
Elang tersenyum, "sebenarnya ini kaos aku beli pas waktu checkup kemarin".
"oh" Mila hanya menatap Elang dengan bingung, tingkah nya sungguh aneh dan mungkin benar Elang harus segera melakukan checkup.
"masih ada kerjaan?" tanya Elang melihat meja kerja yang penuh dengan tumpukan kertas.
"tinggal dikit" ucap Mila tanpa menatap Elang, ia terus memandangi bayi tampan nya yang entah sejak kapan sudah tumbuh besar begitu saja.
"biar aku yang urus, kamu urusin Gem aja" ucap Elang kemudian menuju meja kerjanya.
Mila tak henti-hentinya memandang Elang yang terlihat begitu tampan saat disibukkan dengan kerjaannya, mengingat bulan-bulan kemarin ia selalu menemani suaminya kerja seperti ini.
Tunggu dulu!
"mas" panggil Mila yang membuat Elang menoleh, lalu tersenyum pada Mila yang malah terlihat bingung.
"mas kamu emang nya inget cara ngerjainnya" ucap Mila menatap penuh tanya pada Elang.
"coba dulu, kayaknya inget" ucap Elang santai.
"jangan dipaksain kalo nggak inget" ucap Mila khawatir, jika Elang memaksa otaknya untuk mengingat pasti akan pusing dan drop.
"iya".
.
.
.
Mila tak henti-hentinya memandang sosok laki-laki yang sedang mengemudi mobil dengan gagah itu.
Kacamata hitamnya membuat ketampanan nya bertambah berkali-kali lipat.
Sungguh tidak adil rasanya, ia seperti jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama.
Sedangkan Gemilang, anak itu masih setia menempel di pangkuannya, dua manusia yang sangat ia cintai. senang sekali rasanya bersama-sama seperti ini.
"Pi. . .pii" Gemilang terus mengoceh tidak jelas, sepertinya bayi ini sangat senang bisa keluar rumah, semenjak kecelakaan itu Mila memang jarang mengajak Gemilang keluar dari kamar rumah.
"iya Papii ya" ucap Mila menatap Gemilang yang sepertinya ingin ikut Papii nya mengemudi.
"iya sayang, nanti ya kalo udah besar Papii belikan mobil sendiri" ucap Elang mencubit dengan gemas pipi bulat Gemilang.
"Papii , mampir di minimarket dulu ya, Pampers nya Gemilang habis" ucap Mila.
"iya"
Elang menghentikan mobilnya diparkiran minimarket, yang tidak jauh dari rumahnya.
ia membukakan pintu mobil untuk Mila, lalu mengambil alih Gemilang untuk ia gendong.
"kamu ikut apa disini aja?" tanya Mila membenarkan bajunya.
"ayo, aku ikut"
Elang terus membuntuti Mila yang tengah asik mendorong troli, serta memasukkan belanjaannya disana.
"Gem mau biscuit ya" ucap Mila menengok kebelakang, melihat Gemilang yang anteng dengan Papii nya. matanya menelusuri kesana-kemari melihat banyaknya warna di minimarket ini.
"Biscuit nya Gem tinggal sedikit, beliin satu kerdus saja" ucap Elang yang membuat Mila terperangah.
"jangan ngawur deh mas" ucap Mila mendelik kesal, bisa-bisanya Gemilang disuruh makan biscuit satu kardus.
Tapi mengingat sikap Elang yang seperti ini memang tidak seperti biasanya, sepertinya ia harus memajukan jadwal checkup.
Mila terus berbelanja dengan lincah, tangannya seperti sudah fasih menemukan benda-benda yang ia butuhkan.
Matanya terkesiap ketika melihat dua orang yang juga sedang berbelanja diseberang sana.
"kenapa?" tanya Elang karena Mila tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.
Tanpa menjawab pertanyaan Elang, Mila melangkahkan kakinya menuju dua manusia itu.
"koh" sapa nya sungguh tidak santai.
Bagaimana bisa kokoh disini dengan wanita rubah ini.
Mila menatap tajam wanita yang saat ini tengah berdiri didepannya.
"mil" ucap Al tak percaya Mila juga berada disana.
"kenapa bisa sama dia" ucap Mila dengan ketus.
"nanti aku jelasin Mil" ucap Al mendekati Mila , lalu matanya memberi kode pada Elang untuk segera membawa Mila pergi.
Mila menggelengkan kepalanya "nggak mungkin dia kan koh?"
Nggak mungkin dia kan cewe yang dimaksud kokoh selama ini. .
"Mamii Gem pup deh kayaknya" ucap elang mendekat lalu meraih tangan Mila, "ayo pulang saja".
Mila menghela nafasnya kasar "urusan kita belum selesai ya koh" ucapnya menatap tajam Al dan Retha bergantian.
Al sendiri tidak tahu kenapa bisa setakut ini dengan Mila, padahal jika dipikir-pikir mereka sudah tidak memiliki hubungan istimewa lagi.
Al menatap punggung Mila dan Elang yang mulai menghilang, Sentuhan di tangannya membuat ia menoleh.
"kak, aku nggak tau harus dengan cara apa aku meminta maaf pada Mila. . . memperbaiki hubungan yang sudah benar-benar rusuh ini" ucap Retha sendu.
"pikiran kesehatan mu saja ta, masalah Mila biar aku yang urus" ucap Al mengusap rambut Retha, ia lalu berjalan dan kembali memilih belanjaan.
Retha menatap Al dengan sendu, Al terlalu baik sehingga sulit untuk ia membedakan apakah Al memiliki perasaan terhadapnya atau hanya rasa kasihan saja.
Sampai saat ini aku masih yakin jika Mila masih menempati dengan penuh hatimu kak, dan aku hanya lah adik kecil bagimu.
"ta ayo" teriak Al dari seberang sana , Retha memaksakan senyumnya lalu melangkah menuju Al.
Meskipun aku tidak bisa menggantikan Mila di lubuk hati mu, aku berjanji akan membantu mu untuk mendapatkan wanita yang beribu-ribu lebih baik daripada aku.
.
.
.
"orang nggak pup kok" gerutu Mila , ia saat ini sedang di kamar nya mengecek Gemilang.
"tadi kentut doang kayaknya" ucap Elang nyengir kuda.
"huh" hati Mila masih saja sebal mengingat Al yang belanja bersama Margaretha, bukan cemburu melainkan rasa tidak suka pada wanita ****** itu.
"kamu kenapa sih" ucap Elang memperhatikan raut wajah Mila yang sedari tadi masam.
"sebel aja".
"sama siapa?"
"siapa lagi kalo bukan--" ups, sepertinya Mila lupa jika Elang sedang hilang ingatan.
"cewe tadi?" tanya Elang
"Hem"
"atau jangan-jangan kamu cemburu sama Al" tanya Elang menatap Mila.
"nggak lah, asal kamu tahu aja mas di hatiku udah penuh dengan nama kamu, tapi apa?!. . . setitik pun memory tentang aku tidak pernah kan terlintas di kepala mu!" ucap Mila yang sudah benar-benar lelah, ia lelah selelah lelahnya.
"Mil".
"aku capek hati capek pikiran mas" ucap Mila menepuk-nepuk dadanya yang begitu sesak.
Elang memeluk Mila begitu saja , memberikan kenyamanan serta kehangatan sandaran untuk wanita yang sedang lemah ini.
Mendengar Mamii nya menangis, membuat Gemilang yang tengah berbaring di ranjang juga menangis dengan kencangnya.
"tuh kan dia ikutan nangis" ucap Elang melepaskan pelukannya kemudian beralih pada bayi mungil nya.
Mila menghapus air matanya, kemudian menepuk-nepuk punggung Gemilang yang tengah digendong oleh Elang "maafin Mamii ya Gem" ucapnya pada sang buah hati.
ia tidak boleh egois, hampir saja ia menumpahkan segalanya, dan bagaimana jika Elang dan Gemilang melihatnya histeris..
"Besok anterin aku checkup ya" ucap Elang
"besok?"
"iya"
"kenapa?, bukannya lusa?" ucap Mila keheranan.
"dimajukan jadwalnya, ada hal penting yang ingin disampaikan Dokter"
Mila hanya mengangguk. .
Kamu harus kuat mil, ia seperti orang bodoh menyemangati dirinya sendiri. itulah hal yang dilakukan beberapa hari terakhir ini.
.
.
.
**LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋💋💋💋💋
BACA JUGA "BARTENDER CANTIK KU" ❤️**