
beberapa saat. . .
drrrrrttttgggg. . drrrrrttttgggg. .
ponsel Mila bergetar "Exel sebentar ya, kamu main ini dulu" kata Mila sambil memberikan mainan pada Exel
"o ce ante" Mila tersenyum mendengar jawaban ponakannya itu.
*hallo
ck, ngapain telpon-telpon gue
gausah sok peduli
Lo jangan ganggu gua lagi, gua udah enek sama elo
hah apa cinta*??
"siapa mil?" Elang yang dari kamar mandi ia hanya mendengar kata-kata cinta yang membuatnya khawatir
"bukan siapa-siapa mas nggak penting"
Elang meraih bajunya lalu keluar dari kamar tanpa mengatakan apapun, Jujur ia sedikit kecewa dengan jawaban Mila
"apa Elang marah ya, padahal kan juga nggak ngomong apa-apa" gumam Mila.
mila segera mengambil jaketnya..
"ayo Exel kita mau makan di luar, Exel seneng kan" Mila turun kebawah sambil menggendong Exel, dilihatnya keluarga nya sudah siap . . .
"ayo mil berangkat, lama banget sih" mamahnya Mila
kemudian mereka masuk kedalam mobil Elang yang mengemudi sedangkan papah Mila duduk didepan bersama Elang.
Mila dibelakang bersama mamahnya dan juga Exel.
"gimana lang , urusan kantor lancar kan?"
"iya pah, cuma yang diluar negeri saja ada sedikit masalah"
"bukanyaa yang pegang papah kamu"
"iya pah"
"adduh papah jangan bicarain kantor Mulu kenapa sih, mamah jadi pusing dengernya"ucap mamah Mila.
"ya abis papah bingung mau nanya apa?"
"tanyain aja kapan dikasih cucu"
"mamah" Mila menyela omongan mamahnya
"pasti kalo Elang sama Mila punya anak, anaknya bakal pinter bisnis mah" kata pak Mawardi
"hehehe papah bisa aja" Elang tersenyum malu
"kamu itu sama Mila otaknya brilian, apalagi kalo soal bisnis. . .jadi papah bisa bayangin gimana kecerdasan anak kalian nanti pasti akan melampaui diatas rata-rata"
mereka larut dalam percakapan panjang lebar nya tanpa mereka sadari kini mereka telah sampai direstoran mewah ditengah kota itu.
mereka makan layaknya keluarga yang bahagia , apalagi disela-sela Exel dengan wajah dan tingkahnya lucunya itu membuat mereka semua tertawa . . . apalagi Exel yang tidak mau lepas dari Elang.
setelahnya, mereka merebahkan diri di kamar nya tanpa berbicara apa-apa. . .
drrrrrttttgggg... drrrrrttttgggg...
ponsel Mila terus berbunyi bahkan seprtinya ini sudah lebih dari lima kali namun Mila tetap mengabaikannya...
Elang yang sudah tidak tahan lagi bangun ia menatap kearah Mila , ternyata Mila sudah tertidur pulas. . .
elang melihat ponsel Mila tertera nomer yang tidak dikenali yang melakukan panggilan berulang kali sedari tadi, kini ia berusaha mengangkatnya
*haloo
haloo*
namun nomer tersebut malah mematikan teleponnya.
"asshhhhhh, ck" Elang mengacak-acak rambutnya sendiri.
bisa mati penasaran aku kalo begini , batin Elang
pagi hari
Mila terbangun ,tapi dilihatnya Elang sudah tidak ada, mila lalu mencari kekamar mandi. .tapi juga tidak ada.
Mila turun ke lantai bawah, terlihat mamahnya sedang menyirami tanaman diteras Mila menghampirinya.
"mah, lihat mas Elang nggak?"
"udah berangkat tadi ,katanya ada urusan"
"oh" jawab Mila dengan wajah kecewa
"kamu sih kalo tidur kaya kebo"
"ih mamah, Beru jam berapa coba"
"udah, udah mandi sana"
.
.
.
Mila bergegas ke butiknya, mengendarai mobilnya sendiri..
tok. .tok..
"masuk"
"pagi Bu" ucap Dimas dengan senyum manisnya
"pagi juga dim, maaf ya saya libur lama lagi deh"
"hehe nggak papa Bu, semuanya aman kok"
"iya ini dim, rancangan beberapa rancangan saya untuk bulan depan, kamu boleh revisi"
Dimas membuka lembaran-lembaran itu " kalo ini sih seperti nya nggak ada yang perlu direvisi Bu, iya perfect"