
πΌπΌπΌ
Kedua Ibu dan anak itu nampak sangat lega setelah sama- sama mengeluarkan dan mengetahui unek- unek yang menjadi masalah mereka belakangan ini, Asrul juga sudah berjanji pada diri nya sendiri untuk lebih terbuka dan kedepan nya Ia akan mendengarkan semua ucapan Bu Dian Ibu kandung nya.
Kini semua di lalui Asrul tanpa beban yang terasa berat bagi nya seperti sebelum nya.
" Pagi Bu " Sapa Asrul di pagi hari ketika akan berangkat bekerja.
Bu Dian tersenyum, walau penampilan nya masih amburadul paling tidak dia sudah mulai menyapa dan tersenyum itu sudah cukup membuat Bu Dian bahagia.
" Mau berangkat sayang, sini sarapan dulu sama Ibu. Jangan sampai kamu tidak sarapan lagi dan langsung berangkat bekerja, ingat perut dulu yang penting. Kalau perut beres urusan lain pun InsyaAllah nyusul beres " Ucap Bu Dian
Asrul tersenyum mendengar petuah dari sang Ibu, Ibunya memang selalu mempunyai cara agar bisa membuat nya tersenyum.
" Iya Bu sedikit saja dulu ya, perutku soalnya rada kurang nyaman " Jawab Asrul.
" Apa perlu ke Dokter Nak, Ibu takut ada masalah serius " Sahut Bu Dian khawatir.
" Sudah Bu, tadi aku sudah hubungi Ridwan untuk mampir ke kantor, jadi Ibu tidak perlu khawatir. Semua nya aman terkendali "
Mereka menikmati sarapan bersama di meja makan, beberapa orang pelayan yang sudah cukup lama bekerja di tempat itu akhir nya bisa bernafas lega, karena akhir nya kedua majikan nya itu bisa mengakhiri mogok makan nya.
" Alhamdulillah Ya Nurma, akhirnya rumah ini kembali seperti semula "
" Iya Sri, aku juga lega sekali "
Bu Dian melihat kedua pelayan setia nya bisik bisik tetangga dan tersenyum setelah nya.
" Bi Nur, Bi Sri...... sedang apa kalian disana, kemari sebentar " Panggil Bu Dian
Kedua wanita itu pun dengan segera menghadap Bu Dian dengan harap- harap cemas, mereka takut telah berbuat salah dan berakibat fatal untuk mereka.
" Iya Bu " Kedua nya serempak menjawab
" Kenapa kalian bisik- bisik, apa kalian sudah makan. Itu yang lain juga, apa sudah sarapan. Ingat jangat telat makan, kapan pun kalian lapar jangan di tahan, makan saja, atau kalau ada yang kalian ingin makan silahkan di olah saja, tidak perlu takut. Kalau barang nya ada tinggal masak, kalau tidak ada tinggal beli, aman kan "
Bu Nur dan juga Bi Sri senyum- senyum malu karena ketahuan bisik- bisik.
" Iya Bu, saya akan siapkan makan untuk yang lain nya setelah ini " Jawab Bi Nurma.
" Ya sudah, silahkan jangan lupa makan yang banyak, biar sehat. "
Kedua nya kembali ketempat nya dengan perasaan lega, akhir nya yang mereka berdua khawatirkan tidak terjadi.
" Alhamdulillah, kita tidak kena marah, padahal dari tadi aku sudah jantungan " Bisik- bisik Bi Nur.
" Hust.... makanya yuk sekarang kita siapkan makan dulu, jangan sampai yang kita takutkan beneran terjadi " Sahut Bi Sri.
Dalam hati Ia menertawakan teman kerjanya itu, karena Ia tahu persis watak majikan nya di rumah itu. Selama sepuluh tahun Ia bekerja bahkan Bu Dian tidak pernah sekali pun nampak marah- marah apalagi berkata kasar.
Asrul hanya geleng- geleng kepala melihat tingkah kedua asisten rumah tangga nya yang kebetulan paling lama disana.
" Ya sudah Bu, aku berangkat kerja dulu. Assalamu'alaikum " Pamit Asrul
Tidak lupa Ia mencium punggung tangan Bu Dian sebelum berangkat bekerja.
" Waalaikum salam....! " Jawab Bu Dian.
" Hm.... Bu soal kemarin kalau Ibu ingin berbelanja bisa minta bantuan Mamang dan juga Bi Sri, sekalian saja belikan mereka nanti uangnya aku transfer ke rekening Ibu "
Bu Dian tersenyum karena memang Ia tidak ada niat untuk berbelanja, namun demi melancarkan rencana nya Bu Dian pun akhir nya pergi berbelanja di temani asisten rumah tangga nya sesuai pesan Asrul agar tidak terjadi masalah lagi.
*
*
*
Bu Dian dan beberapa yang lain nya tiba di sebuah pusat perbelanjaan, beliau memerintahkan kepada mereka yang ikut bersama nya untuk memilih apa saja yang ingin mereka beli sebagai hadiah untuk mereka. Tentu saja mereka merasa tidak nyaman
Bu Dian melihat- lihat beberapa tempat, matanya melihat baju yang sangat bagus.
" Ini pasti sangat bagus kalau di pakai oleh Alwi, apa aku beli saja. " Bu Dian menimang- nimang ragu antara mau di beli atau tidak.
" Sudahlah aku beli saja "
Mereka memilih semua yang ingin mereka beli dan kemudian melunasi nya di kasir. Semua asisten rumah tangga merasa senang karena lagi- lagi mereka mendapat belanjaan gratis dari majikan nya.
Sudah menjadi rutinitas setiap tahun akan ada belanja gratis dari Bu Dian, tapi tahun ini mereka bebas memilih apa saja yang mereka sukai.
πππ
Sore hari di kediaman Yabintang, nampak canda tawa dari semua penghuni rumah. Para asisten rumah sedang berbahagia membagi hasil belanjaan mereka dengan yang lain nya. Sementara Bu Dian sedang bercengkerama dengan Putra nya di ruang tengah.
" Bagaimana kerjaan nya tadi Nak, apa ada kendala " Tanya. Bu Dian
" Tidak ada Bu, Alhamdulillah semua nya lancar tanpa kendala yang berarti " Jawab Asrul
Bu Dian sangat bahagia melihat senyum Asrul yang seakan tanpa beban. Tidak berselang lama terdengar dari luar ada yang mengucap salam.
" Assalamu'alaikum...... ! " Salam dari luar.
" Waalaikum salam.....! Bi, buka kan pintu ada tamu ! "
Bi Sri yang kebetulan lewat di sana terburu- buru membukakan pintu.
" Waalaikum salam.....! Eh Ibu, mari masuk "
Bi Sri yang mengenali siapa tamu nya pun mempersilahkan tamu nya untuk masuk.
" Siapa Bi " Tanya Bu Dian.
Bi Sri tersenyum
" Aku Dewi "
Terdengar suara wanita dan kemudian menyusul wanita yang melangkah menghampiri kedua nya.
" Bu Dewi, mari silahkan duduk. Bi Buatkan minum dan juga bawakan cemilan ya "
Walaupun terkejut namun sebisa mungkin Bu Dian berlaku baik untuk menyambut tamu nya.
" Sudah lama rasa nya aku tidak berkunjung kemari, ternyata rumah ini nampak adem- adem saja "
Bu Dian hanya tersenyum menanggapi ucapan besan nya.
" Alhamdulillah Bu Dewi "
" Hm......ternyata kalian masih bisa tenang dan adem- adem saja tinggal di tempat seperti ini sementara anakku tinggal di penjara, tidur di lantai yang dingin. Apa tidak pernah terpikir oleh kalian untuk membantu nya bebas dari sana " Ucap Bu Dewi sinis
Asrul hampir saja tidak dapat mengendalikan amarah nya kalau saja tidak di tahan oleh Ibu nya.
" Ibu, bukan nya kami sudah berusaha untuk......
" Usaha, usaha seperti apa yang Ibu maksud, hanya seperti itu saja kalian sudah bilang usaha, bukti nya Putri ku masih mendekam di penjara sementara kalian enak- enakan disini seperti tidak terjadi apa- apa. "
Asrul dan Bu Dewi mendadak diam menjadi pendengar karena tidak ada kesempatan mereka untuk bicara atau bahkan membela diri.
" Apakah kalian pernah tahu kalau Siska itu punya penyakit yang sangat parah, seharus nya sekarang dia berada di rumah sakit untuk berobat bukan nya berada disana. Tidur di tempat yang dingin dan makan yang tidak teratur, semua itu hanya akan membuat penyakit nya semakin bertambah parah. Dian...... kau tahu bagaimana sakit nya melihat anak yang kita sayangi bersedih, rasa nya sangat sakit dan itulah yang aku rasakan saat ini. Kalau kalian masih punya hati nurani, maka aku minta kalian untuk mengajukan apalah itu namanya, yang penting Siska bisa keluar untuk berobat di rumah sakit yang pasilitas nya memadai, paling tidak sampai penyakit nya itu sedikit berkurang "
Bu Dian dan Asrul sama- sama diam membisu tidak ada yang membuka suara, mungkin karena terkejut melihat aksi Bu Dewi yang tiba-tiba
πππ
Mohon dukungan nya ya, like rate dan fav. Juga vote gratis ya, kalau untuk gift seikhlas nya saja. Karena sekarang musim sudah bertambah lagi, bukan hanya musim hujan, panas, buah- buahan. Sekarang tambah satu musim lagi, musim delay.
Hai sahabat Nayla, bagi readers yang masuk 100 besar yang ingin masuk grup chat silahkan, karena ada tebaran khusus pembaca setia Nayla, yang InsyaAllah akan di adakan tgl 30, boleh masuk sebelum tgl 25 karena gc akan di tutup tgl 25, bagi yang berminat silahkan ketuk ya ππ