
🌹🌹🌹
Asrul dan sang pengacara sedang berembuk, membicarakan tentang hak asuh anak dengan serius.
" Untuk kasus ini cukup berat Pak Asrul. Karena sejak awal anda tidak menginginkan pernikahan itu, bahkan Ibu hamil berjuang seorang diri selama hamil dan melahirkan. Begitu juga masalah nafkah, anda juga tidak menafkahi nya. Tiba tiba ketika sudah besar, anda ingin mengambil nya dari Ibu kandung nya. Dalam kasus ini, tentu Ibu nya lebih punya hak penuh. "
Pak Hendra mengutarakan kesimpulan tentang duduk permasalahan yang sedang di hadapi klien nya itu.
" Lakukan apa pun itu Pak, bukan kah itu tugas anda, membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Soal bayaran kali ini saya tidak main main, berapa pun biaya yang di perlukan saya akan membayar nya, asal Bapak bisa kembali memenangkan kasus ini seperti kasus kasus yang lain sebelum nya. " Ucap Asrul.
Pak Hendra kembali memikirkan solusi apa yang bisa mereka tempuh agar bisa memenangkan kasus kali ini, karena selama ini Pak Hendra memang tidak pernah gagal dalam menangani kasus apa pun.
" Kita bisa saja memenangkan kasus ini, kalau anda bisa mencari kekurangan yang ada pada Ibu kandung anak itu. Sehingga pengadilan bisa meninjau kembali dan memikirkan hak asuh anak itu memang tidak layak untuk nya. "
Kini giliran Asrul yang berpikir keras menemukan apa yang bisa dia gunakan untuk merebut Alwi dari Nayla.
" Oh iya Pak Hendra, saya juga ingin menggugat cerai Istri saya. Mungkin bisa sekalian di jadwalkan kapan waktu nya agar saya bisa mengumpulkan bukti bukti kenapa saya melayangkan gugatan cerai untuk nya. "
" Anda ingin menggugat cerai Istri anda sekarang ?. " Tanya Pak Hendra memastikan pendengaran nya, dan di jawab Asrul dengan anggukan.
" Saya sarankan untuk sekarang jangan dulu, masalah nya dalam mengambil hak adopsi anak anda harus punya keluarga lengkap, mempunyai Istri yang nanti akan merawat anak itu. " Saran Pak Hendra.
Asrul menarik nafas panjang dan mengeluarkan nya perlahan. Rasa nya berat bagi nya terus mempertahankan Siska, namun Ia harus melakukan nya demi mendapatkan hak atas anak nya.
" Kamu aman karena sekarang aku lebih mementingkan anakku yang harus aku dapatkan hak asuh nya. " Batin Asrul.
" Baiklah Pak Hendra, lakukan yang bisa Bapak lakukan. Masalah uang tidak perlu anda pikirkan, karena seperti kata saya tadi. Untuk hal ini saya bisa mengeluarkan berapa pun biaya nya demi kelancaran kasus ini. "
*
*
*
*
Asrul kembali ke rumah nya setelah selesai merundingkan dan mendapat penjelasan apa saja yang perlu Ia kumpulkan sebagai bukti. Sepanjang jalan Ia memikir kan hal apa yang kurang dari Nayla yang bisa Ia gunakan untuk dapat merebut hak asuh Alwi dari Nayla.
Sampai di rumah Asrul langsung di sambut Siska yang masih menangis karena tidak ingin di ceraikan.
" Mas.....! Tolong maafkan aku, beri aku satu kesempatan lagi. Aku janji tidak akan mengulangi hal yang seperti itu lagi. " Ucap Siska kembali berlutut di kaki Asrul.
Asrul sebenar nya tidak tega melihat wanita yang Ia cintai menangis -nangis, apalagi berlutut di kaki nya. Namun penghianatan yang Siska lakukan sudah membunuh perlahan- lahan cinta yang Ia miliki untuk wanita itu, hingga membuat rasa simpati nya perlahan mulai memudar.
" Baiklah untuk kali ini kamu aman karena aku tidak akan menggugat cerai dirimu, kamu masih boleh tinggal di sini dan menjadi nyonya rumah ini seperti yang kamu inginkan. " Ucap Asrul mengingat syarat yang di ajukan Pak Hendra, kalau Ia harus mempunyai rumah tangga yang utuh.
Bukan kepalang bahagia nya Siska mendengar ucapan Asrul, bahwa Ia tidak jadi menceraikan diri nya.
" Sudah ku duga, Mas Asrul masih mencintai ku. Dia tidak akan mungkin menceraikan aku, buat salah apa pun tinggal nangis- nangis minta maaf, beres deh. " Batin Siska tertawa kecil, menertawakan akan kebodohan suami nya itu.
" Terima kasih sayang, aku janji tidak akan mengulangi nya lagi. Aku hanya akan mencintai kamu selama nya. " Ucap Siska senang sembari bergelayut manja di lengan Asrul.
" Sudah lah Siska, tidak perlu senang dulu seperti itu. Aku tidak jadi menceraikan kamu karena aku punya alasan nya, saat ini aku sedang mengajukan hak asuh anakku agar jatuh ke tangan ku dan syarat nya aku harus punya Istri, itulah sebab nya aku tidak menceraikan mu. "
Siska terkejut bukan kepalang mendengar ucapan Asrul. Bukan hanya Siska tapi Bu Dian yang kebetulan mendengar itu pun terkejut.
" Anak........?. " Seru Siska dan Bu Dian hampir bersamaan.
Asrul tersenyum bahagia melihat kehadiran sang Ibu.
" Anakku Bu....! ternyata aku punya anak Bu. Nayla Bu..... Nayla dia hamil anakku. " Ucap Asrul bahagia, senyum nya tidak pernah lepas dari wajah nya.
Bu Dian juga bahagia mendengar kabar bahwa Ia mempunyai cucu bahkan dari wanita yang sangat di sayangi nya. Namun kebahagiaan nya tiba tiba lenyap setelah tahu anak nya akan merebut dan memisahkan secara paksa dari Ibu kandung nya yang selama ini berjuang seorang diri.
" Tidak mungkin Mas, tidak mungkin dia anak mu. Bisa saja itu anak Mas Andre, karena dia kabur bersama Andre waktu itu. " Ucap Siska mencoba membangkitkan keraguan Asrul.
" Diam Siska, aku tidak meminta pendapat kamu. Soal itu aku sudah memastikan nya lewat tes DNA dan aku punya semua bukti nya. Jadi jangan coba- coba lagi menghasut ku. Aku bukan orang yang menuduh orang lain tanpa bukti. " Ucap Asrul sinis menyindir Istri nya itu.
Memang selama ini Ia mengakui kalau diri nya telah termakan hasuran Istri nya itu, sehingga Ia berpikir bahwa Nayla lari bersama Pria lain.
" Sudahlah aku gerah mau mandi dulu. Bu, aku ke atas dulu. " Pamit Asrul pada sang Ibu.
Bu Dian bingung apa yang harus Ia lakukan, beliau tahu kalau yang di lakukan anak nya itu salah. Memisahkan anak dari Ibu kandung nya adalah sesuatu yang tidak baik, namun di sisi lain beliau juga ingin merasakan bagaimana rasa nya merawat cucu sendiri setelah sekian lama.
*
*
*
*
Di dalam kamar Bu Dian nampak berpikir keras mengenai masalah yang sedang mereka hadapi.
" Dari awal aku sudah punya ikatan dengan anak itu sejak pertama bertemu, dan ternyata benar, dia cucu ku. Cucu kandung ku sendiri. Makasih Nak kamu sudah merawat dan membesarkan nya seorang diri. Ibu tahu bagaimana susah nya berjuang selama kehamilan, apalagi kamu berjuang seorang diri. "
Bu Dian mengelus sebuah foto berbingkai milik menantu nya itu. Satu satu nya yang tersisa dari kemarahan Siska, semua yang berhubungan dengan Nayla habis di makan api.
" Aku punya ide, bagaimana agar tidak ada yang tersakiti dari mereka berdua begitu juga dengan cucu ku. Dia juga bisa merasakan keluarga yang utuh, semoga saja ini terwujud. " Gumam Bu Dian.
Buru buru Bu Dian menuju kamar Asrul anak nya, setelah di pastikan aman Bu Dian pun mengetuk pintu.
Tok ~ tok ~tok ! Suara pintu di ketuk Bu Dian.
" Nak, ini Ibu.... Ibu ingin berbicara dengan mu sebentar. "
" Masuk saja Bu, pintu nya tidak di kunci. " Jawab Asrul.
Bu Dian membuka pintu perlahan dan melangkah masuk.
🐥🐥🐥
Hai - Hai jumpa lagi dengan Author Nayla, eh Author abal abal. Kurang bumbu tambah sendiri ya sayang semua.
Jangan lupa bagi dukungan nya ya, like, rate. Kalau berkenan bisa Vote dan juga gift ya
Dukungan kalian sangat berarti, Author semangat lho kalau lihat banyak yang like 😍😍
Mampir juga di karya Author yang lain ya, semoga suka.
Makasih 🙏🙏🙏