Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
BRT CORP


"apaan sih tin" ucap Mila mengusap air matanya dan segera menghampiri Tino.


"kamu bawa supir?" tanya Tino.


"enggak aku nyetir sendiri" jawab Mila.


"bareng aja kalau gitu, biar mobil aku di ambil supir nanti" ucap Tino yang berjalan berdampingan dengan Mila.


"iya".


Mila dan Tino menuju parkiran mobil, Tino sendiri benar-benar tidak tega jika melihat Mila mengemudi sendiri, padahal supirnya banyak. . .Tino sendiri heran dengan jalan pikiran wanita satu ini.


"kamu jangan nangis terus mil, udah berapa banyak air mata yang kamu keluarkan untuk menangisi Elang yang bahkan baik-baik saja". ucap Tino yang sudah mengemudikan mobil Mila.


"Tin aku bersyukur malahan bisa nangis" ucap Mila yang membuat dahi Tino mengernyit.


"waras gak sih?" ejek Tino yang membuat bibir Mila sedikit melengkung.


"Kamu tahu nggak tin, aku pernah mencoba untuk nggak nangis, dan hanya diam. . . abis itu efeknya terhadap tubuh ku sendiri, aku lemes dan diinfus waktu itu" ucap Mila mengingatkan. "terus kata dokter Puri dokter psikiater ku lebih baik bercerita dan membagi beban pada seseorang dari pada memendamnya sendirian, yang akan menyakiti batin dan fisik ku".


"kamu cerita sama siapa?" ucap Tino penasaran.


"ya karena ana lagi sama sibuknya denganku mengurusi anakmu, jadi aku bercerita dengan Antoni"


"Antoni ahahahha. . ." Tino malah tertawa mendengarnya.


"iya soalnya dia tidak akan bocor, dan hanya dia yang diam saja ketika melihat ku menangis. . . biasanya kalau orang lain akan menyuruhku berhenti menangis, tapi Antoni menyuruh ku menangis sampai puas".


"aneh , dia itu memang aneh mil" ucap Tino yang terus fokus mengemudi.


"bisa dikatakan dia itu seperti mesin" ucap Mila yang kemudian tertawa kecil.


"oh iya, Aris sudah keluar dari rumah sakit" ucap Tino.


"kapan tin?"


"kemaren Mil". jawab Tino sembari melirik Mila.


"Aku akan menjenguknya nanti".


"iya"


Mila merasakan getaran pada ponselnya, ia mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.


"tin agak cepetan dikit ya" ucap Mila setelah membaca pesan itu.


"kenapa?" tanya Tino.


"kata sella, sudah ada yang menunggu ku di kantor".


"dari mana?, tumben kok pagi-pagi gini nggak janjian dulu"


"BRT CORP, aku juga nggak tahu tin. . . tapi sepertinya perusahaan besar".


"oh" ucap Tino yang langsung tancap gas membelah keramaian kota di pagi hari ini.


.


.


.


Mila keluar dari lift , terlihat Sella sudah menunggunya di depan lift lalu memberikan Mila berkas seputar BRT CORP.


Mila berjalan sambil membaca berkas itu, hanya mempelajari nya sekilas saja sebenarnya.


"sudah sel" ucap Mila kembali menyerahkan map itu pada Sella.


"iya Bu".


"Kalau Antoni datang suruh menemui saya" pesan Mila kemudian meraih gagang pintu dan masuk kedalam ruangan.


"Selamat pagi pak , maaf menunggu la--" ucap Mila terhenti ketika laki-laki itu menghadap kearahnya dan tersenyum.


"Da. . Darwin" ucap Mila seolah tak percaya teman SMA nya itu yang ada disana.


"Mila" ucap Darwin mengembangkan senyumnya.


Mila kemudian ikut duduk berhadapan dengan Darwin "kamu dari BRT CORP?" tanya Mila.


"iya mil, ini perusahaan suami mu kan?" ucapnya memastikan.


"Eh iya, kok kamu tahu" ucap Mila terheran.


"sebelumnya aku pernah bekerja sama dengan perusahaan ini, tapi kemarin sehabis kita bertemu aku mengajukan lagi kerjasama tidak ada ACC ataupun penolakan. . . jadi aku putuskan untuk datang kemari" jelas Darwin.


Mila sudah paham, pasti suaminya yang posesif itu tidak mau bekerjasama karena itu perusahaan milik Darwin.


"Jadi kamu membantu suami mu sekarang? , kemana suami mu?" tanya Darwin karena tidak melihat sosok Elang sedari tadi.


"oh, itu dia sedang keluar negeri" ucap Mila tapi tidak akan memberi tahu jika suaminya sedang sakit, karena keluarganya menyembunyikan itu dari publik hanya karyawan nya saja yang tahu.


"Enak ya punya istri serba bisa kayak kamu" ucap Darwin yang membuat Mila tersenyum kikuk menanggapi nya.


Setelahnya mereka berbicara panjang lebar mengenai kerjanya perusahaan, sebenarnya Mila sedang gundah, ia tidak mau Elang marah nanti jika ingatan nya sudah pulih. . . tapi disisi lain perusahaan juga membutuhkan kerja sama ini.


Mila menatap ponselnya sekilas saat ponsel itu bergetar, pesan dari Antoni membuat matanya membulat seketika, namun ia tetap menjaga ekspresi wajahnya agar laki-laki di hadapannya tidak berpikir macam-macam.


"jadi gimana mil?" tanya Darwin setelah membicarakan tentang kerjasama yang menguntungkan itu.


"Iya aku setuju" ucap Mila dengan mantap, sebenarnya pesan dari Antoni yang membuat nya berkata iya pada Darwin.


Darwin mengulurkan tangannya "baik, terimakasih atas kerjasama nya".


Mila terpaksa menyambut tangan Darwin untuk dijabat. "iya sama-sama"


"makasih untuk waktu nya ya, kapan-kapan kita bicarakan kelanjutannya di luar saja" ucap Darwin tersenyum manis.


"i iya win".


Setelah Darwin menutup pintu ruangan nya , Mila menghela nafasnya kemudian menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas itu disofa.


ia masih tidak percaya atas isi pesan dari Antoni.


ia memejamkan matanya sembari mengepalkan tangannya.


Brengs*ek!


"minum dulu Bu" ucap Antoni yang tiba-tiba sudah berada di hadapan Mila , ia menyerahkan segelas air mineral.


Mila meneguk minuman itu hingga tandas tak tersisa, tuk. . . . nafasnya masih terengah.


"Ibu tenang saja, biar saya yang mengurus semuanya" ucap Antoni menenangkan Mila yang terlihat syok.


"saya percayakan semuanya padamu an, kita harus menang" ucap Mila dengan emosi.


"ibu tenang saja, ehmm. . . apa perlu saya ambilkan obat" ucap Antoni melihat wajah Mila yang pucat.


Mila menggelengkan kepalanya "aku nggak papa kok" ucap Mila.


"Setelah meeting Bu Mila langsung pulang saja" ucap Antoni khawatir.


"iya an".


.


.


.


Perbanyak like komen and vote ya gaess 💋💋💋