Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Cepat sembuh sayangku


"Makasih ya yan" ucap Mila yang saat ini sudah ada di dalam mobil bersama Royan.


"Buat apa coba" ucap Royan yang fokus mengemudi.


"Masku beruntung karena punya sahabat seperti kalian, dan aku nggak bisa bayangin kalo kalian nggak ada" ucap Mila karena beberapa hari ini memang Al, Royan, dan Tino bergantian untuk menjaga Elang di malam hari.


"Nggak usah sungkan, justru kita semua memang ngerasa harus selalu ada . . . namanya aja sahabat mil".


Mila mengangguk sembari mencengkeram erat tasnya, sejujurnya ia sangat gugup saat ini memikirkan kondisi Elang.


"tadi aku dari rumah kamu sama Zeze" ucap Royan yang membuat Mila menoleh.


"aku tahu anak kamu juga butuh perhatian lebih jadi tadi aku main sama Gem" lanjut Royan.


"dia kalo malem rewel banget, tapi untungnya kalo siang enggak. . . jadi bisa ditinggal tinggal deh"


"yang sabar ya mil"


Mila mengangguk "dia mungkin kangen Papii nya yan, biasanya kalo mau tidur harus nempel dulu sama Papii nya" ucap Mila sendu.


Royan hanya diam seribu bahasa ia tidak bisa menjawabnya, karena sejujurnya ia juga tidak tega melihat Mila dan Gemilang seperti ini. . .


.


.


.


Saat ini Mila sedang duduk berhadapan dengan dokter yang menangani Elang, Al dan Royan juga ikut dengannya.


"Jadi Bu Mila, saya menyarankan jika kondisi pak Elang tidak ada kemajuan selama dua puluh empat jam kedepan, lebih baik membawanya ke rumah sakit Singa**** saja" ucap dokter itu setelah panjang lebar menjelaskan tentang kondisi Elang yang sempat collapse.


Mila menatap Dokter itu begitu serius, setiap kata yang muncul dari mulutnya bagaikan tombak baginya. ia tidak masalah Elang harus berobat kemanapun asalkan Elang bisa sembuh.


Tapi bagaimana dengan Gemilang jika ia harus menemani Elang berobat, dan tidak mungkin ia meninggalkan Gemilang yang masih kecil itu.


Tapi bagaimana juga dengan Elang, ia tidak sanggup meninggalkan suaminya yang sedang terluka ini.


sebegitu tidak adilnya takdir ini padaku. . .


"Saya mohon usahakan yang terbaik dok, asalkan suami saya sembuh apapun akan saya lakukan" ucapnya menepis buliran air mata yang berjatuhan.


"baik Bu Mila, kita tunggu sampai dua puluh empat jam dulu. . . jika tidak ada kemajuan besok akan saya beri rujukan ke luar negeri" ucap dokter tersebut.


"terimakasih dok, kami pamit permisi dulu" ucap Al.


Mila duduk di depan ruang ICU, ditemani oleh Royan dan Al yang duduk disampingnya. ia terus menatap kosong kedepan.


"kamu pasti bisa mil" ucap Al yang terus menatap Mila "Elang pasti sembuh" lanjutnya memberikan semangat.


Mila mengangguk "aku dan Gemilang sangat membutuhkan dia koh" ucapnya yang mulai terisak.


"Iya-iya aku tahu, kamu harus sabar dan yakin bisa melewati ini semua" ucap Al mengusap rambut Mila.


"Aku kangen banget sama masku, aku nggak bisa lihat dia kayak gitu koh hiks. . hiks. . . aku nggak bisa tanpa dia koh hu. . .huuu. . .hua" Mila menumpahkan semua nya, ia menangis tersedu-sedu.


Al mengusap pundak Mila dan membawanya ke dalam pelukannya, ia tidak bermaksud apa-apa. . . ia hanya ingin memberikan ketenangan pada Mila yang begitu rapuh ini.


"Kamu wanita yang paling kuat yang pernah aku temuin mil, jangan merasa sendiri kita semua ada buat kamu . . . iya kan yan" ucap Al menoleh pada Royan yang hanya terdiam.


"Iya mil, kalo butuh apa-apa ngomong aja" ucap Royan begitu kasihan melihat Mila yang terisak.


"Aku nggak butuh apa-apa kecuali mas ku" ucap Mila dengan suara yang tercekat.


.


.


.


Setelah menumpahkan isi hatinya pada Al dan Royan, Mila memutuskan untuk pulang terlebih dahulu untuk mengurus anaknya yang sudah sangat ia rindukan.


dan setelah membersihkan diri Mila menemui Gemilang yang sedang bermain bersama Sabrina diruang tengah.


"udah pulang mil?" tanya Sabrina melihat Mila.


"iya kak, makasih ya udah jagain Gem" ucap Mila merengkuh tubuh kecil yang sangat disayangi nya itu.


Gemilang merengek-rengek seolah merindukan Mamii nya yang sejak pagi begitu sibuk.


"anak Mamii kangen ya, haus ya. . . ayo nenn dulu" ucap Mila menciumi wajah mungil yang menggemaskan itu lalu memberinya ASI.


Wajahnya kembali bersedih saat menatap anaknya, seolah semua yang ada pada Gemilang adalah fotocopy yang sama persis seperti Elang, terutama bibirnya.


Papah dan mamah Mila yang baru datang dari dapur pun ikut bersedih saat melihat betapa rapuhnya Mila saat ini.


"sayang kamu sudah pulang?" ucapnya menghampiri Mila.


"iya mah"


"gimana kantor?" tanya papahnya.


"aman kok pah"


"makan dulu ini" ucap mamah menyuapkan buah Apel pada Mila.


"makasih mah".


"iya sayang, kamu makan yang banyak dong lihat tubuh kamu kurus lagi tuh. . . di sedot terus sama Gem" ucap mamahnya menoel pipi Gemilang yang sedang menyus*.


"nggak papa mah, asalkan Gem sehat" ucap Mila menatap anak yang sangat ia sayangi, Gemilang adalah sumber semangat nya saat ini.


"Mil, nanti biar papah aja ya yang jaga kerumah sakit" ucap pak Mawardi.


"nggak usah pah, malam ini Mila mau temenin mas Elang. . . papah sama mamah dirumah saja jagain Gem".


"Sendiri?" tanya mamahnya


"iya mah, Mila lagi pengen berdua sama mas Elang".


"biar ditemani kakakmu mil" sahut Sabrina.


Mila menggeleng "aku nggak papa kok kak".


.


.


.


maafkan Mamii ya Gem , harus meninggalkan mu malam ini. . . Mamii harus nemenin Papii kamu. .


Langkah kaki Mila seolah berat saat menginjak kan rumah sakit ini, ia terus berjalan sendiri menuju dimana sang suami sedang berjuang untuk hidup.


ia harus menemani suaminya, bagaimana mungkin ia meninggal Elang yang tengah tak berdaya seperti itu. .


ia juga sangat bersyukur Elang sudah dipindahkan lagi ke ruangan nya, ia sangat ingin tidur sambil memeluk Elang malam ini, ia sangat rindu sentuhan suaminya.


Tangan nya meraih hendle pintu yang tertutup rapat, ada satu orang bodyguard yang berjaga di luar ruangan.


"Antoni" ucap Mila saat melihat sosok bertubuh tinggi itu sedang duduk dikursi samping Elang.


"Bu Mila, kenapa malam-malam begini harus kesini. . . bagaimana dengan anak ibu" ucap Antoni yang langsung berdiri dan membiarkan mila duduk disana.


"Orang tua ku yang menjaganya, kamu pulang saja an . . . biar aku yang menemani masku" ucap Mila menatap wajah tampan suaminya yang begitu pucat.


"Saya akan menemani ibu, jika ibu sudah mengantuk saya akan keluar dan menunggu diluar"


"Tidak perlu an, ini bukan jam kerja" ucap Mila menggenggam tangan Elang.


"Saya hanya ingin melakukan nya untuk pak Elang juga".


"terserah mu an, tapi kalau kamu lelah lebih baik pulang saja".


"tidak Bu, biar saya Carikan minuman dulu untuk ibu" ucap Antoni berlalu dari sana tanpa menunggu jawaban Mila.


Mila mendekat dan duduk diranjang Elang, tangan mungilnya mengusap rahang tegas yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus itu.


"Kenapa disaat seperti ini kamu tetap tampan mas, menyebalkan" ucapnya memaksakan senyumnya.


"kamu tahu nggak, aku udah jadi wanita kuat selama kamu istirahat. . . tapi aku mohon istirahat nya jangan lama-lama ya, anak kamu kangen Papii nya" ucap Mila lalu mengecup pipi Elang begitu lama. "cepat sembuh sayangku".


Seperti biasa Mila membenamkan kepalanya di samping ranjang Elang, ia menggunakan tas nya sebagai bantal, suara tetasan infus serta alat pacu jantung seolah menjadi nyanyian yang begitu ia benci.


Tepukan di pundaknya membuat ia menoleh "Ant---" ucapnya lalu menoleh, ia membulatkan matanya dengan sempurna saat melihatnya.


.


.


.


**Terimakasih atas dukungannya, serta saran dan komentar nya. . . saya akan berusaha untuk mendengarkan usulan kalian, yang sudah mendukung saya apalagi relain buat vote banyak-banyak.


Btw aku nangis terus selama beberapa hari nulis ini 😭😭😭**