
🌱🌱🌱
Ambulans yang membawa Pak Burhan tiba di RS, sepanjang jalan Bu Rossa tidak henti henti nya menangis dan meminta maaf. Penyesalan atas semua yang sudah di perbuat nya semakin menjadi jadi ketika melihat Pria yang sangat di sayangi nya terbaring lemah dengan bersimbah darah.
Para tim medis segera mengambil tindakan begitu tiba di sana.
" Mas, maafkan aku. Maaf karena aku kamu jadi seperti ini. " Ucap Bu Rossa ikut berlari mendorong brangkar yang membawa tubuh suami nya.
" Ibu tunggu di luar saja. " Pinta seorang perawat.
" Suster, tolong lakukan yang terbaik untuk suami saya, berapa pun biaya nya kami akan melunasi nya, asalkan suami saya selamat. " Ucap Bu Rossa memohon.
" Tenang Bu, kami akan melakukan yang terbaik. Ibu bantu dengan Do' a saja, agar pasien bisa melewati ini semua. "
Bu Rossa duduk di kursi tunggu sambil komat kamit melapalkan apa saja yang beliau ketahui.
" Ya Allah, bagaimana dengan kabar anak anak Ku, Aku meninggalkan mereka di sana di tempat yang tidak aman. "
Tidak berselang lama nampak Ilham juga berlarian melewati lorong RS hingga tiba di depan sang Ibu.
" Ilham, kamu tidak apa apa Nak. " Tanya Bu Rossa.
Di arahkan nya pandangan nya ke sana kemari mencari mereka yang juga di khawatirkan nya.
" Kamu datang sendiri Nak, mana kedua adik adik Mu. Mereka baik baik saja kan ?. " Tanya Bu Rossa lagi.
" Mereka baik baik saja Bu, tadi Nayla pulang bersama Andre dan juga Dokter Pandu. Apa mereka belum tiba. "
" Entahlah Nak, Ibu tidak melihat nya sedari tadi. " Jawab Bu Rossa.
" Sudahlah Bu, mereka pasti baik baik saja. Apalagi ada Dokter Pandu bersama mereka. Sekarang bagaimana keadaan Ayah, apa Ibu sudah mendapat kabar. "
" Belum Nak, maafkan Ibu ya Nak. Ibu bukan Ibu yang baik buat kalian. "
Bu Rossa kembali merasa bersalah dan menyesali perbuatan Nya.
" Tidak apa apa Bu, Ibu tidak bersalah. Ibu juga Ibu yang terbaik buat kami, terbukti kalau kami selama ini tidak menyadari kalau Ibu bukan lah Ibu kandung kami. Apa salah nya Bu, aku tahu Ibu mang tidak melahirkan kami, tapi dalam hati Ibu pasti sangat menyayangi kami. Dari itulah mulai sekarang, Ilham minta Ibu untuk tidak membahas ini lagi. "
Ilham menggenggam tangan wanita yang selama ini sangat sangat dihormati nya.
🍀🍀🍀
Sementara di tempat lain, dua orang Pria sedang mengobrol serius.
" Biarkan saja dia tertidur seperti itu, semoga setelah bangun efek nya akan hilang. Tolong jangan tinggalkan dia ketika siuman. Takut Ia merasa kan sesuatu yang tidak baik dari dirinya. Mengenai Pak Burhan, dari yang saya dengar, Dokter Rendra bersama tim medis sudah menangani nya. Tapi beliau butuh donor darah saat ini, karena terlalu banyak mengeluarkan darah selama perjalan jauh. " Ucap Dokter Pandu.
" Lakukan yang terbaik Pandu. "
" Nayla, dia bisa jadi pendonor. Tapi melihat kondisi nya sekarang, tidak mungkin kita mengambil darah nya saat ini. Lalu siapa.....?. " Gumam Andre.
Otak nya di paksa berpikir keras hingga akhir nya Ia teringat seseorang.
" Aku tahu Pandu, siapa yang jadi pendonor untuk Ayah. Tunggu sebentar... .!. "
Andre merogoh saku nya mencari keberadaan ponsel milik nya.
Kamila bergegas ke RS setelah menerima panggilan yang menyebutkan sesuatu yang sangat kritis. Ia berlari kecil ketika sudah memasuki parkiran.
Dengan nafas tersengal sengal, Kamila menanyakan keadaan sanga kakak.
" Kak Nayla......! Dok.... Dokter, gimana kabar kakak saya. Saya adik nya, tadi Mas Andre menelpon untuk kemari karena kak Nayla butuh donor darah. Sini Dok, ayo cepat ambil darah saya biar kak Nayla bisa segera di tangani. "
Karena panik Kamila bahkan menarik tangan Dokter Pandu yang kebetulan sudah kembali ke RS, sedangkan Andre harus menunggu Nayla sampai siuman.
Dokter Pandu mendadak gugup, mata nya memperhatikan tangan nya yang di gengam erat oleh Kamila karena kepanikan nya.
" Oh maaf Dokter, saya terlalu gugup. Kalau begitu apa kita bisa lakukan tranfusi darah nya sekarang ?. " Tanya Kamila dan di jawab anggukan oleh Dokter Pandu.
" Nak, siapa gadis itu ? kenapa dia juga mengenal ke dua adik Mu. " Tanya Bu Rossa ketika Kamila dan juga Dokter Pandu sudah berlalu dari hadapan mereka.
" Entahlah Bu, Ilham juga tidak tahu. Tapi tadi kata nya mau jadi pendonor buat Nayla. Tapi Nayla kan tidak butuh donor darah, apa yang di maksud adalah Ayah.... !. " Jawab Ilham sembari bergumam.
Dua jam berlalu, Nayla mulai siuman dari mimpi nya. Ia terkejut ketika melihat ruangan sekitar yang terasa asing bagi nya, bukan kamar milik nya.
Kenangan di ruangan itu kembali berputar di otak nya.
" Tidak......... tidak, jangan sentuh aku. " Jerit Nayla.
Ia memperhatikan pakaian yang Ia pakai sudah berganti, bukan lagi baju yang di pakai nya sebelum nya.
" Ya Allah....! Apa yang terjadi padaku, tak ada guna nya..... tidak ada guna nya. Hina...... aku sudah kotor........ ! lagi lagi ini terjadi padaku, apa salahku.........!. "
" Jerit nya lagi.
Di arahkan nya pandangan nya kesana kemari hingga akhir nya mata nya tertuju pada sebuah laci.
" I ya laci, aku harus membuka nya. Tidak ada guna nya..... tidak ada guna nya......!. " Racau Nayla sembari tangan nya mencari sesuatu di dalam laci.
" Tidak ada, tidak adaaaaaa..........!. "
PRANKKK !!! Terdengar bunyi sesuatu yang pecah Suara itu terdengar sampai ketelinga Andre.
" Mati....... i ya mati...... mati...... tidak berguna......!. " Racau Nayla prustasi.
Tangan nya meraih pecahan kaca yang ada di lantai kamar itu, sembari memejamkan mata. Ia menggoreskan pecahan itu ke pergelangan tangan nya.
" Aaaaaaahhhhhhhhh...........
❄❄❄
Kamila masih berbaring di atas brangkat RS, badan nya terasa lemas setelah mendonorkan darah nya. Untuk itulah Ia di minta untuk istirahat.
" Dokter.....! tubuh saya sudah enak kan, boleh tolong antar saya bertemu kakak saya. Saya ingin tahu kondisi nya, bagaimana dan dimana dia sekarang. "
Pandu masih membereskan semua alat alat milik nya.
" Tunggu sebentar lagi, pasien belum di perbolehkan untuk di kunjungi oleh siapa pun. " Jawab Dokter Pandu tanpa menoleh sedikit pun.
"Dasar Dokter aneh, aku ingin melihat kakak Ku tapi tidak di boleh kan. Lihat lah, aku di sini se olah olah di kurung agar tidak bisa kemana mana. "
Kamila merutuki Dokter itu yang tidak mengijinkan Nya menjenguk kakak nya. Padahal Ia sudah setengah mati menahan rasa khawatir nya tentang keadaan Nayla.