Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Bukan Aku


Marni merenung diri di dalam kamar, Ia merutuki dirinya sendiri karena masih menyimpan rasa yang sama sampai saat ini. Rasa yang salah untuk saat ini, Ia seharusnya tidak sedih apalagi marah karena Hendrik menghabiskan waktu bersama Anggun karena bagaimana pun juga wanita itu sekarang adalah istri sahnya. Mereka bebas melakukan apa saja tanpa harus memikirkan perasaan orang lain yang tidak jelas seperti dirinya.


Untuk membuang suntuk Marni pergi ke dapur membantu yang lainnya mengerjakan pekerjaan yang mungkin belum di selesaikan.


..."Eh kamu, sudah pakai kursi roda masih saja keluyuran. Heh jangan fikir aku nggak tahu apa yang ada di pikiran mu itu, kamu masih mengharapkan suamiku kan, kamu ingin menggodanya agar suamiku itu berpaling dariku. Jangan mimpi perawan tua, lihat ini lihat, tentu matamu itu masih berfungsi dengan jelas. Kami bahkan baru habis bercinta, dan Mas Hendrik sangat ganas skali, dia begitu tergila-gila padaku, jadi tidak mungkin dia akan melirik mulai "...


Anggun menunjukkan tanda merah di leher bahkan di beberapa belahan tubuhnya, tanda yang di tinggalkan Hendrik beberapa jam yang lalu ketika birahi nya juga tak mampu Ia kuasai.


Marni hanya menoleh nya sebentar lalu kemudian memalingkan wajahnya kembali. Sakit itu yang di rasakan Marni namun kali ini Ia mampu menguasai hatinya.


Ia kembali ikut menyibukkan diri bersama yang lain, dengan begitu fokusnya bisa teralihkan.


Hendrik terbangun dari tidurnya setelah sore hari, Ia terkejut ketika melewati cermin. Melihat tubuh telanjangnya dengan sesuatu yang tergantung disana, Ia menepuk keningnya sendiri setelah menyadari apa yang terjadi.


Bergegas Ia masuk kamar mandi guna membersihkan diri, tidak butuh waktu lama Ia keluar dengan tubuh yang sudah lebih segar. Perut yang mulai keroncongan membuatnya memilih untuk turun.


" Bapak, mau makan. Biar aku hidangkan dulu "


Hendrik hanya mengangguk menanggapi pertanyaan ART nya itu. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah.


" Bi.... Ibu kemana " Tanya Hendrik.


" Ibu tadi keluar Pak " Jawab wanita yang di panggil Bibi.


Hendrik kembali manggut manggut.


" Lalu Alya sama Marni kemana, apa mereka sudah makan siang " Tanyanya kemudian.


" Non Alya sudah makan Pak, tapi Marni sepertinya belum "


Hendrik ingin bertanya lagi namun makanan nya sudah tersaji di depannya, belum lagi perutnya yang mang sudah keroncongan minta segera di isi.


***


Di tempat lain Anggun yang ingin memanjakan dirinya dengan pijat refleksi mulai terganggu dengan telpon yang tiba-tiba, awalnya Ia malas menerima nya. Tubuhnya yang seakan ingin remuk karena melayani Hendrik di luar dosis masih membutuhkan pemulihan, namun ponsel yang terus berdering membuatnya terpaksa menerima nya.


" Tunggu sebentar, aku terima telpon dulu "


Anggun berlalu sedikit menjauh agar tidak mengganggu yang lain.


" Ada apa sih Mas, ganggu saja "


Ia mendengarkan suara di seberang sana yang membuat mood nya semakin buruk.


" Urus saja anak penyakitan mu itu, jangan libatkan aku lagi " Anggun mematikan ponsel secara sepihak dan kembali ketempat sebelum nya.


" Ah sial kamu Anggun, pada saat genting seperti ini kamu malah tidak tahu menahu. Penyakitan begitu juga dia anakmu, dasar Ibu tidak punya hati. Giliran uang saja mau, anak sendiri di telantarkan. " Gerutunya.


Hendra bolak balik mencoba mencari cara, Ia tidak mau gagal setelah semua usahanya selama ini.


" Bapak, untuk apa Bapak kemari, apa ada yang bisa saya bantu " Tanyanya berusaha santai.


Hendra tersenyum penuh arti, Ia kemudian mengutarakan maksudnya namun sayang keinginannya juga tidak bersambut, Ia keluar dari ruang itu dengan hati gusar.


" Ah sial sekali aku hari ini, bahkan semua seakan tidak berpihak padaku "


Dari kejauhan seseorang memperhatikan gerak geriknya dengan senyum puas.


" Kamu ingin main main denganku rupanya, jangan salahkan aku kalau kamu akan susah nantinya "


***


Oma Laurent menghampiri ranjang Renata, Ia membelai rambut gadis itu dan tersenyum.


" Maafkan Oma sayang, maaf karena Oma sudah membuat kamu susah dan mengalami nasib buruk seperti ini. Tapi kamu tenang saja, Oma sudah memberikan hak yang seharusnya kamu dapatkan dari dulu. Kamu tidak akan hidup susah seperti sekarang ini "


Renata membuka mata pelan dan tersenyum melihat kehadiran Oma Laurent.


" Oma ada disini, Oma menjenguk ku " Tanyanya memastikan


Oma Laurent tersenyum dan mengangguk


" Tentu saja sayang, Oma datang untuk menjenguk cucu Oma. Maafkan Oma karena sudah membuatmu susah "


Renata menggeleng cepat


" Tidak Oma, Oma tidak salah. Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi, kenapa bisa sampai ada disini " Jawabnya


Nampak raut wajah yang bingung, seakan ada sesuatu yang ingin Ia ketahui.


" Jelas saja kamu ada disini Ren karena kamu adalah cucu Oma, cucu yang selama ini hilang " Oma menjelaskan masih dengan senyum mengembang.


Renata menatap langit langit rumah itu.


" Benarkah aku ini adalah cucu Oma, apa Oma yakin mengenai hal itu " Rena menatap Oma Laurent mencoba menemukan kebenaran disana.


Lama Oma Laurent berpikir, sebenarnya hatinya menolak kalau gadis di depannya itu adalah cucu yang di maksud. Tapi Ia tidak bisa memungkiri semua bukti yang ada.


" Tentu saja sayang, ini.... kamu punya ini "


Oma Laurent mengeluarkan kalung yang melingkar di leher gadis itu, Ia ingat betul kalung itu adalah hadiah dari Putranya untuk sang Istri yang begitu di cintai nya, saat itu Ia sangat bahagia atas kehamilan pertama sang Istri.


Renata menarik nafas berat ketika mendapatkan fakta yang ingin Ia ketahuilah selama ini.


..." Aku tidak bisa begini, bukan aku " Batin Renata. ...


Ia meminta Oma Laurent untuk meninggalkan nya sendiri.