
" Bukan urusanmu, jangan campuri urusanku ha.... pahlawan kesiangan "
Karena amarahnya yang membara Erik menghajar Andre membabi buta, seakan kesadarannya hilang, hingga Andre tersungkur dengan darah keluar dari mulut hidung dan pelipisnya.
" Brengsek lu, aku bisa saja membunuhmu kalau aku mau. "
Erik berhenti ketika melihat Alya duduk di pinggir jalan sambil menangkup kan kepalanya pada kedua lututnya, tubuhnya bergetar karena ketakutan.
" Kalau cinta bilang cinta, jangan pikirkan ego. Jangan sampai orang yang kamu cintai lepas dari tanganmu. Kejarlah selagi kesempatan itu ada, jangan sampai semua hilang dan kamu menyesal dengan sesal yang terlambat dan tidak berguna "
Erik meninggalkan Andre dan meraih tangan Alya lembut membawanya kedalam dekapannya.