Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Siapa yang berlebihan


hari semakin hari mereka semakin dekat, semakin merasakan apa itu nyaman. . . nyaman adalah ketika kita berada didekat orang yang juga menyayangi kita, seseorang yang juga bisa diajak untuk berbagi bukan hanya dalam kesenangan semata, namun juga duka yang nyata.


merasa aman, merasa terlindungi ketika berada didekatnya. . .


.


.


.


zeshhh. . .


suara ikan yang tercebur di minyak panas . . . Mila sedang bergulat di dapur untuk memasak sarapan pagi. . . karena semenjak ia sering sarapan dengan suaminya , Elang juga sudah terbiasa sarapan dengan nasi.


"mil. . .dasi aku yang biru tua dimana!!!" teriak Elang dari kamarnya yang membuat Mila geleng-geleng kepala.


"bentar ya bik, aku tinggal ke atas dulu" ucap Mila pada bi Ijah yang sedang memotong sayur disebelahnya.


"iya Bu"


Mila berjalan cepat menaiki tangga . . .


"bukannya tadi aku udah ambilin dasi . . tadi aku taruh di sebelah kemeja kamu" gerutu Mila


"hehe maaf yang dasinya , ketumpahan minyak rambut aku. . aku mau pakai yang biru tua aja" ucap Elang sambil menggaruk tengkuknya


"ya ampun mas , kamu apain ini" teriak Mila saat melihat tempat dasi yang sebelumnya sudah tertata dengan rapi tapi sudah tidak karuan akibat ulah suaminya.


"aku tadi nyari dasinya uang itu nggak ketemu-ketemu yang" Elang mengelak.


"ini apa" ucap Mila sambil menajamkan matanya.


"loh tadi beneran nggak ada kok, sumpah"


ingin rasanya Mila menerkam suaminya yang terus berkilah..


"sini!, aku pakekin" ucap Mila yang terus menggerutu dan mencebikkan bibirnya, Elang mendekat ke Mila kemudian Mila mulai mamakaikan dasi pada suaminya.


cup. . Elang mengecup sekilas bibir istrinya


"jangan marah-marah terus nanti jelek loh"


"biarin!"


"mau dibeliin apa nanti kalo aku pulang kerja"


"kamu mau nyogok ya" sidik Mila


"enggak beneran, mau apa?"


"ehmm yaudah deh beliin aku cireng"


"emang jaman sekarang masih ada cireng ya" Elang mencoba mengelak


"tau. . ah terserah kamu" Mila hendak pergi namun tangannya ditarik oleh Elang dan langsung mendekapnya.


Mila menghela nafasnya kemudian membalas pelukan suaminya, memang ia paling tidak bisa berlama-lama untuk marah pada Elang.


"udah-udah nanti kamu ikutan bau bawang kalo peluk aku terus" ucap Mila


"biarin itu artinya aku disayang istri, dimasakin tiap hari biar orang-orang tau kalo istri aku pinter masak"


Mila melebarkan senyumnya "manis banget sih mulut kamu mas, kalo lagi muji orang"


mereka berjalan beriringan menuruni tangga. .


dan terlihat Aris yang sudah duduk di ruang tamu nya.


"mas Aris sini sarapan dulu". panggil mila


"nggak usah Bu"


"kalo mas Aris nggak makan aku bungkusin nih" ancam Mila dan Aris langsung mengikuti perintah bosnya untuk bergabung sarapan disana.


"ris kamu urus rapat buat besok ya, saya mau ke puncak sama anak-anak" ucap Elang sambil meminum teh nya.


"loh mas Aris kok nggak diajak mas" kata Mila sambil sibuk mengambil kan makanan untuk suaminya.


"nanti yang ngurusin kantor siapa kalo semuanya ikut"


"nggak papa Bu Mila , saya juga tidak berminat untuk liburan" sahut Aris sungkan.


"yah nggak asik deh"


"kasian kalo Aris ikut , nanti dia jadi nyamuk yang" tutur Elang menyuapkan makanan ke mulutnya.


"oh iya, nanti aja kita liburan bareng sama tunangan nya mas Aris, mas Aris kapan ngajak tunangannya kesini" tanya Mila bersemangat


"nanti kalo pernikahan Tino paling Bu"


"oke deh kalo gitu, tapi mas Aris aku ajak sella nggak papa ya, nanti takutnya mas Aris kerepotan kerja sendirian"


"nggak papa Bu lagian Sabtu kan cuma setengah hari, oh iya pak Elang kemaren Sasa mengirimkan surat pengunduran diri" tutur Aris


"uhuk. . uhuk. . " Elang terkejut seketika langsung mengambil air putih di mejanya.


sedangkan Mila hanya menundukkan kepalanya entah mengapa tiba-tiba hatinya perih melihat Elang yang terkejut seolah tak rela Sasa mengundurkan diri. . . hanya itu yang ada dipikiran Mila sekarang. Apa dia sendiri yang berlebihan . . entahlah Mila memilih diam.


.


.


.


Ayo semangat votenya hehe. . .


semangat Senin semuanya. . .


💋💋💋💋💋