Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Meledak


Mila mengerjapkan matanya perlahan, namun saking kagetnya ia langsung terduduk mengingat ia sekarang ada dimana. . .


lalu pandangannya menyapu seluruh ruangan dan tidak ada satu orang pun disana, kini matanya beralih pada jas yang menutupi tubuhnya, matanya mulai berkaca-kaca. . .


ternyata dia masih peduli, batin Mila diiringi air mata yang terus terjatuh dengan cepat ia menghapus nya.


ia beranjak pergi dari sana namun baru ia membuka pintu, bersamaan Elang Aris dan Tino yang hendak masuk ruangan. . . tatapan nya bertemu pada Elang...


"ibu mau saya antar" tanya Aris karena kedua orang yang saling bertatapan itu tidak ada yang membuka suara sedikitpun.


"oh , nggak usah mas Aris. . . aku bisa sendiri"


Mila memilih pergi darisana. .


"mil" suara itu menghentikan langkahnya, namun bukan suara yang saat ini ingin ia dengar.


"ada apa tin" Mila berbalik


"ana sakit apa?"


Mila menghela nafasnya demi apapun sekarang ia ingin sekali menghajar laki-laki itu.


"datang ke rumah sakit XXX malam ini, memang ini bukan hal yang patut disembunyikan" ucapnya mencoba tenang


"maksud kamu apa mil?"


"aku nggak suka banyak pertanyaan, datanglah jika kamu merasa masih laki-laki" ucap Mila yang kemudian pergi meninggalkannya.


dan mereka bertiga memasuki ruangan kerja Elang. . .


"Lang, apa maksud istrimu" tanya Tino dan Elang hanya mengangkat bahu nya.


"apa dia mau mengajak ku berkelahi" ucap Tino santai


"maksud mu tin?' tanya Aris


"kamu denger sendiri kan ris, aku disuruh datang kalo masih merasa laki-laki"


"jangan menyentuh nya" ucap orang yang terdiam dari tadi..


Aris dan Tino hanya melempar pandangan satu sama lain, "Lang, mendingan lo pulang deh. . . kelihatan nya Mila tertekan".


"bukan urusan mu" jawab Elang yang kembali sibuk dengan berkas-berkasnya...


menasehati sahabat nya yang seperti batu itu memang tidak ada gunanya pikir Tino.


.


.


.


"makasih" ucap Mila yang baru saja membeli makanan di kantin rumah sakit..


ia berjalan menyusuri rumah sakit itu. . .


"mila. . . " terdengar seseorang memanggilnya


ternyata dia datang , batin Mila


"dimana ruangan nya?" tanya Tino


"kita bicara diluar sebentar tin"


Mila mengajak Tino menuju taman belakang rumah sakit itu. . . Tino memilih duduk di bangku kosong sedangkan Mila berdiri sambil menyilangkan tangannya. . seperti orang yang mau menantang musuhnya. .


nggak suami nggak istri kok serem semua sih, ucap Tino dalam hati


"gue bakal to the points tin, karna gue nggak suka bertele-tele. . . jadi lo udah berapa kali tidur sama ana?"


Tino makin gelagapan dilempar i pertanyaan itu, tentu tidak terhitung jawabannya . . . namun Tino benar-benar tidak percaya mengapa ana harus memberi tahu Mila.


"gu gue nggak ngitung lah mil"


"dan Lo pikir sahabat gue itu j*lang!!!?" tanya Mila penuh penekanan


"eng enggak gitu mil"


"Lo pasti mikir kalo ana itu cewe yang sering tidur sama pelanggan nya dibar kan?"


Tino hanya terdiam. . .


"shittttt, demi apa pun gue benci sama Lo tin... Lo yang udah ngerusak sahabat gue, dan kalo Lo pikir dia itu sering tidur sama om-om Lo salah besar tin.. dia tidur cuma sama Lo!!!!! . bahkan elo yang pertama elo yang buat dia jadi tergila-gila sama Lo sampe nggak waras . . sampe dia nggak mikir apa yang dia lakuin selama ini"


"tapi dia sendiri kok mil yang ngomong gitu"


"bodohhhh... dan Lo percaya, dia kayak gitu biar ada alesan buat dia ketemu sama Lo. . . Lo kan sering main seharusnya Lo tau mana cewe yang hanya tidur sama Lo mana yang bener-bener jal*ng"


"jadi sekarang maksud Lo apasih mil, pusing gue Lo marah-marah terus nggak jelas kaya laki Lo"


"nggak usah bawa-bawa Elang. . . ini semua salah Lo"


"gue udah minta maaf sama dia , tapi dia malah nyuekin gue" ucap Tino penuh penyesalan.


"kapan lo terakhir tidur sama dia?!!!"


"lupa lah , udah lama"


"pakek pengamanan nggak!!!!"


Tino masih tidak paham apa yang dimaksud Mila , ia terus berfikir memutar otaknya.


"pakek seinget gue"


plakkkk. . . satu tamparan mendarat di pipi Tino..


"maksud lo apaan sih mil!!!" teriak Tino


"ada benih Lo , didalem perut ana. . . tanggung jawab!!!!!" bentak Mila yang sudah tidak sabar


Tino menggelengkan kepalanya "enggak enggak mungkin Lo jangan ngada-ngada mil, meskipun dia hamil itu juga belum tentu anak gue"


Mila menarik kerah kemeja Tino. . .


"sekali lagi Lo ngganggep sahabat gue ******, gue tonjok Lo"


tanpa mereka sadari semua orang yang disana memperhatikan mereka yang sedang bertengkar.


"Lo jangan ngarang ya mil, Lo kesurupan apa sih " ucap Tino


plakkkk. . . Mila kembali menamparnya.


Tino yang terbawa emosi mendorong Mila hingga terjatuh di tanah. . .


"pokoknya elo harus tanggung jawab !!!!" teriak Mila yang masih terduduk dan Tino memilih pergi daripada harus memukuli wanita.


sedangkan Mila masih terus berteriak histeris dan memukuli kepalanya sendiri seperti orang yang sedang kesurupan.