Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Bantu Mama Nak


Ketiga insan yang berada dalam mobil itu mempunyai pemikiran nya sendiri sendiri. Nayla yang gelisah karena takut rencananya tidak sesuai dengan harapannya, Romi yang nampak khawatir dengan kondisi Nayla, sedangkan Alya yang di landa kebingungan karena tiba tiba Ia di ajak pergi oleh orang yang belum terlalu Ia kenal.


Tiba tiba di tengah perjalanan Nayla merasa perutnya mules, namun sekuat tenaga Ia tetap berusaha menahannya.


" Nayla... ! Apa kamu baik baik saja, sepertinya kamu kesakitan. Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja, siapa tahu sudah waktunya kamu melahirkan " Romi memberanikan diri membuka suara.


..." *Tidak.... ! aku tidak akan melahirkan sekarang, aku harus bisa menyelesaikan masalah ini lebih dulu....


Nak... ! Mama mohon bantu Mama, bukannya Mama tidak ingin secepatnya bertemu denganmu, tapi kita tidak mungkin mengijinkan orang luar yang kejam itu merusak keluarga kita lagi, apalagi menyakiti Om Andre yang sudah begitu banyak dan berjasa pada Mama dulu. Ayo sayang, yang kuat. Bantu Mama " Batin Nayla seakan berbicara pada janin yang ada di rahimnya*.


" Pak sebaiknya kita ke rumah sakit saja, tidak ada yang lebih penting dari seorang Ibu yang mau melahirkan " Timpal Alya juga yang ikutan khawatir.


" Sudah cukup, apa kalian tidak bisa diam. " Teriak Nayla.


" Romi, buruan sebelum semuanya terlambat " Perintah Nayla lagi.


Romi tidak bisa berbuat apa apa, sebenarnya Ia juga bingung ada apa sebenarnya.


..." Ya Tuhan.... aku jadi serba salah, satu sisi kalau aku tidak menurutinya maka masa depanku akan hilang, disisi lain kalau sampai terjadi sesuatu padanya, bukan hanya masa depanku yang hilang tapi nyawaku sekalian. Ya sudah Rom, turuti saja apa maunya. Jangan sampai dia marah dan burung dalam sangkar milikmu akan ikut hilang. Semoga saja Nayla tidak kenapa kenapa dan kamu akan aman . "...


Di tempat resepsi, Dira sudah selesai di rias. Ia memperhatikan wajahnya di pantulan cermin, mengagumi kecantikannya serta kepandaiannya.


" Hm.. kamu sangat cantik Dira, dan kamu juga pandai. Kamu pantas mendapatkan semua ini, sebentar lagi semua mata akan memandang kagum padamu. Semua teman temanmu pun akan merasa iri padamu, ah bahagia sekali rasanya. Semoga semuanya lancar dan tidak ada pengganggu " Gumam Dira.


Beberapa perias membawa Dira ke aula atas permintaan Bu Rossa karena acaranya akan segera di mulai. Dengan senyum penuh percaya diri Dira melangkah menghampiri Andre yang sudah duduk disana lebih dulu di apit oleh kedua orang tuanya.


Sebenarnya Ia terpaksa duduk disana, Ia hanya bisa berharap ini semua hanya mimpi. Bahkan ketika Dira duduk dan tersenyum manis di sampingnya Ia semakin muak melihatnya.


" Semuanya sudah berkumpul, bagaimana Pak. Bisakah kita mulai sekarang " Pak Burhan.


" Senyum palsu " Cibir Andre.


" Sayang ! Apa kita akan mulai acaranya, tapi Nayla belum nampak sejak tadi, dimana dia Mas. Aku khawatir kalau kalau terjadi sesuatu dengannya "


Burhan berusaha menenangkan Istrinya itu kalau ke khawatirannya tidak mendasar, atau dengan kata lain terlalu berlebihan.


" Sudahlah sayang, kan ada Asrul suaminya. Dia tidak akan tinggal diam kalau benar telah terjadi sesuatu pada Nayla, cobalah duduk dengan tenang agar kita bisa menikmati acaranya " Bisik Burhan.


Tidak berselang lama Rossa melihat seseorang yang begitu sangat di kenali nya berdiri di depan sambil memperhatikan hampir seluruh tamu undangan, Ia terkejut ketika mengetahui ternyata itu adalah menantunya yang datang seorang diri.


" Mas, coba lihat disana. Itu kan Asrul, kenapa dia datang sendiri, mana Nayla "


Burhan pun mencari arah yang di tunjukkan Istrinya dan langsung bergegas menemuinya.


" Ayah, Ibu..... ! Apa Nayla ada disini " Tanya Asrul langsung.


Burhan dan juga Rossa sama sama terkejut


" Dia tidak ada disini Nak " Jawab Rossa


Burhan yang tadi santai saja kini mulai ikutan panik.


" Kamu ini bagaimana sih Rul, Istri pergi kemana kamu tidak tahu, apalagi hamil besar seperti ini. Kamu buat khawatir saja "


Burhan mulai mengeluarkan ponsel miliknya dan menghubungi Nayla namun hingga beberapa kali panggilan tetap tidak terhubung juga.


Mereka terpaksa kembali ke tempat duduk mereka masing masing karena penghulu sudah beberapa kali melirik kearah mereka.


" Terus hubungi dia Rul, Ayah tidak mau tahu, kamu harus mencari nya sampai ketemu " Perintah Burhan sebelum kembali ke tempat duduknya.


Acara pun segera di mulai, penghulu mulai membacakan apa yang harus di ucapkan Andre. Andre nampak melamun saja bahkan sejak tadi omongan orang orang di sekitarnya nampak tidak di dengar olehnya, hingga membuat penghulu dan saksi sambil melempar pandang.