Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Mengulik info


Setelah kepulangan Alya Pak Hendrik duduk di dalam kamar rawat Erik, Ia memandang tubuh Putra tersayang nya itu. Banyak pertanyaan yang muncul di benaknya saat ini yang ingin Ia tahu jawabannya.


..." Aku harus cari cara agar Erik mau mengatakan nya, aku tahu dia mengetahui sesuatu tentangnya namun masih berusaha Ia tutupi. Baiklah Nak, Papa tahu bagaimana caranya membuatmu mengatakan nya" Gumam Pak Hendrik....


Sementara Erik yang tengah berada di alam bawah sadarnya memimpikan seorang gadis kecil yang menangis terisak di tengah sebuah tempat yang sangat asing baginya.


..." Hai Dek, kenapa menangis disini, sini sama Kakak, sudah jangan nangis lagi, jangan takut lagi " Bujuk Erik....


Ia memeluk anak perempuan itu, mengelus kepalanya lembut namun gadis kecil itu tetap saja menangis membuat Erik menatapnya dengan iba. Tiba tiba Ia teringat seseorang ketika melihat gadis kecil itu


..." Re... Renata..... ! "...


" Kakak, kakak kemana saja. Kenapa tidak menjemput ku, kalian jahat.... tidak ada yang sayang padaku. Semua melupakan ku, tidak ada yang peduli padaku " Isak tangis gadis itu.


Erik ingin memeluknya kembali namun gadis itu meronta dan melarikan diri.


..." Kakak jahat, Papa.... Mama semuanya jahat, tidak ada yang menginginkanku " Teriaknya sembari berlari menjauh....


" Re....... Re....... Renata.......! " Teriak Erik sekuat tenaga.


Karena mimpi itu Ia terbangun dari tidur panjangnya, Pak Hendrik yang baru saja memejamkan mata akhirnya terbangun karena terkejut dengan suara Erik.


" Nak...... ! Kamu, kamu sudah sadar. Alhamdulillah...... kamu sadar juga. Sebentar, Papa panggil Dokter dulu "


Betapa bahagianya hati Pria dewasa itu setelah beberapa hari anaknya di rawat di RS dan akhirnya siuman. Namun Ia bertanya-tanya dari mana Erik bisa mengetahui nama itu dan kenapa Ia terbangun sembari meneriakkan nama itu.


..." Aneh, kenapa dia berteriak memanggil nama Renata, apa dia bermimpi atau apa.....!...


Ingin rasanya Pak Hendrik menanyakan langsung kenapa Putranya itu berteriak memanggil nama seseorang yang sangat berarti di keluarga mereka, namun Ia tidak ingin membebani pikiran anaknya yang baru saja bangun dari mimpi panjangnya.


Beberapa Dokter segera datang keruangan itu setelah mendapat panggilan dari ruangan Pak Hendrik. Dokter begitu fokus menjalankan tugasnya.


Erik memandang sekeliling mencari seseorang yang sangat Ia rindukan namun tidak nampak disana.


..." Kamu di mana Al, apa kamu nggak nungguin Mas disini. Kamu pasti di rumah, Mas akan segera pulang, rasanya Mas sudah lama tidur disini. "...


Erik melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dan benar saja tanggalnya sudah sangat lama semenjak terakhir kali Ia melihatnya.


..." Itu kan, ah seafood lagi. 10 hari aku disini karena makanan itu, tapi tidak apa apa, semoga keadaan nya baik baik saja " Batin Erik....


" Dok, apa saya sudah boleh pulang sekarang, saya sudah merasa sehat dan saya ingin cepat pulang. Tolong Dok, lepaskan selang infus nya " Pinta Erik dengan penuh semangat.


Pak Hendrik bergegas menghampiri Putranya dan memenangkan nya.


..." Rik, kamu itu baru saja siuman dan belum boleh terlalu banyak bergerak. Kamu harus di rawat disini untuk beberapa hari lagi, Dokter harus memastikan apa kamu sudah benar benar pulih atau belum. Kalau belum ya kamu harus di rawat lebih lama lagi "...


Erik menatap sang Ayah, dari tatapan nya seolah memohon agar segera di ijinkan pulang ke rumah. Namun sayangnya sang Ayah tetap teguh pada pendirian nya.


Sejak siuman Erik selalu menuruti ucapan Dokter, bahkan makanan yang di bawakan untuknya langsung di habiskan nya dengan secepat kilat.


" Papa.... ! kapan aku bisa pulang, lihatlah aku sudah sembuh. Sebenarnya tes apalagi sih yang belum aku jalani, segeralah lakukan Pa, aku ingin cepat pulang " Erik sudah mulai kesal karena mulai tidak sabar.


" Pa..... ! apa ada yang Papa sembunyikan dari aku. " Tanya Erik mulai curiga.


Ingatan nya langsung tertuju pada kejadian beberapa hari yang lalu.


..."Alya, apa dia baik baik saja Pa.... ! " Tanya Erik kemudian....


Pak Hendrik menatap Erik sekilas dan kemudian kembali duduk, Ia menarik nafas berat. Hal itu semakin membuat Erik berpikiran buruk bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu.


..." Maaf Rik, tapi Alya..... ! " Pak Hendrik enggan melanjutkan ucapannya....


" Tidak Pa, jangan bilang kalau Alya.... tidak, itu tidak mungkin. Alya...... tunggu Mas, Al..... ! "


Erik bangun dari tempat tidurnya dan melepaskan infus di tangannya dengan paksa, Pak Hendrik yang melihat itu menjadi panik dan berteriak meminta bantuan. Beberapa orang berdatangan dan langsung menenangkan Erik, Ia kembali di bawa ke tempat tidur, setelah di suntikan obat penenang, tidur tenang seperti bayi.


..." Maafkan Papa Nak, hanya ini yang bisa Papa lakukan. Semoga ada titik terang untuk kedepannya " Gumam Pak Hendrik....


Semenjak kejadian itu setelah sadar Erik lebih banyak diam, pandangan nya kosong. Pikirannya entah kemana, semangat hidupnya seakan tidak ada lagi, bahkan makanan yang di bawakan untuknya tak satupun yang Ia sentuh. Hal itu membuat Pak Hendrik merasa bersalah namun tidak ingin menghentikan rencananya untuk mengulik info tentang masa lalunya.


..." Makanlah Nak, sudah seharian ini kamu belum makan apapun, makanlah walau hanya sedikit saja "...


Erik tidak memperdulikan ucapan sang Ayah, hingga dua hari berlalu keadaan Erik semakin memprihatinkan.


" Nak, makanlah walau hanya sedikit. Bukankah kamu ingin bertemu dengannya, kamu pasti ingin bertemu dengan gadis itu lagi kan ? "


Tidak ada cara lain untuk membangkitkan semangat Erik, mendengar itu seakan sebuah obat mujarab bagi Erik, bibir yang tidak pernah tersenyum itu akhirnya tersenyum.


" Dimana dia Pa, aku ingin bertemu dengannya "


Suara itu, suara yang beberapa hari ini hilang kini tiba tiba terdengar menyebutkan keinginan tulus sang pemilik.


" Kamu harus sembuh dulu, bukankah kamu ingin bertemu dengannya. Tenang saja, dia sudah berada di tempat dimana Ia seharusnya berada "


..." Seharusnya berada, berarti Alya ada di rumah. Alhamdulillah kalau begitu, dia memang seharusnya berada disana. Aku akan segera pulih dan pulang " Batin Erik. Tenaganya seketika berangsur angsur kembali....


" Alhamdulillah Pa kalau dia ada di rumah, seharusnya sejak dulu memang dia ada disana " Ucap Erik dengan mata berbinar.


Pak Hendrik terseyum tipis, kini mulai ada titik terang, Ia harus terus mencari cara untuk mengulik sesuatu yang di ketahui Erik.


" Di rumah, siapa yang bilang kalau gadis itu ada di rumah. Apa alasan yang membuat dia harus tetap tinggal disana "


Erik terkejut mendengar perkataan sang Ayah.


" Bukan di rumah Pa, lalu di mana Alya sekarang " Tanya Erik penasaran.


" Di penjara, memangnya kamu pikir di mana lagi dia harus berada. Bukankah itu hukuman yang tepat untuknya karena sudah mencelakai mu, membuat mu berada di tempat ini dalam waktu yang lama "


Duarrrrrtttt


Bagai sebuah tembakan yang menembak dada Pria itu, terkejut sekaligus sakit hati dan juga merasa bersalah dengan keadaan saat ini, semua jadi kacau.