Lepaskan Aku

Lepaskan Aku
Bisikan Nayla


Dengan semangat tinggi Alya bersiap siap berangkat bekerja seperti biasa, Ia berharap hari ini semua aktivitas nya berjalan lancar tanpa kendala. Bunyi klakson menandakan jemputan tiba, dengan bergegas Alya keluar agar tidak membuat Erik menunggunya terlalu lama.


" Hai Alya, selamat pagi " Sapa Erik tiba tiba ketika Alya baru saja membuka pintu kontrakannya.


" Astagfirullah Mas, kenapa Mas selalu mengejutkan ku " Alya berusaha menetralkan jantungnya yang berdebar.


" Oh maaf Al, maaf.... aku pikir kamu nggak terkejut " Erik merasa bersalah apalagi melihat wajah Alya yang pucat pasi.


" Sudahlah Mas, nggak apa apa. Ayok kita berangkat sekarang, tapi lain kali Mas nggak boleh seperti itu lagi "


Mereka tertawa dan bercanda bersama saat berangkat ke kantor, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tidak suka dengan kedekatan mereka.


" Sial, sejak kapan mereka begitu dekat. Tidak, aku tidak akan mengijinkan hal ini berlangsung berlarut larut "


Sepanjang perjalanan mereka bercanda ria, entah apa yang Alya rasakan. Ia begitu tenang bersama Pria itu, ketakutan yang selama ini ada di hatinya menguap begitu saja berawal dari ajakan Erik yang membawa nya mengunjungi makam kedua orang tuanya.


" Ayo Dek, mari masuk " Dengan hati bahagia tanpa sadar Erik menarik tangan Alya memasuki kantor tempat mereka bekerja, bahkan Erik tidak menyadari dengan ucapannya.


Alya hanya memandangi tingkah Erik, ada yang tidak biasa dari perlakuannya.


" Dek ! maksudnya ? "


Erik menyadari kekeliruannya dan menjadi salah tingkah.


" Oh itu Al, aku kan lebih tua dari kamu jadi aku panggil saja kamu Adek apa kamu tidak menyukainya ? " Erik memberikan alasannya.


"Oh "


" Ah sudahlah Al, ayo masuk kita hampir terlambat "


Lagi lagi rasa sakit hati di hadiahkan Erik untuk seseorang yang selalu membuntuti mereka kali ini.


..." Rasakan kau, emang enak " Cibir Erik...


" Happy birthday Al "


Alya terkejut ketika memasuki ruang kerjanya, sambutan dari Nayla dan yang lainnya membuatnya terharu.


" Makasih " Ucap Alya dengan mata berkaca kaca.


Sudah lama Ia tidak pernah memperingati hari jadinya, sebelumnya Ia bahkan sangat membenci hari itu. Hari kelam hingga akhirnya Ia kehilangan orang yang paling di sayangi nya tanpa tanda tanda apa pun.


" Tapi darimana kalian tahu ulang tahunku, bukankah aku tidak pernah memberitahukan siapa pun "


Nayla tersenyum dan merangkul Alya dengan hangat.


" Met ultah sayang, tetap kuat ya, kami menyayangimu. Aku tunggu kehadiranmu di rumah untuk menjadi kakak ku " Bisik Nayla.


Alya merasa senang namun juga bingung tidak mengerti makna ucapan Nayla. Namun Ia balas dengan tersenyum manis, satu persatu memberinya selamat, tanpa terkecuali Romi dengan membawa kotak kecil sebagai hadiah untuk Alya.


" Ini untukmu Al, selamat ulang tahun. Hm.... doa terbaik saja dari aku untukmu "


Alya berderai air mata menerima semua itu, Ia mendapat kejutan dari orang orang yang baru di kenalnya. Rasanya Ia sangat bahagia, kebahagiaan yang selama ini hilang kembali Ia rasakan hari ini.


" Ini untukmu sayang, jangan pandang hadiahnya ya karena isinya tidak seberapa, pikirkan yang aku ucapkan tadi "


Lagi lagi Nayla membisikkan sesuatu di telinga Alya yang membuat gadis itu semakin bingung.


Semua kembali bekerja setelah acara kejutan selesai, begitu juga dengan Alya Ia kembali bersemangat. Tidak ingin mengecewakan orang orang yang sudah memperhatikan dirinya.


Jam makan siang pun tiba, Erik mengajak Alya untuk makan siang bersama namun Alya menolaknya karena tanggung kerjaan bentar lagi baru kelar.


" Mas duluan saja, aku bentar lagi nyusul "


" Ya sudah Al, aku duluan ya. Ingat nyusul oke " Erik membulatkan jarinya membentuk huruf O.


Alya kembali fokus pada pekerjaan nya ketika pintu ruangan terbuka, ruangan itu di tempati Erik dan dirinya.


" Loh Mas Erik kok cepat amat makannya "


Alya bertanya tanpa memandang siapa yang datang. Karena tanpa suara Alya pun bertanya lagi.


" Mas, kenapa berdiri disana saja apa nggak capek "


Alya baru mengangkat wajahnya ketika menyadari ada yang aneh, wajahnya pucat pasi. Hal yang paling Ia sesali hari ini adalah kenapa Ia tidak ikut ajakan Mas Erik makan siang, dan membiarkan dirinya seorang diri di dalam ruangan itu.


" M Mas Andre " Bibir Alya bergetar.


Bayangan kejadian beberapa waktu silam kembali berputar di benaknya, apalagi kini Andre berjalan perlahan kearahnya.


Alya berdiri dan melangkah mundur sedangkan Andre terus melangkah maju mengikis jarak di antara keduanya.


" Jangan mendekat Mas, atau aku teriak " Ancam Alya berusaha tegar.


" Coba saja kau teriak tidak akan ada yang mendengar teriakan mu karena semua orang sedang makan siang, gimana kalau kita melanjutkan hal yang tertunda waktu itu. Bukankah kau sudah ngebet ingin menikah ya, untuk itulah kau mendekati Erik. "


Andre mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Alya, bahkan hembusan nafasnya langsung mengenai wajah Alya.


..." Mas Erik tolong aku Mas, cepat kembali Mas, tolong aku " Jerit hati Alya....


Tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan tidak tahu harus berbuat apa, karena Andre mengancamnya akan ******* bibir indahnya itu kalau Ia tetap nekat berteriak.


" Tidak sudi aku " Cibir Andre.


Entah kenapa tiba tiba Ia menarik dirinya dari tubuh Alya, dan pergi meninggalkan ruangan itu.


Alya masih menetralkan jantungnya yang berdegub kencang, tapi Ia bersyukur melihat kepergian Andre. Bergegas Ia berlari keluar ruangan untuk menuju kantin menyusul Erik yang mungkin sudah menunggu kedatangan nya.