
"pakai itu sekarang juga sayang" ucap Elang
Mila menggelengkan kepalanya "no"
"mau jadi istri durhaka kamu" ucap Elang dengan serius
Mila menghela nafas nya "kamu sangat tahu kelemahan ku, aku benci itu" Mila mengambil salah satu lingerie itu kemudian memasuki kamar mandinya...
namun sudah setengah jam lamanya Elang menunggu Mila tidak juga keluar dari kamar mandinya. . .
tok. . tok. .
"mil buka, kamu lagi ngapain sih"
"iya sebentar" sahutan Mila dari kamar mandinya
"lama banget sih"
"iya iya sabar" ucap Mila setelah membuka pintu kamar mandi dan menyilangkan kedua tangannya di dadanya
Elang tersenyum puas melihat lekuk tubuh istrinya yang indah itu, tapi basa basi langsung menindih tubuh Mila di ranjang.
"sekarang ganti aku yang minta hadiah" ucap Elang yang sudah terdengar begitu bersemangat.
"baik. . .baik. . lakukanlah sepuasmu,hanya ini hadiah dariku"
"tidak ada hadiah yang lebih aku harapkan daripada ini , karena besok libur aku tidak akan membiarkan mu turun dari ranjang" .
malam yang panas baru saja dimulai. . .
.
.
.
ketika sang Surya mulai bersinar dan menembus jendela dimana dua insan sedang tertidur dan saling memeluk layaknya orang kasmaran. dan melampiaskan kerinduan yang terbendung.
"aku sungguh merindukanmu" kata Elang sambil memeluk erat istrinya.
"aku juga" ucap Mila dengan mata yang tertutup
"kamu sudah bangun?"
cup . . .satu kecupan mendarat dengan manis pada kening Mila dan disambut dengan senyuman tentunya..
"hemmm. . . tapi aku malas untuk bangun"
"tidak usah bangun ayo lanjutkan lagi" ucap Elang menggoda
"no. . no. .no, kamu tidak ingat semalam sampai berapa ronde, tulang ku sungguh remuk" jawab Mila sambil menggelengkan kepalanya
"haha , mau makan apa ?"
"jangan bertanya seolah olah kamu ingin memasakkan untukku mas"
"aku bisa masak tau. . . . . masak mie instan hahahaha"
"apa yang kamu banggakan" ucap Mila yang kesal melihat Elang tersenyum dengan bangga.
tiba-tiba. . .
tok. . tok. . "pak buk ada tamu" suara Bu Ijah dari balik pintu
"siapa bi" teriak Elang
"temannya bapak katanya"
"iya pak"
"siapa sih pagi-pagi gini bertamu kerumah orang, ganggu aja" ucap Elang kesal
"la itu kata bi Ijah temen kamu, temuin gih aku mau mandi"
Elang menarik tangan Mila yang mau beranjak, cup . . . kecupan singkat dibibir ranum Mila..
"balas" ucap Elang
"hah? apa?"
"kiss me. . ."
Mila tersenyum "nanti aja belom sikat gigi"
"ayolah beri aku vitamin sebelum menjalani hari-hari ku yang penuh drama ini" ucap Elang manja
"kamu aja yang drama. . . semalem udah cukup vitamin nya ya mas" senyuman Mila seolah tak pudar
"semalem itu suplemen, kalo morning kiss itu vitamin"
Mila mengusap pipi Elang "kamu itu emang paling bisa ngakalin aku ya"
cup. . . akhirnya Mila menyerah dan memilih jalur damai daripada harus beradu argument dengan elang yang tidak ada habisnya.
"nah gitu dong biar aku lebih semangat menjalani takdir ku yang sudah menanti pada detik-detik selanjutnya. . . . dan aku hanya ingin kamu didalam setiap detik itu"
"cih. . udah sana kebanyakan micin jadi bucin kamu"
"pasti kamu yang sengaja kasih micin ke aku kan"
"haha ngawur kamu , tamu kamu bisa gosong kalo kamu kelamaan"
"emang panci bisa gosong"
elang meraih kaosnya lalu meninggal kamar dengan senyuman yang terus mengembang pada bibirnya. . .
dengan rambut yang masih acak-acakan sehabis bangun tidur , ia menuruni tangga rumahnya..
namun ia mendengus kesal saat melihat dua laki-laki yang sudah mengenakan pakaian olahraga nya duduk di ruang tamu rumahnya.
"ada apa" tanya Elang sinis
"sama tamu nggak ada sopan santun nih orang" sahut tino
"males banget harus basa basi" ucap Elang yang kemudian menguap karena masih mengantuk akibat pertempuran semalam. kemudian Elang mengamati pakaian mereka. . .
"mau kemana, ada acara dikantor?" Elang ikut duduk
"nggak pak" jawab Aris singkat
"cepetan mandi sana , ayo kita nge-gym" ucap Tino
"ada angin apa nge-gym tiba-tiba, bukannya biasanya kalo Minggu pagi masih di bar Lo tin"
"Tino lagi galau pak" sahut Aris
Elang tertawa mendengarnya. . .
"sejak kapan seorang Tino Bagaskara galau"
"gue juga manusia biasa Lang" kata Tino memelas
disaat bersama Elang dan Tino memang lebih menggunakan kata-kata santai, hanya saat jam saja mereka berbicara formal, karena mereka sudah bersahabat sejak kecil. . .