
Elang menatap Mila yang terdiam, Mila hanya tersenyum kearah Elang . . . meskipun sorot matanya saat ini bukanlah menunjukkan sebuah senyuman.
selesai makan Mila mengantarkan Elang sampai di depan teras , Mila berjalan beriringan dengan Elang sedangkan Aris sudah berada di depan. . .
"sayang" panggil Elang
"iya" jawab Mila
Elang menyadari ekspresi istrinya yang tidak seperti biasanya. . .
Elang menggenggam erat tangan Mila, lalu memberinya pelukan yang hangat . . .
"ada apa mas?"
"jangan meragukan cintaku" ucap Elang begitu serius
Mila mendongak menatap kearah Elang, mencoba tersenyum meskipun bukan senyuman yang ia biasa berikan pada suaminya.
"jangan memaksakan senyummu, itu membuatku seperti orang jahat"
Mila hanya terdiam dan membalas pelukan Elang dengan lebih erat.
"aku mohon jangan meragukanku" ucapnya lagi
"iya mas, sudah berangkat sana" Mila melepaskannya pelukannya lalu berbalik dan meninggalkan Elang begitu saja, entah mengapa dirinya menjadi sangat terbawa perasaan.
dan tanpa ia sadari air matanya lolos begitu saja. . . bi Ijah yang melihatnya pun menjadi penuh tanda tanya. "ibu kenapa, ibu nangis?" tanyanya
Mila segera menghapus air matanya "enggak bi , ini tadi saya belum cuci tangan sehabis potong bawang , jadinya perih" elaknya
"yasudah Bu , ibu istirahat saja biar saya yang membersihkannya" ucap bi Ijah
"makasih ya Bi" Mila menaiki tangga menuju kamarnya. . .
kenapa aku menjadi sensitif seperti ini, ucap Mila dalam hati
.
.
.
Sore hari, terlihat jalanan mulai ramai dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berlalu lalang. . .
pekerja kantor yang sudah pulang kerja maupun anak sekolah yang waktu nya pulang. . .
"dimas, jangan lupa ya besok kumpulnya dirumah saya" ucap Mila yang kini sedang berada diruangan nya bersama Dimas.
"hehe iya Bu, sebenarnya saya masih sungkan. mengapa orang yang tidak penting seperti saya bisa diajak" ucap Dimas sembari membenarkan kacamata nya.
"kamu itu penting dim, kalo nggak ada kamu apa jadinya saya hehe, pasti kelabakan ngurusin semua ini".
"Bu Mila bisa aja, bahkan Bu Mila pasti dengan gampang mendapatkan orang seperti saya"
tok. .tok. .
pembicaraan mereka teralihkan oleh ketukan pintu,
"masuk" ucap Mila
"Bu Mila ada yang mau bertemu dengan ibu" kata seorang pegawai Mila.
"siapa?" tanyanya, tapi sebelum pegawai itu menjawab sosok laki-laki yang gagah dan tinggi berparas tampan memasuki ruangan Mila.
"mas Elang, ngapain disini" tanya Mila yang melihat suaminya ke butiknya, bahkan tidak biasanya Elang ke butiknya. . . sejujurnya ini baru pertama kali nya Elang kesana.
"im really Miss you my wife" ucapnya dengan manja. . . tapi mata Elang mendapati sosok laki-laki yang duduk dihadapan istrinya , membuat wajahnya menjadi datar.
dimas segera berdiri dan menundukkan kepalanya "selamat sore pak Elang, permisi pak Bu" ucapnya lalu pergi dan Elang hanya mengangguk sekilas.
"kamu sama siapa?" tanya Mila mendekati suaminya lalu menyalaminya.
"Aris, di mobil. . . kamu sering berduaan sama dia?" tanya Elang dengan wajah yang tak bersahabat.
"dia. .?" tanya Mila bingung, namun segera menyadari pertanyaan suaminya..
"nggak mas ini dia baru nyerahin laporan"
Mila mengajak Elang untuk duduk. . . mata Elang menyapu seluruh ruangan memandangi ruangan Mila.
"apa memang bentuk butik seperti ini?" tanya Elang
"maksudnya?"
"bentuk butikmu lebih mirip mall yang berukuran mini. . . bukankah butik itu seharusnya diisi dengan gaun-gaun lalu banyak yang memesan"
"butikku sedikit berbeda mas, aku tidak melayani pemesanan. . . semua yang aku desain dengan para desainerku aku jual disini jadi mereka bebas memilih. . aku tidak menyukai pekerjaan yang mengikat apalagi harus ditarget"
"iya mirip pusat perbelanjaan jika dari depan"
"aku siap-siap dulu ya mas" Mila berdiri dan mengambil tasnya lalu merapikan beberapa kertas yang berada diatas meja kerjanya.
tanpa ia sadari tangan kekar sedang memeluknya dari belakang. "what happened?" tanya Mila.
"jangan meragukan cintaku. . ." katanya lagi sambil mengeratkan pelukannya dan mencium aroma yang sangat ia rindukan. . .Elang benar-benar takut jika Mila salah paham terhadapnya, namun ia juga bukan laki-laki yang pandai merayu wanitanya ketika sedang marah. . . memang Mila bukan marah , ia selalu menyembunyikan semuanya dengan apik, yang membuat Elang semakin merasa terbebani.
.
.
.
🌸**ayo ayo semangat jempolnya wkwk 🌸
semoga sehat selalu semuanya** 💋💋💋