Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
titik terang


"wah ternyata kalian berani nya dibelakang papah ya" canda pak Mawardi


"hehe maaf pah"


"nggak papa nak papah selalu mendukungmu kamu, apapun itu papah akan selalu dibelakang kamu, kamu tinggal noleh aja kali butuh papah" ucap pak Mawardi diselingi dengan tawanya


"makasih ya pah, tapi apa kak Erfan nggak keberatan"


"itu urusan gampang"


Flashback off


"jadi gitu ceritanya sayang, ayo makan keburu dingin"


"iya..iya.." ucap Mila yang sebenarnya ingin mengajukan beribu pertanyaan tapi lebih baik makan dulu saja pikirnya.


mereka makan sepiring berdua seperti permintaan Elang,


"jadi pacarnya Antoni itu bule" ucap Mila sambil menyuapi suaminya


"ya gitu deh"


"pantes dia nolak aku buahahahha" Mila tertawa sendiri mengingat wajah Antoni yang begitu takut ketika Mila meminta untuk menikahkannya dengan Antoni.


"jangan-jangan kamu masih suka ya sama Antoni"


elang menatap tajam istrinya


"masih?, aku itu nggak beneran suka sama dia"


Elang terdiam ...


masih tidak ada jawaban...


"mas... aku itu cuma ngancem papah sama mamah aja waktu itu" Mila meraih tangan suaminya


"coba aja macem-macem sama Antoni biar aku patahin tangannya" ujar Elang tanpa menatap Mila


"ih mas,galak banget sih"


"biarin"


selesai makan Elang meminta ob untuk membersihkannya.


"kamu pulang jam berapa mas?" tanya Mila


"sorean mungkin"


"aku nunggu kamu aja kalo begitu"


"iya sayang"


menatap Mila ragu seolah meminta ijin untuk berbicara dengan Elang.


"kalian santai saja anggap saya tidak ada" ucap Mila lalu kembali sibuk dengan majalah yang dibacanya.


Aris dan antoni duduk disofa berhadapan dengan Mila juga Elang, mereka membahas pekerjaan, Mila tidak terlalu menghiraukan nya.


"tapi bagaimana ini ris , saya kan tidak mungkin meninggalkan perusahaan dengan keadaan seperti ini, tapi saya juga harus mengajarkan Antoni dan menyelesaikan masalah disana secepatnya".


"benar pak, bagaimana mu saya butuh bimbingan bapak untuk beberapa hari disana" sela Antoni


"saya sebenarnya bisa saja menggantikan bapak disini ,tapi bapak tau sendirikan kondisi perusahaan seperti ini tidak memungkinkan seorang assisten bekerja sendirian memimpin" seru Aris mencoba mencari ide atas masalah ini.


"kamu benar ris , mereka akan semakin berkuasa jika saya meninggalkan nya begitu saja"


kini mereka bertiga tampak berpikir dengan serius lalu menatap kearah yang sama sambil mengangguk..


Mila yang menyadari itu, menatap kearah mereka semua dengan bingung karena ketiganya menatap kearah Mila.


"sepertinya kita sudah menemukan titik terang" ucap Elang tersenyum puas


"hey hey ada apa dengan kalian bertiga , aku tidak mau ikut campur ya" jawab Mila lalu kembali menatap majalah karena ia setidaknya sedikit mendengar apa yang mereka katakan tadi.


"ayolah sayang , hanya kamu harapan ku satu-satunya" Elang meraih tangan istrinya.


"ada apa sih mas?" pura-pura tidak mengerti


"kamu menggantikan aku, cuma beberapa hari saja" Elang memasang muka imutnya..


"aku bukan pengangguran mas"


"tidak ada yang bisa kupercayai lagi selain dirimu"


"tapi mas"


"Bu Mila saya mohon" ucap Aris yang semakin pusing memikirkan perusahaan.


"saya tau ibu yang terbaik" Antoni


"kenapa kalian semua menyebalkan sih" teriak Mila


"jadi , iya kan kamu mau kan?" tanya Elang


"aku tidak mengerti bagaimana perusahaan ini mas, bagaimana bisa menggantikan mu begitu saja"..


"itu soal gampang lagian Aris akan bersama mu, aku akan pergi dengan Antoni ke negara sakura . . beberapa hari saja untuk serah terima dengan Antoni" Elang mencium punggung tangan Mila


"jadi Antoni yang akan menggantikan almarhum disana?" tanya Mila