Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
ditutup dengan indah


sepulang kerja Mila memutuskan untuk ke rumah sakit menjenguk kakaknya dulu sebelum nanti malam Elang datang kesana.


sebelum itu ia sudah janjian dengan Al untuk bertemu di kafe depan rumah sakit. . . .


mila mencari-cari sosok yang harusnya paling mudah ditemukan karena memang sedikit berbeda dari orang di negara ini tentunya.


"udah dari tadi koh?" tanya Mila saat melihat sosok itu.


"baru Lima belas menitan lah".


"gimana kondisi kakak?" tanya Mila


"aman mil"


"syukur deh".


"emang kita mau ngapain tiga hari ini koh" tanya Mila


Al tersenyum melihat perempuan di depannya itu dengan ekspresi yang tak tenang, ia pasti galau.


"mau pacaran" jawab Al menggoda


"ih jangan gila deh koh".


"la mau gimana lagi masa dianggurin akunya hahaha".


"semua ini karena ide gila kokoh, aku takut mas Elang nggak bisa tidur tahu" ucap Mila


"hahaha lucu tau mil kalo ngelihat Elang nahan emosi buat cemburu".


.


Flashback on


sebelum berkumpul di kafe sore itu dengan teman-temannya Mila mendapatkan panggilan tidak dikenal dan menyuruhnya untuk ke suatu tempat yang tak jauh dari rumah sakit itu, dan Mila mendatanginya. . . disebuah danau kecil yang lumayan sepi karena hanya beberapa orang saja yang tau tempat ini. . . dan sebenarnya tempat ini adalah tempat favorit nya dengan Al sejak dulu.


Mila duduk menghadap ke danau memperhatikan sekitar dan ternyata tempat itu memang tidak berubah sama sekali setelah bertahun-tahun. namun sepertinya perasaannya yang telah berubah.


tak lama kemudian Al datang kesana, sesuai janjinya dengan Al mereka memang butuh berbicara. Al duduk disamping Mila . . . tanpa Mila mengalihkan pandangannya pun ia hafal betul dengan parfum laki-laki itu, bertahun-tahun tetap setia dengan parfum yang sama.


"sepertinya kamu harus ganti parfum deh koh" ucap Mila yang terus menatap ke depan.


Al terkekeh kecil mendengarnya "kenapa? bukannya ini parfum favorit kamu?"


Mila terdiam dan menatap kosong, Al tahu betul wanita yang disampingnya itu sedang bimbang.


"aku udah tahu kok mil, perasaan kamu. . . aku cuma mau kamu ceritakan tentang bagaimana kamu bertemu Elang sampai sejauh ini. . . agar rasa penasaran ku terobati".


Mila menoleh pada Al. . . "sejelas itu ya emangnya?"


"kamu bisa berbohong pada siapapun, tapi tidak denganku mil" Al tersenyum kecut.


"emangnya kokoh nggak sakit hati"


Al menggelengkan kepalanya "asalkan itu Elang, jadi aku bisa bernafas lega menyerahkan mu padanya. . . tapi kamu ikutin rencana aku dulu"


setelah itu Al menceritakan tentang ide gilanya yang akan mengajak Elang bersaing tentu saja hal itu dibantu oleh Tino dan Royan. awalnya Mila menolak tapi karena kata Al ingin membuktikan seberapa perjuangan Elang untuk dirinya jadi ia pasrah.


setelah Mila menceritakan bagaimana kisahnya dengan Elang selama ini , Al malah tersenyum geli mendengarnya.


"ya mau gimana lagi cara jatuh cinta kalian itu nggak wajar haha"


"udah deh koh, menurut kokoh gimana perasaan aku waktu dijodohin apalagi cowok yang dijodohkan punya pacar. . . bikin gedek tau".


"yaudah lah, toh sekarang kamu yang berhasil memenangkan hati Elang".


mila mengangguk "kokoh serius mau lepasin aku" tanya nya hati-hati.


"iya mil, ini udah waktunya untuk kita mengakhiri kisah cinta yang rumit ini. . . ini udah jalan kita, dan sepertinya kamu lebih cocokan jadi adik aku sih selama ini haha" ucap Al


"kok bisa?"


"perlakuan kamu ke aku itu sama aja kayak kamu ke kak Erfan nggak beda jauh, sedangkan sama Elang itu beda. . . jadi itu yang aku simpulkan, kamu sayang ke Jen sama seperti kamu sayang ke Exel kan?"


"tapi aku tetep anggep Jen anak aku sendiri kok koh"


"iya-iya aku paham, udah sore ayuk kita harus segera ke kafe nanti siapkan akting yang paling terbaik hahaha".


"kokoh lupa aku dulu pernah ikut teater" ucap Mila yang sudah berdiri.


"iya-iya tugas aku nanti cuma mancing-mancing Elang aja biar emosi" mereka berjalan beriringan karena jarak danau dan parkiran lumayan jauh.


"mau ditonjok lagi kamu koh!".


"haha ampun deh"


"kenapa berhenti?" tanya Mila saat Al masih berhenti dibelakangnya lalu ia menoleh.


"dosa aku dimasa lalu cukup besar mil, aku mencintaimu seperti orang gila yang bahkan aku tidak mencintai ibunya Jen sama sekali, dan banyak menentang orang tua. mungkin ini hal yang dilakukan tuhan untuk mengingatkan ku bahwa pernikahan bukan hal main-main. . . aku anggap hal ini sebagai pelajaran".


"maafin aku ya koh".


Al menggelengkan kepalanya "aku akan berusaha melupakan rasa ini, aku relain kamu sama Elang mil mulai saat ini perasaan diantara kita aku akhiri cukup sampai disini"


Mila sudah tidak kuat menahan isakan tangisnya.. ia menunduk kan kepalanya dan terus menangis dan tanpa berani menatap Al.


"kasih aku pelukan terakhir sebelum kita benar-benar mengakhirinya".


"baiklah" Mila berjalan kemudian memeluk Al sambil menangis tersedu-sedu, betapa pilunya kisah ini harus ditutup. tapi ia juga tidak bisa membohongi Al tentang dirinya perasaan nya, Al pun juga akan tahu tanpa ia memberi tahu. . . cintanya sudah berlabuh pada Elang.


"maafkan aku koh. . ." ucapnya disela-sela pelukan itu. Al mengangguk lalu menghapus air matanya dengan cepat ia tidak mau terlihat lemah didepan Mila.


"marilah berbahagia meskipun tidak saling bersama, terimakasih untuk bertahun-tahun ini" ucap Al mencoba kuat.


Flashback off


.


.


.


**Sebenarnya mau up nanti malam tapi komentar nya hujatan terus jadi nggak tahan deh. . .


maafkeun besok aku libur nulis guys. . . .


lopeyuall 💋💋💋**