Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Tak Perlu Mencari Lama


Di pandanginya tubuh kurus yang sudah tidak terawat lagi. Hari hari yang dilakukan Siska hanyalah berpetualang dalam mimpinya. Mimpi yang Ia sendiri tidak pernah melaluinya selama ini.


^^^' Semoga setelah siuman nanti kamu bisa berubah dan melalui serta menyadari semua yang sudah pernah terjadi. Semoga bisa menyadari bahwa yang kamu lakukan selama ini hanya merugikan dirimu sendri " Batin sekaligus harapan terbesar Pak Burhan.^^^


Sungguh Ia tidak pernah mengharapkan apa pun, Ia hanya menginginkan Putrinya siuman dan menjalani hari hari nya secara normal.


Sementara Bu Dian yang memang tidak jadi berangkat masih terus saja berselancar di dunia maya mencari fakultas favorit yang berada di Jerman yang kemungkinan juga itu menjadi pilihan Burhan untuk kedua Putrinya.


*


*.


*


Hari kedua Reihan berada di Jerman, Ia membawa serta rombongan untuk mengunjungi tempat tempat yang Ia tahu sangat indah, kebetulan Reihan juga tinggal disana walau tidak menetap karena Reihan kecil mengenyam pendidikan awal di Tanah Air barulah setelah pendidikan tinggi mereka pindah ke Jerman , namun setelah lulus dan bekerja Ia memilih pulang pergi tergantung tugas membawanya kemana.


" Sudah siap semua " Ucap Reihan tiba tiba membuat mereka semua terkejut.


" Sudah Om " Teriak Alwi sembari berlari ke arah Reihan.


Nayla geleng geleng kepala melihat tingkah Alwi, kadang Ia bertingkah kekanak kanakan namun juga sering bertingkah melebihi umurnya saat ini.


Mereka pergi dengan menaiki mobil milik Reihan, Alwi sangat sangat bahagia. Meskipun bukan Tanar Air namun Ia merasa sedikit terobati kerinduan nya, karena setiap Om Om nya yang datang mengunjungi mereka selalu tidak absen mengajak mereka jalan jalan.


Mereka tiba di sebuah tempat yang sangat indah, Nayla dan Kamika berdecak kagum melihat pemandangan yang sangat memukau mata. Wajar lah namanya juga cewek ya {Apalagi pergi ketempat yang indah bersama yang tersayang pasti akan lebih indah }


Mereka mengunjungi beberapa tempat yang terdapat di dalam tempat itu, tidak lupa juga mereka mengabadikan nya melalui telpon genggam mereka.


Di sebuah Apartemen mewah, Asrul sedang bersiap siap. Hari pertamanya di Negara itu ingin Ia gunakan refresing, merefleksikan sejenak pikiran nya dengan semua beban yang di pikul otak kecilnya itu.


" Ayo kita berangkat " Ia menyemangati dirinya sendiri sembari menaiki mobil yang Ia sewa selama Ia berada disana.


Rombongan Reihan tertawa bersama menikmati Ikon indah di Negara itu.


" Bagaimana Alwi apa kamu senang " Tanya Reihan.


" Senang Om " Alwi menjawab nya dengan tersenyum


Puas mengunjungi beberapa tempat, akhirnya mereka memutuskan berwisata kuliner. Kuliner yang sangat memanjakan lidah tentunya. Mereka akhirnya memesan beberapa menu makanan yang tersedia tidak jauh dari sana, yang memang khusus menyediakan hidangan untuk para pengunjung.


" Sini Nayla "


Reihan mempersilahkan Nayla untuk duduk disampingnya karena kebetulan kursi yang lain sudah penuh. Nayla duduk sambil tersenyum.


" Terima kasih Mas " Jawab Nayla.


*


*


*


Baru sehari Ia berada disana Asrul langsung disuguhi pemandangan yang membuatnya sulit untuk bernafas. Tanpa membutuhkan waktu yang lama untuk mencari, ternyata takdir mempertemukan mereka.


Ia mengepalkan tangan nya, hatinya rasanya bagaikan di iris sembilu, tubuhnya rasanya bagai di timbun berton ton bahan berat.


" Kenapa aku harus melihat semua ini. Bukankah itu Reihan, Ya pengacara Reihan. Pria yang dulu pergi bersama Nayla. Apa memang mereka sudah merencanakan semua ini "


Walau hatinya sakit Ia tetap mengikuti dari jarak jauh kemana Nayla dan juga rombongan pergi, selama mengikuti mereka selama itu juga Ia merasakan sakit yang teramat sangat.


Beberapa kali Ia memukul setir mobilnya karena terhalang beberapa pengemudi yang lain. Ingin rasanya Ia turun dan menghampiri mereka namun di urungkan nya karena waktunya yang tidak tepat.


Dret~dret " Notif di ponsel Reihan


Ia memeriksa apa yang tercantum disana, awalnya Ia terkejut namun akhirnya Ia bisa mengendalikan keterkejutan nya itu agar para wanita dan juga satu cogan nya tidak terkejut dan merasa kurang nyaman.


..." Akhirnya Anda s**ampai kemari juga " Sebuah senyum terbit di ujung bibir Reihan....


Kamila yang sejak tadi memperhatikan raut wajah Reihan semenjak Ia mengambil ponselnya tentu saja menaruh curiga. Berbeda dengan Nayla yang selalu cuek dan tidak ingin mencampuri urusan yang bukan menjadi urusan nya.


" Ada apa Mas Rey, apa ada masalah atau ada pekerjaan darurat. Kalau memang benar lebih baik kita pulang saja " Ucap Kamila langsung tanpa menunggu jawaban Rey.


Nayla menatap Reihan memastikan apa yang di tanyakan Adiknya itu apa benar adanya. Kalau memang benar tentu saja Ia pasti merasa bersalah.


" Ada apa Mas, apa kita pulang saja sekarang. Kamila benar Mas, kalau Mas ada urusan jalan jalan nya nanti saja, selesaikan dulu urusan Mas Rey " Nayla ikut angkat suara.


Reihan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan meraih ponselnya kembali.


Baru saja Ia akan mengirim pesan balasan ternyata satu notif lagi masuk di ponselnya.


..." Sepertinya beliau mengikuti Anda Pak, apa yang harus kami lakukan " Isi pesan singkat...


" Kalian urus saja dia, ikuti kemana dia pergi. Masalah kami nanti aku yang pikirkan caranya terbebas darinya " Balasan Reihan.


Reihan meletakkan kembali ponsel miliknya dan menarik nafas panjang dan menghenbuskan nya kembali.


" Ada apa Mas " Tanya Nayla.


" Hm... tidak apa apa Nayla, tapi kalian pegangan ya kita agak ngebut sedikit karena ada seseorang yang mengikuti kita sejak tadi "


Reihan mengatakan kebenaran nya namun Ia tidak mengatakan siapa yang sedang mengikuti mereka.


" Mengikuti..... siapa Mas, apa kita perlu mengatakan pada Ayah dan Mas Andre " Kamila nampak panik ketika mendengar ucapan Reihan.


Ia sampai berulang kali menoleh kebelakang mencari tahu nun tidak ada yang mencurigakan baginya. Berbeda dengan Nayla Ia nampak tenang dan mempercayakan semua pada Reihan karena dia yakin Reihan tidak akan membuat mereka celaka atau berada dalam masalah.


" Kakak rasa tidak perlu Kamila, kan disini sudah ada Mas Rey. Jangan buat Ayah dan yang lain nya disana cemas memikirkan kita disini. Serahkan semua nya pada Mas Rey, InsyaAllah tidak apa apa "


Nayla mencoba menenangkan adiknya.


" Tahu ih Tante Mila, begitu saja sudah takut biasanya juga berani "


Ingin rasanya Nayla tertawa mendengar ucapan Putra nya namun di tahan nya karena menjaga perasaan Adiknya. Tapi Ia sangat bersyukur karena Alwi ternyata tidak takut sama seperti yang Ia tunjukkan sebelum nya kalau mereka dalam masalah.


" Ih keponakan Tante ini, tentu saja Tante takut. Tante kan belum mau mati, apalagi di tempat jauh seperti ini " Jawab Kamila.


Semuanya tersenyum mendengar ucapan Kamila.


" Sudah siap semua, ayo kita bersenang senang sedikit " Ucap Reihan.


Ketiganya mengangguk mengiyakan, Nayla melafalkan berbagai macam Ayat meminta agar di jauh kan dari segala marah bahaya yang bisa saja merenggut nyawa mereka. Sebenarnya Ia khawatir namun ketika melihat Putra nya, semangatnya kembali lagi.