Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Kecurigaan Erik


Bagai setrikaan Bi Marni mondar-mandir menunggu kedatangan Erik, sejak tadi ponselnya tidak bisa di hubungi. Ia baru lega setelah mendengar deru mobil memasuki halaman rumah yang Ia tempati.


" Alhamdulillah akhirnya datang juga " Bi Marni berlari kecil menyambut kedatangan Erik.


Erik masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobil miliknya


" Alhamdulillah Mas Erik sudah pulang " Sambut Bi Marni.


" Iya Bi aku baru pulang, tadi ada pekerjaan penting jadi pulang agak terlambat. Apa ada kabar dari rumah " Tanya Erik yang mulai membaca kegelisahan Bi Marni.


" Bapak Mas, Bapak masuk RS tadi siang, Bibi sudah berusaha menghubungi ponsel Mas Erik tapi ponselnya tidak aktif " Jelas Bibi.


" RS Bi, sakit apa, kok tiba tiba " Erik terkejut


Erik merogoh ponselnya di kantong jas kerjanya, Ia buru buru mengisi dayanya karena memang kebetulan habis.


" Maaf Bi, rupanya memang ponselnya mati lupa ngisi daya. Oh ya apa Bibi sudah tanya Papa masuk RS mana " Tanya Erik lagi.


Bibi memberitahu nama RS tempat Pak Hendrik di rawat.


" Baiklah Bi aku akan segera kesana "


Kalau mengingat Ibu tirinya sebenernya Erik malas untuk pulang atau bahkan sekedar berkunjung, tapi Ia tidak mungkin mengabaikan Ayahnya, Satu-satunya orang tua yang Ia punya. Hubungan Erik renggang semenjak Ayahnya menikah lagi dengan seorang yang lebih muda, menikah dengan seorang yang gila harta dan tak punya perasaan.


" Apa Bibi ingin ikut " Tanya Erik lagi.


" Ah tidak Mas, Bibi di rumah saja, titip salam saja Mas, semoga beliau segera sembuh " Ucap Bi Marni tulus.


Erik mengendarai mobil miliknya melaju di tengah keramaian kota, jam pulang kerja membuat jalanan agak macet apalagi di lampu merah. Untuk mengusik rasa jemu Erik membuka laci mencari sesuatu yang Ia letakkan disana. Bibirnya menyunggingkan senyum


" Papa pasti senang akan kabar yang aku bawa ini, tapi.... apa aku harus mengatakan nya pada Papa tentang hal ini, apa Papa bisa menjaganya dari wanita ular itu. Aku tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan, dan membuat nya dalam bahaya. Aku juga belum menceritakan siapa aku sebenarnya, apa dia juga mau menerima kami atau malah sebaliknya " Gumam Erik.


Kesadarannya pulih ketika mendengar bunyi klakson bersahutan pertanda lampu sudah berubah hijau.


Dengan senyum kikuk Erik kembali melajukan mobil miliknya, waktu tempuh yang biasa hanya tiga puluh menit harus molor menjadi empat puluh lima menit.


Baru juga melangkahkan kaki beberapa langkah, Erik sudah di hadang oleh seorang wanita yang kebetulan ada disana. Tidak heran sih kalau wanita itu harus berada disana, karena dia adalah Ibu tiri dari Erik.


" Untuk apa kau kemari dasar anak nakal, kau pasti kemari karena ada maunya kan "


Erik mendengus kesal mendengar tuduhan dari wanita yang ada di depannya itu.


" Menyingkir dari hadapanku, Aku ingin melihat keadaan Ayahku dan itu bukan urusanmu " Bentak Erik.


Dengan tangan di pinggang Anggun kembali menghadang jalan Erik.


Erik tidak menghiraukan ucapan Anggun Ibu tirinya, Ia tetap menerobos masuk dan mencari ruangan sang Ayah di rawat.


Anggun mengepalkan tangannya karena tidak berhasil mencegah Erik masuk menemui Ayahnya.


" Bagaimana ini Bu, apa kita singkirkan saja dia " Tanya seorang Pria berbadan kekar.


" Tidak perlu, ini RS dan aku tidak mau membuat keributan dan memancing perhatian banyak orang. Aku tidak boleh bertindak gegabah, aku juga tidak ingin Mas Hendrik membenciku sebelum aku dapatkan apa yang ku inginkan "


Pria itupun mengangguk mengerti


" Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang " Tanyanya lagi.


" Sekarang tidak ada, biar aku tangani sendiri saja, kamu boleh pergi kalau ada apa apa nanti aku kabari "


Anggun bergegas masuk ke dalam RS menyusul Erik yang sudah lebih dulu masuk.


" Jangan sampai aku ketinggalan berita apapun, bisa saja dia sudah memeras uang Mas Hendrik. Tidak akan aku biarkan hal itu terjadi "


Di dalam ruangan Erik duduk di samping sang Ayah, Ia memandangi wajah pucat itu menyesali semua perbuatan nya. Tak seharusnya Ia meninggalkan Ayah tercinta nya itu bersama seorang wanita licik, tapi itu pilihan Ayahnya.


" Pa, ini Erik. Papa bangun dong, Erik punya kabar penting untuk Papa " Bisik Erik lembut di telinga sang Ayah seraya mengelus tangan Pria itu.


..." Papa sakit apa kenapa sampai separah ini, Papa kan tidak punya riwayat penyakit berat " Batin Erik....


Pintu ruangan terbuka, nampak seorang Suster memasuki ruangan itu. Ia segera memeriksa kondisi pasien.


" Suster, maaf kalau boleh tahu pasien sakit apa sehingga harus di bawa kemari " Tanya Erik, Ia bertanya karena penasaran.


" Pak Hendrik sepertinya kera.....


" Suster, bagaimana kondisi suami saya "


Erik melirik kedatangan Ibu tirinya itu, kenapa tiba tiba saja ada disana apalagi memotong pembicaraan dia dan Suster yang merawat Ayahnya.


" Sudah mulai membaik Bu " Jawab Suster itu nampak ketakutan.


" Baiklah Sus, kalau sudah selesai tolong keluar biar sisanya aku yang merawat suamiku "


Suster pun meninggalkan Erik dan sang Ibu tiri di dalam ruangan itu.


" Hm sepertinya waktu berkunjung mu sudah habis, Ayahmu butuh istrahat yang cukup jadi alangkah lebih baik kamu pulang sekarang, Mas Hendrik pasti akan senang ketika siuman melihat aku disampingnya "


Gerak gerik Anggun ternyata menimbulkan kecurigaan untuk Erik, bagaimana mungkin wanita itu sepertinya bersusah payah menghalangi nya bertemu dengan sang Ayah, Ia memilih meninggalkan ruangan itu walau hatinya berat.