
sebulan telah terlewati . . .
beberapa hari lagi, tepatnya lusa adalah resepsi pernikahan Tino dan ana. .
Mila akhir-akhir ini begitu sibuk membantu ana mempersiapkan pernikahannya, karena ia tidak ingin sahabat nya yang sedang mengandung itu kelelahan.
dan seperti hari ini Mila melajukan mobilnya menuju rumahnya, langit yang petang sudah menyelimuti kotanya malam ini. . .
ia pasrah jika sampai nya rumah akan dimarahi oleh suaminya, begitu lah Elang selalu mengomel jika ia pulang terlebih dahulu sebelum Mila.
Mila memarkirkan Lamborghini Aventador nya digarasi rumahnya. namun ia melihat sebuah mobil yang tak asing terparkir disana.
"kak Erfan" gumam Mila melihat mobil itu, ia menghela nafasnya , entah mengapa akhir-akhir ini ia begitu lelah bekerja sambil menyiapkan pernikahan sahabatnya , padahal dipernikahannya sendiri ia tidak mau tau.. ia memijat pelipisnya tubuh yang lelah memang akan berefek pada kepalanya yang terasa berat.
ia perlahan membuka pintu rumahnya dan benar ia mendapati suaminya, kakaknya dan juga Sabrina berada disana.
ia tersenyum, "udah lama kak" tanya Mila sambil bergantian mencium tangan ketiga orang yang lebih tua darinya itu.
"udah dek" jawab Erfan , Mila menggelengkan malas jika Erfan sudah memanggilnya dengan sebutan dek , pasti akan berujung permintaan.
Mila duduk disebelah suaminya dan berhadapan dengan Erfan dan Sabrina .
"kamu pucet banget mil" ucap Sabrina memperhatikan mila.
"ahh iya kak , cuma sedikit capek aja" sahut Mila sambil melirik suaminya takut.
"kalo dibilang suruh istirahat aja ngeyel sih" ucap Elang ketus
"yah dia emang gitu Lang, susah diatur" sahut Erfan
Mila hanya terdiam dan memberikan senyuman semanis mungkin pada dua laki-laki yang terus memojokkannya.
"dek" panggil Erfan
lagi-lagi Mila merinding mendengar kan panggilan kakaknya yang begitu manis itu...
"kak, to the points please..." ucap Mila malas
erfan terlihat begitu serius ingin menyampaikan sesuatu "kakak mau minta tolong sama kamu dan Elang"
Elang dan Mila saling melempar pandang bingung.
"kakak mau ngejalin hubungan serius sama Sabrina" ucap nya melirik Sabrina
"oh jadi udah pada sadar sama perasaan masing-masing" ucap Mila
"iya mil" sahut Sabrina
"tapi kamu tahu sendiri kan mil, benteng pertahanan mamah seperti apa?"ucap Erfan
"kakak udah nyoba ngomong sama mamah"
"udah mil, tapi mamah tetep kekeh sama pendiriannya" ucap erfan begitu frustasi.
"berarti kakak harus lebih semangat berjuang, kakak tahu sendiri aku aja nggak bisa merobohkan pertahanan mamah, jadi kakak usaha dulu aja sendiri lama kelamaan mamah bakalan luluh kok" ucap Mila meyakinkan.
"kakak minta tolong bukan buat itu" ucap Erfan
"terus?" tanya Mila
"kakak nggak punya banyak waktu mil, jadi kakak harus melancarkan rencana"
"orang tua Sabrina akan menikahkan Sabrina dalam waktu dekat ini kalo kakak nggak berhasil mendapatkan restu dari mamah" erfan terlihat begitu lemah
"apa?!!!" teriak Mila kaget "jadi apa rencana kakak?" sambungnya
"kakak mau pergi jauh dengan Sabrina untuk sementara waktu, sampai mamah merestui kita"
"kak!, jangan sembarang deh" ucap Mila
"mamah akan tetep kekeh kalo kakak nggak ngelawan, dan ini untuk pertama kalinya dalam hidup kakak ngebantah mamah, buat merjuangin orang yang kakak sayang mil, udah cukup kakak sama Exel menderita selama ini"
"tapi Exel gimana kak?" ucap Mila sendu
"kakak minta tolong untuk itu, kamu sama Elang tinggal di rumah dulu sementara.. untuk perusahaan terserah kamu sama papah aja"
Mila memijat pelipisnya. . .
"kamu mau kan Lang?" tanya Erfan dan Elang mengangguk
"kamu nggak usah ngomong apa ke mamah mil karena kakak yakin akan berujung perdebatan kamu sama mamah, kamu aja yang ngomong sama mamah Lang" ucap Erfan menatap Elang.
Elang sedikit terkejut mendengarnya, mamah mertuanya begitu galak apakah kak erfan yakin menyuruh dirinya sebagai mangsa mamahnya.
"kok saya kak?" tanya Elang mengerjap bingung
"kamu kan anak kesayangan mamah, mamah lebih mendengar perkataan mu daripada perkataan Mila" ucap erfan yakin
dan Mila juga tahu benar itu, ia sama mamahnya sama-sama keras jadi tidak akan ada hasilnya berbicara pun. harapan satu-satunya adalah Elang yang bisa merayu mamahnya.
"iya , saya akan mencobanya kak" ucap Elang
"kakak akan pergi besok pagi , kamu pura-pura nggak tahu aja, tapi kamu harus bisa meyakinkan mamah kalo kakak pergi karena tak direstui"
Mila mengangguk paham, setelah itu mereka membicarakan tentang hal itu untuk membuat mamahnya luluh ...
setelah kakaknya pamit Mila dan Elang berjalan ke kamarnya Mila memutuskan untuk mandi dan Elang menunggu di ranjangnya.
"kamu sakit?" tanya Elang yang melihat Mila sangat lemas
"paling anemia aku kambuh mas?"
"udah minum obat?, atau panggil dokter saja?" ucap Elang khawatir.
Mila menggelengkan kepalanya "aku cuma butuh tidur aja kok" Mila merebahkan tubuhnya disamping Elang yang terus memandangi nya.
"mau peluk" ucap Mila manja
"sini" Elang mengulurkan tangannya agar dijadikan bantal istrinya lalu memeluknya dengan begitu erat.
.
.
.
**haloo semua ,maaf ya akhir-akhir ini up nya nggak sering... author lagi sibuk UAS....
jangan lupa votenya, author tetep usahain buat up kok💋💋💋💋💋💋💋**