Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Temui Aku


💮💮💮


Pak Burhan dan juga Bu Rossa memantapkan hati memasuki ruang rawat Sinta. Ya, mungkin ini jalan salah satunya mereka agar dapat menyelesaikan masalah mereka kedepan.


Sinta terkejut melihat Pria yang sangat di cintainya berada di dalam ruangan nya, namun Ia lebih terkejut lagi ketika melihat siapa yang berada di belakang Pak Burhan.


" Akhirnya setelah sekian lama kita berjumpa lagi "


Suara Sinta terdengar dingin, bahkan Ia berbicara tanpa menoleh sedikit pun. Sakit hatinya karena kehilangan Putri satu satunya seakan ingin melenyapkan dunia, namun tentu saja Ia tidak punya daya.


" Iya Sinta, bagaimana kabarmu sekarang "


Senyum kecut terbit dari bibir Sinta atas pertanyaan Pria yang pernah hadir dalam hidupnya itu.


" Seperti yang Anda lihat Tuan Burhan yang terhormat "


Pak Burhan dan juga Bu Rossa saling pandang, Rossa mengangguk pelan dan tersenyum menandakan kalau tidak ada hal apa apa.


" Sinta, aku kemari hanya ingin minta maaf padamu. "


Bu Rossa berbicara dan melangkah beberapa langkah ke depan menghampiri Sinta.


" Setelah semua yang sudah kalian lakukan pada kami, masih punya muka juga kalian menemui aku. "


Kini giliran Burhan yang menyemangati Istrinya agar tidak tersinggung dengan ucapan wanita yang pernah menjadi Istri ketiganya itu.


" Justru karena semua yang sudah kami lakukan, terutama aku. Semua yang sudah aku lakukan dimasa lalu, aku ingin meminta maaf untuk itu padamu. "


" Cukup........! "


Sinta mengarahkan jari telunjuknya pada Rossa karena muak mendengar ucapan wanita itu, dengan mudahnya Ia minta maaf tanpa bisa merasakan penderitaan dirinya berpuluh puluh tahun lamanya.


" Permintaan kalian sudah terlambat dan tidak ada gunanya sekarang, lebih baik kalian pergi sekarang dari sini karena aku muak melihat wajah kalian berdua " Teriak Sinta mengusir kedua pasangan suami istri itu.


Burhan mengerti situasinya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mereka membicarakan masalah mereka. Ia membujuk Istrinya untuk meninggalkan tempat itu. Walau pun sebenarnya Bu Rossa masih ingin berbicara dengan Sinta, namun Ia tetap menuruti permintaan suaminya itu.


..." Bagaimana ini, aku harus melakukan sesuatu agar bisa berbicara dengan langsung dengan nya, masalah ini tidak baik berlarut larut "...


Di dalam mobil Bu Rossa sangat gelisah, Ia sedang memikirkan cara bagaimana bisa bertemu dengan Sinta tanpa sepengetahuan suaminya.


" Kenapa sayang " Tanya Pak Burhan.


" Kamu masih memikirkan masalah tadi, sudahlah sayang jangan terlalu di pikirkan. Nanti kamu sakit, kita akan bicarakan lagi ini di waktu yang tepat jadi kamu tidak perlu berpikir macam macam "


" Iya Mas "


Bu Rossa menghela nafas panjang dan memberikan senyum terbaiknya untuk Pria yang sangat di cintainya itu.


*


*


*


Sekembalinya Pak Burhan ketempat kerja, Bu Rossa diam diam kembali ke Rumah Sakit seorang diri. Ia merasa tidak tenang sebelum membicarakan semuanya.


Dengan langkah pasti Bu Rossa memasuki ruangan tempat Sinta di rawat, namun sekeras apa pun Ia berusaha tetap saja yang Ia dapatkan hanyalah penolakan dari Sinta.


Hal yang wajar kalau Sinta melakukan itu, kehilangan orang yang sangat kita sayangi tentulah bukan hal yang mudah untuk di Terima, apalagi itu karena perbuatan seseorang.


" Pergi dari sini, sudah aku katakan pergi........! " Teriak Sinta histeris.


" Tapi Sinta aku benar benar minta maaf "


Keduanya tetap teguh pada pendirian nya masing masing.


" Kamu pikir dengan meminta maaf semua nya akan kembali seperti semula, kamu pikir dengan minta maaf bisa mengembalikan Putri ku yang sudah kamu lenyapkan dengan keji. Seharusnya aku melaporkan mu ke pihak berwajib, dan seharusnya kamu itu menjadi penghuni rumah dingin itu bukan malah berkeliaran bebas. Jadi aku minta sekarang sebelum kesabaran ku habis aku mohon pergi dari sini dan jangan pernah menampakan wajahmu di hadapanku lagi "


Bu Rossa sudah kehabisan cara agar bisa mengatakan semua kebenaran tentang masalah mereka, karena Sinta tidak memberikan nya waktu untuk berbicara.


Bu Rossa merogoh kartu namanya dan meletakkan nya di atas tempat tidur dan melangkah pergi. Ia berhenti ketika tiba di dekat pintu keluar.


" Itu nomor telpon dan juga alamatku ku ada di situ, hubungi dan temui aku kamu kamu ingin tahu kabar tentang Putrimu "


Bu Rossa meninggalkan tempat itu setelah mengatakan hal yang membuat Sinta terkejut dan bingung.


..." Putriku.......? apa maksudnya ingin bertemu Putriku, apa dia masih hidup " Batin Sinta....


" Awwwhh...... ! Rintih Bu Sinta.


Ia ingin mengejar Bu Rossa namun tubuhnya masih terasa sakit dan susah untuk di gerakkan