
Waktu terus berganti hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan pun berganti tahun, tidak ada perubahan yang istimewa. Untuk menjadi suami istri di khalayak ramai mungkin sudah terpenuhi, siapa pun yang melihat pasti akan iri dan mengatakan mereka keluarga yang bahagia dan harmonis namun siapa yang tahu kenyataannya dalam hati tak ada rasa apapun.
Diantara ribuan mata yang memandang hanya satu orang yang merasa curiga dengan hubungan mereka, orang itu tidak lain adalah Pak Burhan Ayah dari Nayla sendiri. Pak Burhan yang sudah banyak pengalaman tentu tidak begitu mudah untuk di bohongi.
Di kediaman megahnya Ia berniat untuk membicarakan semua masalah yang mengganggu pikirannya tentang Putrinya pada sang istri tercinta.
" Sayang, ada yang ingin aku bicarakan denganmu " Ucap Pak Burhan.
Bu Rossa mengangguk dan ikut duduk di samping suaminya, Ia dengan sabar menunggu apa yang akan di katakan suaminya itu.
" Sayang, apa keputusan yang kita ambil selama ini salah telah menerima niat Asrul untuk menyatukan rumah tangga mereka lagi "
Bu Rossa terkejut Ia menoleh dan memastikan apa suaminya itu sedang bergurau namun dari wajahnya semuanya nampak serius.
" Apa maksudmu Mas, aku lihat mereka baik baik saja selama ini "
Bu Rossa bukan tidak peka pada semua yang terjadi, namun beliau hanya tidak ingin lagi mencampuri urusan rumah tangga Putrinya. Cukuplah sudah dengan semua yang terjadi, kalau pun Asrul dan Nayla ingin memutuskan berpisah, Bu Rossa ingin semua itu adalah keputusan mereka berdua tanpa campur tangan mereka lagi.
" Sayang, aku tahu mereka tidaklah bahagia. Aku bisa merasakan hal itu, aku ini Ayahnya dan meskipun mereka nampak baik baik saja, aku yakin semua itu pasti hanya karena mereka tidak ingin membuat kita kecewa apalagi Alwi. Anak itu yang selalu ingin melihat kedua orang tuanya bersatu " Tutur Pak Burhan.
Bu Rossa menyimak dengan seksama apa yang di katakan Pak Burhan, semua memang benar adanya.
" Lalu sekarang bagaimana rencana Mas kedepan, jangan katakan kalau Mas ingin memisahkan mereka lagi. Kalau soal itu, maaf Mas, aku tidak setuju. Biarkanlah mereka memilih jalan nya sendiri, kalau memang mereka tidak sanggup bersama pasti akan ada salah satu di antara mereka yang mengakhirinya "
Pak Burhan menarik nafas panjang dan geleng geleng kepala, Ia merasa hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Ia tahu watak Putrinya itu dan juga watak menantunya yang sama sama keras. Asrul dengan tekatnya ingin membina rumah tangganya yang dulu pernah Ia sia siakan, Sedangkan Nayla, dia tidak akan mungkin memutuskan hubungan karena memikirkan hati orang orang yang di sayanginya yang menginginkan mereka tetap bersama. Apalagi melihat Putra tunggalnya yang ingin punya orang tua yang utuh, demi semua itu dia bahkan rela menelan pil duka sepahit apa pun itu, tapi untuk mundur itu tidak akan mungkin terjadi.
" Kalau kita menunggu salah satu di antara keduanya ada yang mengalah aku tidak yakin akan hal itu sayang, sementara kita sama sama tahu keduanya "
Keduanya diam dalam waktu yang lama entah apa yang mereka pikirkan, hingga akhirnya keduanya tersenyum karena menemukan titik terang.
Hari ini hari libur, Nayla dan juga Asrul sama sama terkejut karena mendapatkan undangan tiba tiba langsung dari kedua orang tuanya. Meskipun bingung mereka tetap memenuhi undangan itu walau dengan hati was was.
" Tumben Ma, Oma sama Opa ngundang kita begini, kaya ada apa gitu tidak biasanya "
Apa yang dipikirkan Alwi sama seperti apa yang di pikirkan Nayla dan juga Asrul, namun mereka memilih diam.
" Hm.... mungkin Oma sama Opa rindu kumpul bareng sama sama kita, atau bisa saja Oma lagi masak enak disana. Tidak ada salahnya kalau kita kesana, iya kan Nak......! "
Di kediaman Pak Burhan setelah berbagai aktifitas bersama mereka lakukan akhirnya Pak Burhan memanggil keduanya di dalam ruangan khusus yang ada di rumah itu yaitu ruang kerja untuk Pak Burhan.
Nayla dan juga Asrul mengikuti langkah Bu Rossa memasuki ruangan tersebut.
" Silahkan duduk " Pinta Pak Burhan
Nayla dan juga Asrul duduk di sofa berdampingan menunggu apa yang menjadi penyebab mereka di panggil hari itu.
" Ada apa Ayah " Tanya Nayla dan juga Asrul hampir bersamaan.
Lama Pak Burhan terdiam memikirkan apa yang harus Ia utarakan lebih dulu, semuanya terasa berat baginya.
" Maafkan Ayah Nak kalau selama ini keputusan Ayah sudah membuat kalian berdua tersiksa, Ayah tahu kalian tidaklah bahagia dengan status kalian saat ini. Untuk itulah Ayah dan juga Ibu berpikir bagaimana kalau hubungan ini di akhiri saja agar tidak ada lagi yang tersakiti. Jangan pikirkan Ayah Ibu atau juga Alwi, kalau memang kalian tidak bahagia tidak perlu di lanjutkan. Soal Alwi Ayah yakin dia pasti akan bisa menerima keputusan kalian, kalau ini demi kebahagiaan kalian berdua, Ayah yakin Alwi pasti bisa menerimanya "
Panjang kali lebar Pak Burhan mengutarakan maksudnya di depan keduanya yang hanya diam, tidak ada seorangpun di antara mereka yang berani membuka suara.
Asrul yang sejak tadi gelisah karena dirinya mulai bisa menerima semuanya, tidak penting baginya melakukan hubungan intim. Bisa bersama dengan anak dan juga istrinya itu sudah cukup baginya, sungguh Ia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Tapi kalau harus di suruh berpisah sungguh hati kecilnya menolak akan hal itu, cintanya yang terlambat disadari kini begitu besar pada anak dan juga istrinya.
Ia melirik kearah Nayla berharap Nayla akan tetap memilih bersamanya selamanya dan tidak menyetujui permintaan kedua orang tuanya.