Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Jangan sakit


Al dan Margaretha duduk di bangku taman rumah sakit. seolah malam sudah bersahabat dengan mereka berdua dinginnya angin tidak lagi berarti. . .


"maafkan aku Retha" ucap Al begitu serius.


"apa salahmu?" tanya Retha tersenyum kecut


"Retha, apakah benar selama ini kamu memiliki perasaan untuk ku?" tanya Al hati-hati.


Margaretha berfikir sejenak, mau ia menyangkal dengan kata-kata apapun semua orang tahu itu, tapi tidak dengan manusia bodoh satu ini . . . yang bahkan tidak peka akan perasaan nya selama ini.


"iya!" ucapnya mantap.


cukup sudah ia menyembunyikan bertahun tahun perasaannya pada Al. . .


sedangkan Al dibuat tercengang olehnya.


"re retha-" ucap Al tergagap


"aku serius, tidak ada orang yang berarti selepas kepergian kakakku kecuali dirimu" ucap wanita itu dengan penuh keberanian meskipun tangannya bergetar hebat.


"jadi benar semua itu, ja jangan bilang alasan mu membenci Mila selama ini-" Al membungkam mulutnya sendiri.


"iya kamu kak" akhirnya sebutan itu lolos juga, setelah mereka berseteru Margaretha enggan memanggil Al dengan sebutan kakak.


Al menatap Retha dalam-dalam "Retha, bagaimana bisa?" tanya nya


"aku tidak tahu rasa ini muncul begitu saja" ucap Retha memukul pelan dadanya "aku menjadikan Darwin sebagai alasan ku membenci Mila yang telah merebut mu dariku" lanjutnya bersamaan dengan air mata yang menetes.


"jadi kamu tidak benar-benar menyukai Darwin?"


"iya , karena aku tidak mungkin mengakui perasaan ku padamu , aku perlu alasan untuk membenci Mila. . . . alasan untuk kejahatan ku selama ini". ucap Margaretha penuh dengan air mata.


"kenapa kamu sejahat itu?, kamu mendekati Erfan juga karena ingin balas dendam kan?. . ." tanya Al.


"katakanlah begitu, aku memang jahat. . tapi soal Erfan, aku hanya menuruti perintah kedua manusia kejam itu" orang tuanya lah yang dimaksud Margaretha yang telah menjodohkan nya dengan Erfan.


"dan itu sekaligus ajang balas dendam ku, bagaimana aku tidak tergiur" ucapnya dengan seringai kecil menatap Al.


"kenapa Retha kecil ku dulu berubah menjadi sebejat ini!" ucap Al dengan rahang yang mulai mengeras.


Retha hanya mengangguk "itulah kata-kata yang selalu kamu ucapkan setelah bertemu dengan Mila. dan aku benar-benar mengakui kebejatan ku sendiri sungguh. . . sekarang aku menanggung dosa ku" ucap Margaretha mulai terisak.


"maaf" ucap Al lirih, menyadari kesalahannya ia terlalu mencintai Mila, hingga terlalu keras dengan Margaretha yang dulu sangat ia perhatikan.


"Tuhan sedang menegurku" ucap Retha memegangi dadanya yang begitu sesak.


"bahkan sekarang membuat ku segera ingin menemui Tuhan ku". tangisnya begitu pilu.


"apa maksud mu?" tanya Al mengusap pelan punggung Retha.


"aku berdosa pada semua orang, termasuk putra ku" Margaretha menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Al membawa Margaretha dalam pelukannya "kak, aku tidak bisa hamil lagi?" ucapnya sesenggukan.


"ke kenapa Retha?" tanya Al khawatir.


"rahim ku harus segera diangkat, aku berdosa kak"


"kamu sakit apa?"


"kanker rahim" ucap Margaretha dengan bibir yang bergetar.


Al langsung berdiri mendengar nya "dokter itu pasti salah, ayo kita temui siapa dokter yang memvonis mu".


Retha menggelengkan kepalanya "aku sudah periksa sebelum ini kak, hasilnya tetap sama. . aku ingin sekali bertemu dengan Exel, sebelum aku mati!"


"jangan sembarang berbicara!" tegur Al


"kenapa ? kamu masih bersinar di karir mu. . . kamu pasti bisa sembuh" ucap Al meyakinkan.


Margaretha berdiri "aku tidak butuh apa-apa sekarang kecuali anakku. . . tapi aku tidak sebodoh itu akan merebut nya dari Erfan. jadi lebih baik aku mati, tidak akan pernah ada laki-laki yang menginginkan wanita yang tidak bisa memberikan keturunan" ucapnya melangkah pergi.


Al mencekal lengan Retha "ayo menikah dengan ku?" ucap Al begitu serius berbeda dengan Margaretha yang malah tertawa kecil.


"aku tidak akan mati sekarang, jangan merasa bersalah" ucap Retha yang mengerti akan perasaan laki-laki itu.


"aku serius, aku sudah memiliki Jen mari membesarkan nya bersama. . . dan perbaiki hidupmu kembali Retha" tegas Al.


"terimakasih kak" ucapnya memeluk Al begitu erat.


"aku berjanji tidak akan menggangu siapapun lagi disini, termasuk Mila. . . jangan khawatir, aku pergi" ucap nya tanpa memedulikan perkataan Al.


terlalu banyak kesedihan dalam hidup nya. .


Al terus menatap bayang-bayang Margaretha yang mulai menjauh, namun ia tidak pernah main-main dengan tawaran nya untuk menikahi Margaretha.


.


.


.


Mila mengerjapkan matanya ketika mendengar deru suara mobil memasuki rumahnya. ia melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul tiga dini hari.


ia kembali menoleh ke samping nya, melihat tubuh Elang yang begitu pucat dan buliran keringat dingin yang membasahi dahinya.


"mas. . "panggil mila, namun tidak ada jawaban


"mas bangun!" ucap Mila pada Elang yang terlihat menggigil kedinginan namun dengan mata yang terpejam. suhu panasnya pun semakin naik. . .


sesak. . .


satu kata saat melihat orang yang kita cintai terbaring lemah dan tidak berdaya, ia menangis begitu saja. . . melangkahkan kakinya yang lemah untuk meminta bantuan untuk membawa Elang ke rumah sakit.


saat ia membuka pintu kamarnya dilihatnya Erfan dengan Sabrina yang baru pulang dari pesta mereka.


Erfan yang melihat kondisi adiknya berderai air mata sontak membuat nya bingung dan berlari menghampirinya "kenapa dek?" tanya nya setelah merengkuh tubuh adik nya.


"kak tolong" ucap Mila tercekat saat ingin mengutarakan maksud nya.


"ada apa bilang sama kakak" ucap Erfan menenangkan adiknya dengan Sabrina yang terus mengelus rambut Mila.


"Mas ku. . " ucap Mila menatap ke arah kamar diikuti oleh Erfan dan Sabrina.


"dia kenapa?, dia apain kamu?" tanya Erfan khawatir


"Mas ku sakit kak" ucap Mila menangis sesenggukan.


mereka bertiga melangkah mendekati Elang erfan memeriksa suhu tubuh nya sejenak kemudian menatap Mila "dia hanya demam mil" ucapnya.


Mila menggelengkan kepalanya "dia nggak bangun. . ayo cepat kak kita ke rumah sakit".


Erfan masih mencoba membangunkan Elang, namun tidak ada hasil nya sampai akhirnya ia menuruti Mila untuk membawanya ke rumah sakit


.


.


.


**tolong komen sebanyak-banyaknya ya untuk memperpanjang jalan cerita, aku juga belum tega kalo mau tamatin.


lopeyuall 💋💋💋**