
"martabak manis nya satu ya bang banyakin keju sama susu putih nya ya." ucap Erfan yang kini hendak mengambil sesuatu dirumahnya namun selalu direcoki oleh adik kesayangannya.
"Sabrina udah sampai belum ya" gumam Erfan karena mereka berangkat secara terpisah. Setelah lembur dari kantor Erfan langsung menuju rumah Orang tuanya atas permintaan Sabrina.
"bang martabak telur nya dua ya" ucap seorang wanita disebelah Erfan, Erfan tidak asing dengan suara itu.
"Ma mas Erfan. ."
"Margaretha. ."
Erfan mengajak Margaretha untuk berbicara empat mata setelah mereka membeli martabak itu.
mereka duduk di bangku pinggir jalan. . .
"kenapa tidak menemui ku" ucap Erfan pada wanita yang masih sama cantik nya sejak dulu.
"a aku. . . aku terlalu malu untuk menemui mu" ucap Retha menundukkan pandangannya dan terus meremas dress-nya.
"aku ingin kamu bertemu dengan Exel."
Retha mengalihkan pandangannya pada Erfan. laki-laki baik yang sudah ia tinggalkan dulu, bahkan sekarang pun tetap sama baiknya.
"kenapa kamu baik sekali mas."
"karena Exel juga anakmu, kamu yang melahirkannya."
setetes air mata turun dari pipi Retha "maafkan aku mas maafkan aku" ucapnya bersimpuh di kaki Erfan.
"jangan seperti ini" Erfan membantu Retha untuk berdiri.
"aku benar-benar tidak pantas bertemu dengan Exel" ucap Retha mengusap air matanya, setelah ia duduk kembali.
"kamu yang sudah mengandung nya, melahirkannya dan aku tahu kamu sangat menyayangi nya. . . terlepas dari dulu kamu meninggalkan kita".
"mas aku. . ." ucap Rosella yang merasakan tenggorokan tengah tercekat saat ini "aku menyayangi Exel lebih dari apapun, dan sekarang yang penting ia sudah bahagia bersamamu".
Erfan mengangguk "aku tahu itu, bahkan kamu merelakan nyawamu demi dia".
Erfan mengingat dulu saat mengandung dan dokter mengatakan bahwa kemungkinan kecil keduanya dapat diselamatkan, Margaretha menyuruh Erfan untuk menyelamatkan anaknya saja. . . tapi semua itu hanya Erfan yang mengetahui nya. itu sebabnya ia tetap baik pada Margaretha saat keluarga nya membencinya karena telah meninggalkan dirinya.
"terimakasih mas sudah menyematkan nama pemberian ku padanya". ucap Margaretha, nama Exel adalah pemberian darinya.
"iya".
sampai sekarang pun masih menjadi tanda tanya, mengapa dirimu meninggalkan aku dan Exel. . .
Meskipun kata yang keluar dari mulut Margaretha adalah jika ia ingin menjadi model dan takut namanya tercemar karena telah memiliki anak, Erfan yakin itu bukan alasan utamanya. . .
"aku selalu melihat nya dari jauh" ucap Margaretha yang membuat Erfan menoleh.
"kamu harus menemui nya, aku akan memberikan pengertian padanya. . . dia anak yang cukup pandai".
"aku akan menemui nya jika aku sudah siap".
jika operasi ku berhasil. . .
mata mereka berdua teralihkan pada seorang laki-laki yang baru saja datang.
"Al" ucap Erfan.
"oh, maaf kak aku kira siapa. . . silahkan lanjutkan bicara nya" ucapnya menatap Margaretha.
"tunggu!" ucap Margaretha saat Al sudah berbalik.
"aku sudah selesai, ayo kembali ke rumah sakit"
Lalu Margaretha menatap Erfan sejenak "aku duluan ya mas".
"eh. . . i iya ta".
"mari kak" sahut Al
"iya Al".
Erfan terus menatap dua manusia yang tengah berjalan beriringan itu, lalu sedikit tersenyum kecut.
berbahagialah ta. . .
.
.
.
Erfan memasuki rumahnya. . . suara ramai yang berasal dari ruang tengah membuatnya berjalan kesana.
Keluarga nya sedang berbincang hangat disana, Exel yang sedang dipangku oleh Elang terlihat mulutnya penuh karena memakan biscuit. .
"akhirnya datang juga". ucap Mila merebut kantong plastik dari tangan kakaknya.
"biar kakak ambilin piring mil" ucap Sabrina segera beranjak dan mengambil alih tas kerja Erfan "nggak mandi dulu mas?" tanya nya.
"oh" Sabrina berlalu meninggalkan mereka.
"kok udah dingin sih kak, kakak kemana aja" gerutu Mila cemberut.
"ada urusan sebentar tadi" sahut Erfan ikut duduk di sofa.
"mau aku beliin lagi aja yang?" tawar Elang
Mila menggelengkan kepalanya lalu menyandarkan kepalanya pada Elang yang tengah memangku Exel "nggak usah mas, makan ini aja".
Pak Mawardi dan istrinya tersenyum melihat keluarga nya yang begitu utuh, dan sebentar lagi rumahnya akan dipenuhi oleh berisiknya teriakan dari cucu-cucunya.
Sabrina menghampiri mereka lalu menaruh martabak itu pada piring yang baru ia bawa.
"Brina" panggil mamah mertuanya
"iya mah". ucapnya kemudian duduk di sebelah Erfan.
"jangan menunda buat punya anak ya" ucap mamahnya.
Sabrina tersenyum kemudian menoleh pada Erfan.
"kita nggak menunda mah, sedikasihnya saja". sahut Erfan.
"maaf ya mah, sebelumnya Sabrina berniat untuk menunda dulu karena ingin memberikan perhatian lebih pada Exel. . . tapi mas Erfan melarangnya".
ucap Sabrina.
"iya nak benar Erfan, jangan menundanya. . . lagian Exel juga sudah besar". ucap Pak Mawardi
"Exel sudah besar ya opa. . . berarti Exel sudah bisa dong jadi polisi". ucap Exel dengan suara cadal nya.
mereka semua tertawa mendengarnya "iya-iya terserah Exel mau jadi apa. . . nggak mau jadi seperti Daddy" ucap pak Mawardi tersenyum.
"Daddy kerjanya marahin orang terus" ucap Exel polos, mengingat beberapa kali ia ikut Erfan ke perusahaan dan melihat nya menegur karyawan yang terlambat.
"hahahaha, gemesin banget sih nak" ucap Elang mencubit pipi Exel.
"atau Exel mau jadi kayak om Elang saja ya opa. . ." lagi-lagi ucapan Exel membuat semua orang tertawa.
"emang Exel tau om Elang kerjaannya apa?" tanya Mila.
"kalo dirumah , godain Tante Mila". ucap Exel yang membuat Mila terkekeh, karena Elang memang kadang senang sekali menggodanya dan membuatnya merajuk.
"om itu bukan menggoda Tante sayang, cuma seneng kalo Tante mu ini ngambek". sahut Mila.
Memang tidak ada perdebatan serius lagi setelah perihal Margaretha, namun Elang senang sekali membuat nya merajuk lalu berakhir pada pergulatan ranjang yang panas. . . itu sebenarnya hal yang diinginkan Elang, setelah Mila merajuk pasti rasanya beda.😂
"oh iya katanya sekarang Exel udah tidur sendiri ya?" tanya Pak Mawardi.
"iya Exel udah nggak takut, opa. . . Exel mau cepet punya dedek bayi" ucapnya menunjuk perut Mila yang besar.
"itu kan juga dedek kamu juga" sahut Erfan.
"iya . . . tapi Exel mau dua dad, dan Exel mau Daddy sama bunda yang buat".
"Exel. . . Daddy tidak pernah berkata seperti itu padamu".
"kata Tante Mila, Exel harus sering minta dedek bayi pada Daddy". sahutnya lagi dengan polos dan belepotan potongan biscuit di bibir mungilnya.
"Mila!"
"ampun kak" ucap Mila bersembunyi di balik badan suaminya.
"kalau aja perut kamu nggak gede , kakak pastikan udah habis kamu".
"lawan aja mas ku kalo berani" ucap Mila menepuk pundak Elang.
Erfan menyeringai kecil "kemaren masih satu satu ya Lang skornya". ucap Erfan mengingatkan.
Elang menelan ludah nya kasar, Erfan senang sekali mengajaknya bermain PS di tengah malam. padahal sejujurnya ia sangat malas. . .
"nggak boleh main lagi!, pokoknya awas aja nanti malem kalo keluar kamar" ancam Mila.
Elang tersenyum akhirnya ia terselamatkan oleh istrinya dan bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
Elang mendekati Mila lalu berbisik "tapi nanti mainnya sama kamu". ucapnya jahil.
"kita masih denger Lang!" sentak Erfan yang membuat Elang menggaruk tengkuknya, dan membuat semua orang disana tertawa.
.
.
.
**LIKE , KOMEN , AND VOTE 💋💋💋💋💋
BACA JUGA "BARTENDER CANTIK KU" 😉**