Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Makan kue bersama


Alya berkutat di dapur dengan bahan bahan untuk membuat kue, beruntung semua yang Ia butuhkan tersedia lengkap disana. Tangannya sibuk membuat adonan setelah lebih dulu minta ijin untuk menggunakan dapur rumah itu sebentar.


Para PRT ingin membantu namun Alya menolaknya, tentu akan sangat sangat mudah dan hasilnya pas kalau mengerjakan nya sendiri. Tidak sulit bagi Alya karena kue itu adalah kue favorit nya sejak kecil, Ibunya sering membuatkan untuknya sebagai cemilan dan juga sebagai pengganti makan buat Alya kalau dirinya lagi nggak nafsu makan.


Alya juga membuatkan minuman untuk Pak Hendrik, sebagai teman untuk cemilan. Aroma khas memenuhi ruangan rumah mewah itu menandakan kalau olahan Alya sudah matang sempurna.


..." Hm sepertinya sudah matang, alhamdulillah hasilnya sempurna seperti biasa. "...


Ia mengambil piring dan juga garpu serta memotong kue buatannya untuk di berikan pada majikan barunya. Ia melangkah perlahan menaiki anak tangga mengetuk pelan sebelum masuk kedalam ruangan Pak Hendrik.


..." Aku masuk ya Pak "...


Alya masuk dan meletakkan bawaan nya di atas meja kecil yang berada di samping ranjang.


..." Ini dia Pak, hm semoga Bapak menyukai nya "...


Alya sangat berharap kue buatannya enak dan bisa di terima oleh lidah majikan nya itu.


..." Enak, sangat enak " Puji Pak Hendrik dalam hati....


Ia menatap wajah Alya sekilas, banyak pertanyaan terlintas di benaknya sementara Alya menanti komentar Pria itu dengan harap harap cemas.


..." Ya Allah semoga hasilnya tidak mengecewakan " Batin Alya...


Pak Hendrik tersenyum pada Alya.


" Enak sangat enak, takaran nya semua pas. Apa ini kamu yang buat sendiri " Tanya Hendrik pelan dan hati hati.


Sebenarnya Pak Hendrik ragu kalau kalau pertanyaan akan membuat Alya tersinggung, tapi sungguh Ia tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.


..." Iya Pak itu hasil buatan ku sendiri, sebenarnya itu adalah resep dari almarhumah Ibu, beliau selalu membuat itu kalau aku sedang tidak ingin makan dan aku sangat menyukai nya "...


" Ibu ? "


dret !


Ponsel Alya berdering dan Alya dengan cepat merogoh nya agar tidak mengganggu majikannya, namun Alya ragu untuk menerima nya karena tidak enak hati pada Pak Hendrik.


..." Siapa Alya, kenapa tidak di angkat saja " Tanya Pak Hendrik....


" Ah itu Pak, itu anu..... " Alya bingung harus mengatakan apa.


" Angkat saja siapa tahu itu penting " Titah Pak Hendrik.


Alya akhirnya berdiri sambil berjalan sedikit agak menjauh agar majikan barunya tidak terganggu.


..." Iya Mas Erik " Suara Alya sedikit di pelan kan....


Pak Hendrik tersenyum ketika telinga tuanya masih menangkap samar samar nama Putranya di sebut.


..." Jadi Erik yang menghubunginya, apa benar anak itu peduli padaku dan benar benar menghawatirkan keadaan ku. Tapi kenapa juga Alya sampai ragu ragu mengangkat panggilannya kalau itu memang hanya dari Erik, apa dia.... ah sudahlah, apa pun alasannya yang terpenting Erik masih peduli padaku dan artinya dia tidak membenci ku "...


Alya kembali memasukkan ponselnya kedalam kantong celananya setelah pembicaraan dirinya dan Erik di telpon. Ia kembali melanjutkan tugasnya melayani majikan barunya itu.


" Maaf Pak, oh ya ini Alya ambilkan lagi "


..." Makasih, Eh... kamu juga makan Alya, bukannya katamu kamu juga menyukai kuenya, kenapa sekarang malah kuenya di anggurin padahal sudah di depan mata "...


Alya sebenarnya sangat ingin melahap nya, apalagi aromanya sungguh menggugah selera tapi Ia ragu, bagaimana pun juga Ia hanya seorang pelayan di rumah itu.


" Hm kenapa rasanya jadi hm.... apa ya " Pak Hendrik pura-pura berpikir


Alya merasa tidak enak hati karena masakan nya tidak sesuai dengan lidah Pak Hendrik.


" Kurang apa ya Pak " Tanya Alya kemudian.


" Kurang enak Alya karena aku makan sendiri, kue jumbo seperti ini enaknya di nikmati ramai ramai pasti tambah nikmat "


Alya menarik nafasnya lega, Ia pikir masakan nya memang tidak enak, eh ternyata Pak Hendrik hanya ingin di temani makan.


" Ini untukmu, ayo makanlah " Pak Hendrik memberikan potongan kue di piringnya kepada Alya dan Alya pun menerima nya dengan tersenyum.


" Terima kasih Pak "


..." Lucu sekali " Batin Pak Hendrik. ...


" Sama sama Al "


Mereka menikmati kue olahan tangan Alya yang memang rasanya sangat nikmat itu.


***


Di tempat lain Anggun baru selesai *** *** bersama seseorang, Ia memungut semua pakaiannya yang berserakan di lantai yang memang sengaja di buang begitu saja. Ia berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri untuk kemudian pulang ke rumah.


" Eh Mas, tolong keluar aku mau mandi. Apa Mas tidak bisa tunggu sebentar saja, tunggu sampai aku selesai mandi baru giliran Mas " protes Anggun.


Sayangnya yang diomelin hanya menatap Anggun dengan intens, jakunnya naik turun bahkan tongkat pusaka yang baru beberapa menit lalu menumpahkan laharnya, kini bangkit lagi.


Ia terus menghimpit Anggun memberikan sentuhan di beberapa bagian tubuhnya.


..." Mas cukup, aku harus cepat pulang sebelum nanti membuat orang rumah khawatir. Aku juga tidak mau kalau sampai Mas Hendrik mencurigai ku kalau aku telat pulang " ...


Bukannya berhenti Pria itu malah semakin liar, apalagi setelah mendengar nama Hendrik di sebut, alhasil Anggun hanya bisa mendesah. Pikiran nya berontak namun tubuhnya menginginkannya.


..." Oh...... Sam ! " ******* lolos di bibir Anggun karena kenakalan Pria yang bernama Samuel Hariando. ...


" Kau suka sayang " Tanya Samuel dengan suara berat dan Anggun menjawabnya dengan anggukan.


Samuel tertawa sinis melihat Anggun yang sudah masuk dalam perangkapnya.


..." Jangan sebut Pria lain kalau kau sedang bersama ku, apalagi menyebut nama laki laki tua tidak berguna itu, yang tidak mampu memberikan kenikmatan untuk wanitanya sendiri "...


Anggun hanya bisa merintih menahan sakit di bagian bawah tubuhnya ketika Pria itu mendatanginya dari arah belakang.


Begitulah setiap kali mereka berdua, Samuel akan berlaku kasar kalau wanitanya menyebut Pria lain.


... ...