Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Merasa tidak dihargai


"mil gue mohon jangan , dia pasti nggak akan ngakuin anaknya" ucap ana yang terus menangis


"tapi na tino harus tau. . .gimana nanti nasib anak Lo"


"gue bisa sendiri mil hiks. . hiks. . "


"kenapa na kenapa?. . apa Tino masih mikir kalo lo itu wanita yang tidur sama cowo manapun"


ana mengangguk dengan sesak di dadanya. . .


"kenapa nggak coba lo jelasin dari dulu aja sih"


ana terdiam. . .


Mila menghela nafasnya mencoba tenang untuk sahabat nya, Mila kembali duduk dan menenangkan sahabat nya. . . .


setelah beberapa saat ana sudah bisa mengontrol dirinya. . . Mila angkat bicara "na gue bakal tidur disini malam ini , tapi gue pulang dulu mandi terus pamit sama suami".


.


.


.


Elang mengacak-acak rambutnya sendiri , masih merasakan kecewa pada orang-orang terdekatnya. . .


ia memutuskan untuk pulang lebih cepat karena dikantor pun percuma ia tidak akan fokus bekerja, tapi sudah hampir tiga jam ia duduk sendiri di ruang tamu rumahnya. . . bahkan langit sudah mulai gelap, tapi Mila tidak kunjung pulang. . .


memang tidak ada yang lebih mengecewakan dibanding penghianatan menurut Elang, ia mengambil gelas yang berisi air putih didepannya,


praaaannnnnkkkkkk. . . ia melemparkannya mengenai dinding. . . kini ia merasa tidak ada yang lebih dipercayai nya kecuali dirinya sendiri. .


ceklek. . .


Mila yang mendengar suara pecahan kaca buru-buru memasuki rumah, pandangannya bertemu pada Elang yang sedang duduk disofa tanpa ekspresi apapun.


Mila berjalan mendekat "mas-", Elang berdiri dan menatapnya, Mila merasakan tatapannya bukan tatapan lembut yang biasanya suaminya berikan kepadanya.


Mila pun sedikit terkejut melihat serpihan kaca berserakan di lantai, "mas ada apa?" tanya nya sedikit takut. . .


Elang mengambil dokumen diatas meja , lalu melemparkannya tanpa berkata apapun. . . . Mila yang masih tidak mengerti dengan sikap Elang mengambil dokumen yang terjatuh dilantai itu, dadanya sesak setelah membacanya, ia tahu Elang pasti marah padanya soal pak Heru tempo hari..


Elang sedikit mengangkat bibirnya "hah, apalagi yang mau kamu jelaskan. . . semuanya sudah jelas!!!" Mila yang mendengar perkataan kasar dari suaminya reflek melepaskan tangannya.


"kamu anggap aku apa?, hah?. . aku ini suami kamu yang bertanggung jawab semua tentang kamu mulai dari ujung rambut sampai kakimu. . .


bukankah waktu itu sudah kubilang tentang hal apapun itu bicaralah !!! kamu masih punya mulut kan?!!! , selalu mengambil keputusan sendiri atau kamu sengaja agar hubungan mu dengan Leon tidak terbongkar!!!" ucap Elang dengan emosi yang menggebu..


Mila merasa hatinya seperti tersayat mendengarnya "mas bu bukan begitu maksud ku , aku tidak ada hubungan apapun dengan Leon" ucap Mila yang menahan tangisnya


"waktu itu tentang Leon, ini tentang Leon mau ngelak seperti apalagi kamu?!!!, jika tidak ada apa-apa seharusnya kamu berbicara padaku bukan . . oh apa memang aku ini tidak ada harganya sebagai suami di matamu!!!!"


"maaf" ucap Mila lirih, ia merasa tidak bisa berkata-kata saat ini


Elang melangkahkan kakinya menuju pintu. . .


Mila mengejarnya dan menarik lengannya "mas mau kemana kamu hiks hiks" air mata itu turun tanpa pamit membasahi pipinya bahkan ia sudah sekuat tenaga menahannya. .


"bukan urusan kamu, ini rumah kamu bukan. . . jadi terserah kamu mau ngapain disini kamu bisa leluasa melakukan apapun disini tanpa meminta ijinku oh ya aku lupa bahkan kamu memang tidak pernah melakukannya.." Elang pergi menaiki mobilnya, meninggalkan Mila yang semakin terisak. . .


Mila terduduk dilantai masih dengan air mata yang terus keluar "mas maafin aku" ucapnya lirih, kini ia meratapi kesalahannya, pada suaminya. . .


"maafin aku mas , maafin aku yang terbiasa ngadepin semuanya sendiri. . . mengambil keputusan sendiri hiks hiks" ia mencoba menjelaskan meskipun sia-sia karena Elang sudah pergi. . .


Mila mengirimkan pesan pada ana karena tidak bisa kesana , ia takut untuk meminta ijin suaminya, ia juga takut Elang akan marah lagi jika ia tidak pamit. . .


dikamarnya. . .


Mila menatap keluar jendela dengan air matanya. .


Mila terus merenungkan apa yang dikatakan suaminya, ia merasa memang benar semua itu. . . mungkin karena ia terbiasa menjadi pimpinan yang mengambil keputusan sendiri tanpa campur tangan siapapun, ia terbiasa bebas karena sebelumnya Elang juga tidak mengekangnya. . tapi kini ia sadar Elang begitu karena peduli padanya. . . dan dia juga harus peduli dengan perasaan Elang.


.


.


.


LIKE VOTE DAN TINGGALKAN JEJAK YA💋💋💋