Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Kembali bekerja


Rena membuka kotak hadiah pemberian Nayla, Ia terkejut melihat isi dari kotak tersebut.


" Masya Allah Mas, ini ~~ "


Andre ikut duduk di samping Istrinya dan ikut melihat isi salah satu kotak hadiah yang di berikan adik perempuan nya beberapa jam yang lalu.


Andre nampak biasa saja karena sudah bisa Ia tebak apa isi kotaknya. Adiknya pasti akan memberikan perhiasan untuk pendatang baru di keluarga nya.


" Ini untuk apa Mas, Rena sudah punya banyak. Apa kita kembalikan saja pada Nayla, kasihan Mas ini harganya pasti sangat mahal "


Andre hampir menepuk jidatnya sendiri mendengar ucapan istrinya.


" Jangan di kembalikan dong sayang, ini adalah hadiah dari seorang adik pada kakaknya yang sedang berbahagia. Apa kamu ingin membuatnya sedih dan kecewa karena mengetahui pemberian nya tidak di terima dengan baik "


Rena menggeleng pelan


" Tidak Mas, baiklah ini kita simpan saja. Tidak mungkin kan kalau aku pakai juga " Andre mengangguk


Ia menatap salah satu kotak yang belum di buka oleh Istrinya.


" Sayang, itu ada satu kotak lagi belum di buka "


Rena meraih kotak itu dan membukanya dengan hati deg deg-an. Perlahan Ia buka bungkus kotak itu.


" Astaghfirullah "


Wajah Rena pucat seketika ketika melihat isi kotaknya, bahkan karena terkejut kotak di tangannya itu langsung terlempar dan isinya pun berserakan di lantai.


Andre meraih benda yang berserakan di lantai itu dan memperhatikan dengan seksama. Berbeda dengan Rena, Andre justru tersenyum bahagia. Untuk kedua kalinya Adiknya itu memperhatikan keinginan nya, otak erornya sudah mulai travelling membayangkan sosok di balik benda yang Ia pegang itu.


" Buang saja itu Mas, aku nggak mau pakai "


Andre tidak ingin menggoda Istrinya yang memang masih nampak trauma dengan masalah ranjang. Bahkan setelah kejadian malam indah itu sampai sekarang mereka belum mengulangi nya lagi, bukan Andre tidak berani. Hanya saja Ia tidak ingin memaksakan Istrinya yang nampak ketakutan setiap kali mereka intim dan mengarah ke hal yang lebih serius.


" Mas, apa aku boleh kembali bekerja lagi " Tanya Rena yang mulai merasa bosan di rumah.


" Apa kamu tidak nyaman di rumah sayang "


Rena dengan cepat menggeleng


" Nggak Mas, hanya aku ingin kembali bekerja saja, ya itu pun kalau boleh "


Andre tentu tidak akan tega menolak keinginan Istrinya.


" Baiklah sayang, kamu boleh kembali bekerja tapi ingat, jangan terlalu capek. Aku tidak mau kamu kenapa kenapa "


Rena merasa senang mendengar izin dari suaminya, tadinya Ia sempat berpikir bahwa Andre tidak akan mengijinkan nya kembali bekerja.


Pagi hari Rena sudah rapi dengan seragam kantornya, sangat cantik hingga membuat Andre merasa tidak ingin mengijinkan Istrinya itu keluar rumah.


Rena membantu menyiapkan sarapan untuk penghuni rumah, meskipun awalnya Ia di larang oleh Rossa namun Rena beralasan ingin belajar untuk menjadi Istri yang baik, alhasil Rossa pun mengijinkan menantunya itu.


" Mas antar ya sayang "


Rena langsung menggeleng cepat, Ia tidak mau merepotkan suaminya itu.


" Biar aku bawa mobil sendiri saja Mas, nggak apa apa kan "


Lagi lagi Andre tidak bisa menolak keinginan Rena, Ia hanya bisa mengijinkan dan berharap Istrinya baik baik saja di luar tanpa dirinya.


" Ya sudah sayang, tapi hati hati. Hubungi Mas kalau kamu sudah tiba di kantor "


Rena mengangguk lalu berpamitan, Andre menunggu Rena mencium tangannya namun Istrinya itu tidak juga melakukan nya. Justru malah nampak Ia kebingungan.


Andre akhirnya mengangkat tangannya dan Rena pun menyambut nya setelah paham apa maksud dari suaminya itu.


Akhirnya Rena pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Andre yang masih memandangi mobil yang Ia kendarai.


" Eh pengantin baru, kok balik lagi bekerja. Apa suami mu mengijinkan mu untuk bekerja " Tanya rekan kerja Rena.


Rena mengangkat pelan kedua pundaknya secara bersamaan.


" Memangnya ada yang salah dengan menjadi pengantin baru dan kembali bekerja lagi, bukankah wajar "


Rekan kerja Rena tertegun


" Nggak ada yang salah sih Ren, hanya saja suami mu kan orang kaya tanpa kamu bekerja pun kebutuhan kamu pasti bisa terpenuhi "


Rena mengangkat kembali kedua pundaknya pelan dan langsung duduk.


" Aku hanya mengingat pernikahan dulu "


Rena menatap rekan kerjanya itu, Ia tidak tahu sebelum nya bahwa wanita itu sudah pernah menikah.


" Kamu sudah pernah menikah " Tanya Rena dan di jawab anggukan pelan.


" Oh terus sekarang suami mu ada dimana "


" Kami sudah pisah lama sekali, bahkan saat pernikahan kami baru berusia dua minggu "


Nampak kesedihan di raut wajah wanita yang umurnya tidak terpaut jauh dengan Rena. Kening Rena mengerut mendengar penjelasan rekannya itu.


" Dua minggu, kok bisa " Tanya Rena seakan tidak percaya.


" Iya, buktinya kami benar benar pisah kan "


Rena manggut-manggut seperti burung beo.


" He em sih, tapi apa alasannya dan apa kamu tidak berusaha mempertahankan nya " Tanya Rena pelan, sangat pelan bahkan suaranya hampir tak terdengar.


" Aku sudah berusaha mempertahankan nya namun semua ini salah ku, aku tidak bisa berbuat apa apa. Aku yang terlalu sibuk bekerja dan tidak ingin melayani nya sehingga Ia mendapatkan kenyamanan dari wanita lain di luar sana "


Rena masih tidak mengerti apa maksud dari wanita itu.


" Melayani, bukankah kamu bisa menyediakan sarapan dan juga semua keperluan nya sebelum berangkat bekerja, aku rasa itu masih bisa di lakukan meskipun sibuk "


Wanita di depannya itu tertawa miris, sangat miris bahkan Ia sampai meneteskan air mata karena masih merasa sedih sampai saat ini.


" Aku sudah melakukan itu semua sebelum berangkat bekerja, tapi bukan melayani itu yang di maksud "


" Bukan itu, lalu apa " Tanya Rena semakin bingung bercampur penasaran.


" Soal ranjang Ren, dulu aku tidak melayani nya dengan benar. Karena aku sibuk bekerja dan selalu kelelahan setelah pulang, belum lagi aku yang waktu itu takut di sentuh karena rasa sakit yang aku alami di malam pertama ketika suamiku merenggut barang berharga milikku. Aku selalu menolaknya ketika Ia menginginkannya "


Rena mulai merasa resah mendengar cerita rekan kerjanya itu.


" Masa sih bisa gitu, kejam bener sih. Masa hanya karena nggak dapat jatah begituan dia ninggalin kamu "


Wanita itu menghela nafas berat sebelum melanjutkan ucapan nya.


" Lelaki itu tidak akan kuat menahan hasratnya, meskipun di depan kita Ia nampak baik baik saja tapi jangan sampai kita menganggap remeh. Mungkin dia baik baik saja karena dia sudah mendapatkan kenyamanan di luar sana "


Saking asyiknya berbincang mereka sampai lupa jam kerja sudah tiba.


" Ah iya Ren, ini sudah jam kerja, aku balik kerja dulu. Kamu jaga dia baik baik ya sebelum kamu menyesal "


Rena mengangguk pelan, Ia kembali ke kursi kerjanya setelah rekan nya pergi.