
Pagi pagi buta Alya sudah bangun guna bersiap siap untuk berangkat bekerja, Ia tidak ingin terlambat di hari pertamanya bekerja.
" Wah wah wah sudah rapi rupanya "
Alya di kejutkan dengan sebuah suara, suara sang Tante Mona yang selama ini mengasuh dirinya sepeninggal kedua orangnya.
" Iya Tante, Alhamdulillah hari ini aku sudah siap bekerja " Jawab Alya bersemangat.
" Hm..... akhirnya kamu menyetujui sendiri tawaran Tante, coba dari dulu kamu mau bekerja disana, hidup kita tidak akan serba kekurangan seperti ini "
Alya hanya menggeleng geleng kepala tidak habis pikir, sifat sang Tante yang suka hura hura dan foya foya selama ini yang membuat mereka belakangan ini kesulitan dalam masalah ekonomi.
Warisan yang di tinggalkan orang tua Alya habis di gunakan untuk bersenang senang.
" Ayo cepat tunggu apa lagi, Tante akan segera mengantarmu kesana agar kamu bisa secepatnya menghasilkan uang untuk kita "
Mona menarik lengan Alya dengan kasar karena Alya sedari tadi hanya berdiri saja.
" Lepas Tante, Tante mau bawa aku kemana " Alya berusaha berontak.
" Bekerja dong, bukankah tadi kamu mengatakan setuju dan siap bekerja " Sahut Mona masih terus menarik lengan Alya.
" Cukup Tante, aku memang ingin bekerja tapi bukan bekerja di tempat yang Tante tawarkan. Aku punya pekerjaan lain yang lebih baik dari pekerjaan yang Tante katakan itu " Teriak Alya sembari berusaha melepaskan pegangan tangan Mona
Mona melepaskan tangan Alya dan tertawa mendengar ucapan Alya.
" Ha ha ha ! Kerjaan yang lebih baik. Tahu apa kamu mengenai masalah pekerjaan baik atau buruk, yang penting bisa mendapatkan uang apa pun pekerjaannya tidak jadi masalah. Lagi pula pekerjaan apa yang kamu katakan lebih baik itu, paling paling jadi pemulung, mana ada orang yang mau menerima orang sepertimu, SMA saja tidak lulus. Sudahlah jangan kebanyakan mengahayal, dari pada kamu jadi pemulung di jalanan dan panas panasan dengan gajih yang pas pasan lebih baik kamu ikut Tante bekerja, hanya tinggal diam di kamar hotel, enak pakai AC tidak harus panas panasan, kamu juga bisa dapat bayaran banyak, apa susahnya " Cibir Mona.
Bagai sebuah tamparan, Mona merasa marah mendengar ucapan Alya yang baginya anak ingusan itu.
" Heh jangan sok suci, anak dari wanita tidak benar berani beraninya mengajari aku "
Kedua wanita itu sama sama terbakar emosi mendengar ucapan masing masing pihak.
" Cukup Tante, jangan pernah bawa bawa Mama dalam hal ini, dan jangan sekali kali Tante mengatakan kalau Mama wanita tidak benar. Oh ya, apa Tante tidak punya hati, wanita yang Tante sebut tidak baik itu bukan orang lain tapi saudara Tante sendiri, aku tidak habis pikir, kenapa sampai Mama punya saudara seperti Tante " Alya sudah tidak tahan lagi, mengeluarkan semua unek unek yang ada di dalam hatinya yang Ia pendam sejak lama.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Alya begitu keras hingga membuat Alya meringis sembari memegang pipi kirinya yang mendapat tamparan keras dari Mona secara tiba tiba.
" Anak kecil mau mengajari aku soal kehidupan, kamu tahu apa ha.....! Apa orang yang berani merebut kekasih adiknya sendiri itu bisa di katakan orang baik baik. Mama mu merebut Papamu dari aku dan mereka menikah di atas tangisanku, bukan hanya itu setelah menikah mereka masih juga tidak henti hentinya menyiksaku dengan menitipkan mu padaku saat mereka berdua sedang sekarat. Coba kamu bayangkan bagaimana rasanya jadi aku, wajar dong kalau aku marah dan sekarang saatnya aku ingin menikmati hasil nya dari semua penderitaan ku selama ini " Tutur Mona
Alya mendengarkan semua ucapan Tantenya itu, Ia masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Tantenya.
" Mama bukan merebut Papa dari Tante tapi itu namanya jodoh, tidak ada yang bisa menebak jodoh seseorang akan berakhir dengan siapa Tan. Masalah waktu dan tenaga yang selama ini sudah Tante luangkan untukku aku akan tetap mengingatnya sampai kapan pun. Tapi maaf aku tidak bisa ikut bekerja dengan Tante, aku sudah dapatkan pekerjaan yang InsyaAllah lebih baik dari yang Tante tawarkan "
Alya melangkah pergi meninggalkan Mona yang masih berdiri mengatur emosinya yang masih menggebu gebu.
" Al kamu bekerja di mana " Tanya Mona kemudian masih dengan nada mencibir.
" Perusahaan milik keluarga Burhanudin " Jawab Alya sambil menaiki motor kesayangan nya, satu satunya harta peninggalan orang tuanya yang masih tersisa untuknya.
" Apa ! Perusahan milik keluarga Burhan, keluarga kaya raya itu. Wah wah wah, bagus juga rupanya anakmu Rona, dia juga mewarisi keahlian mu, mencari orang orang kaya untuk di jadikan pasangan hidup " Mona tersenyum senang.