Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Berdamai


siang ini ada yang tak biasa dari biasanya, pasalnya Mila menerima pesan dari seseorang untuk bertemu di restoran XX,


dan disinilah dia sekarang di restoran XX , ia bingung sejujurnya saat diajak bertemu oleh mantan kekasih suaminya. . . Mila meneguk minumnya dengan anggun. entah mengapa ia jadi tidak percaya diri saat ini , ia merasa tubuhnya tidak proposional lagi.


"ehm" Mila berdehem sejenak karena wanita yang berada di depannya tidak mulai pembicaraan sedari tadi, ia juga tau wanita itu terlihat takut ia terus menunduk dan meremas jemarinya.


apakah dirinya semenakutkan itu?


"Bu Bu Mila. . se sebelumnya-"


"panggil saja Mila , saya bukan atasan kamu lagi sekarang". sela Mila


wanita mengangguk "baik, maaf jika menganggu waktu mu"


"no problem" jawab Mila sebiasa mungkin


"sebelumnya saya ingin meminta maaf terlebih dahulu" ucap wanita itu memandang Mila.


"untuk?"


"untuk semuanya, perilaku saya yang kurang berkenan. sebenarnya saya ingin meminta maaf langsung juga pada mas Elang".


mendengar wanita lain memanggil suaminya dengan sebutan mas, hatinya merasa berdesir apalagi wanita ini pernah dicintai oleh suaminya.


nggak boleh nangis, nggak boleh cengeng. .


Mila mencoba menghela nafasnya sejenak untuk tenang, karena benar efek kehamilan ini membuat nya menjadi orang yang cengeng, lemah.


"kenapa tidak menemuinya langsung?"


"karena saya tau dia juga pasti menolak, dan lebih baiknya saya berbicara dengan ibu ehm maksud saya kamu"


Mila mengelus perut nya "sudahlah semua sudah berlalu"


"saya ingin pergi dari sini dengan tenang, sehingga tidak ada lagi yang mengganjal di hati saya. . ."


"kamu mau kemana sa?"


"kembali ke kampung halaman saya, saya merasa tidak ada yang harus dipertahankan lagi disini"


mendengar itu kening Mila berkerut apa yang dimaksud Sasa?


"Bu bukan itu maksud saya, bukan mas Elang tapi. . tapi Leon" ucapnya kemudian menunduk


Mila bernafas lega mendengarnya "aku percaya kamu wanita yang baik , kamu hanya terpengaruh dengan Leon yang mungkin dendam kepada ku. . .jauhi dia, dia tidak mengerti cara memperlakukan wanita nya"


entah mengapa wanita yang dihadapan Mila malah menetes kan air mata nya, yang membuat Mila bingung.


"saya sudah dibodohi oleh Leon selama ini" ucap Sasa yang kemudian menceritakan tentang Leon dimana ia menggunakan dirinya untuk balas dendam ke Mila meskipun itu gagal, dan Sasa sudah terlanjur jatuh hati ke Leon sehingga ia berani mengkhianati Elang, itulah penyesalan dirinya.


Mila menggenggam tangan Sasa yang terus menangis "maafkan aku semua ini karena aku"


Sasa menggelengkan "ini semua karena saya yang terlalu bodoh, saya ingin berdamai dengan masalalu sehingga bisa pergi dari sini dengan tenang. . . karena saya akan memulai hidup baru disana dengan orang yang baru"


"maksud nya?"


"saya dijodohkan dan akan segera menikah"


setelah berbincang bincang mereka sedikit bisa menghilangkan jarak dan menjadi lumayan lebih akrab. mereka berada di depan restoran Mila menunggu sopir nya.


"mi Mila. . ."


"iya?"


"bolehkah saya mengusap perut mu"


Mila tersenyum dan mengangguk. . . Sasa mengusap perut Mila dengan lembut "selamat ya" katanya.


"iya sama-sama, hati-hati ya maafkan kesalahan ku juga selama ini"


ternyata berdamai seindah ini. . .


.


.


.


"mas" panggil mila pada Elang yang sedang sibuk dengan laptopnya sedangkan ia sudah berbaring diranjang.


"iya sayang" Elang mengalihkan matanya sejenak kemudian kembali menatap laptopnya.


"mau dielus. . " ucap Mila dengan manja, kebiasaan barunya saat hamil menjadi susah tidur dan akan tidur apabila Elang mengelus-elus perutnya.


Elang tersenyum sejenak lalu segera menutup laptopnya dan menghampiri Mila diranjang. Mila sudah berbaring miring, Elang memeluknya dan mengelus perutnya dari belakang.


"selamat tidur istriku" cup. . . Elang mengecup kening Mila.


"mas, ada yang mau aku ceritain" ucap Mila menggenggam tangan Elang yang berada di perutnya.


"apa?"


"sebenarnya tadi siang aku ketemuan sama Sasa"


Elang langsung terbangun dan memeriksa semua tubuh Mila "ka kamu nggak papa kan, kamu nggak diapa-apain kan?" tanya nya khawatir..


Mila tersenyum "seharusnya kamu lebih tahu siapa dia mas, dia bukan wanita seperti itu"


Elang mengecup tangan Mila " dia ngomong apa sama kamu?"


"dia meminta maaf pada kita untuk semua kesalahannya" Mila menghela nafasnya "padahal kalau dipikir-pikir aku juga bersalah"


"sayang-"


"mas aku tau betul bagaimana rasanya jadi Sasa , aku pernah diposisi nya" Mila mengingat bagaimana ia membenci istrinya Al dulu.


"sudahlah ayo tidur, jangan memikirkan apa-apa"


Elang kembali merengkuh Mila.


"maafkan aku yang hadir ditengah-tengah kalian berdua" Mila merasa bersalah.


"jangan meminta maaf, aku bersyukur untuk hal itu"


mata Mila mulai memanas "dia wanita yang baik mas"


mendengar suara istrinya yang bergetar Elang langsung membalikkan tubuh Mila.


"jangan memikirkan apapun mil, yang terpenting adalah aku mencintaimu dengan sangat dan tidak ada yang bisa mengubah itu"


Mila mengangguk kemudian memeluk Elang dengan erat.


"aku mau ngomong sama baby sebentar" Elang mendekat kan bibirnya pada perut Mila "maafin Mamii kamu yang cengeng dan manja ini ya. . " ucapnya dan mendapatkan cubitan dari Mila.


"ih jahat banget sih"


"ayo-ayo tidur. . bumil jangan begadang"


"besok jadi reunian mas?"


"jadi sayang , ayo cepetan bobok"


"nggak mau" jawab Mila dengan manja. Elang menghela nafasnya Mila memang susah sekali untuk diajak tidur.


"mau nya apa?"


"mau kamu"


"beneran?" tanya Elang dan Mila mengangguk.


"dengan senang hati sayangku"


semenjak kehamilan Mila memang lebih ekspresif, dan lebih berani entah ini pengaruh hormon kehamilan atau tidak yang pasti Elang malah senang dengan istrinya yang lebih menggairahkan, ia sangat seksi dimatanya dan wajah nya pun lebih bersinar meskipun kadang terlihat pucat. yang pasti istrinya lebih cantik berkali-kali lipat saat mengandung.



.


.


.


vote nya ya gaessss. . . juga komentar nya yang banyak hehe. . .