Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
bubu?


Mila berjalan dengan tatapan kosongnya, ia melangkah perlahan menuju ruangan kakaknya. mengapa begitu rumit sekali. entah mengapa kali ini kembali nya Al tidak mengulas kebahagiaan sedikitpun. hanya luka-luka masalalu yang terbuka kembali. . . .


"bubu!. . ."


Mila menoleh kebelakang. pandangannya tepat didepan anak kecil yang kira-kira berumur tiga tahun itu. dengan rambut yang dikucir dua, badannya sedikit berisi kulitnya sangat putih juga pipi bakpao nya yang menggemaskan.


Mila berjongkok saat anak kecil itu merentangkan kedua tangannya berlari kecil kearahnya.


"Jen"


Mila memeluk erat, tubuh mungil itu. . . rindu, sesak, perih, yang membuat air matanya keluar lagi.


"Jen kangen sama bubu"


Mila merenggangkan pelukannya, "bubu juga kangen sama Jen" Mila mengusap lembut pipi chubby anak manis itu.


"maafin Jen sama Ayah, Jen harus meninggalkan bubu. . . ayah bilang ini demi bubu" ucapnya polos.


Mila mengangguk lalu mengusap air matanya yang sudah tumpah itu. "maafin bubu juga ya Jen"


"Jen!. . "


"kamu dicariin mbak tuh Jen" ucap Mila melihat seorang wanita memakai pakaian baby sitter berjalan kearahnya.


"Jen mau sama bubu" ucapnya bergelayut manja di pundak Mila.


"ya ampun Jen, mbak nyariin kamu kemana mana" ucap perempuan itu yang kemudian terhenti ketika melihat Mila bersama Jen.


"mbak mbak Mila" ucapnya tercengang.


"iya mbak Kiki" ucap Mila mengulas senyumnya.


wanita itu berhamburan memeluk Mila "saya pikir nggak bisa ketemu mbak Mila lagi, ya Tuhan kangen banget sama mbak".


"jadi mbak ikut Kokoh pergi waktu itu?" tanya Mila


Kiki adalah pengasuh Jenita sejak kecil, sejak ia ditinggalkan oleh ibu kandungnya.


"iya mbak mana mungkin saya ninggalin Jen".


Mila melihat jam tangannya, mengingat mamahnya sudah menelepon sejak tadi karena ia takut Mila akan bertemu bersama Al.


"Jen, bubu harus pergi. . . lain kali kita main bareng ya" Mila menyerahkan kartu nama nya ke Kiki. "bubu udah kasih nomer bubu ke mbak, jadi nanti Jen bisa minta tolong mbak buat telpon bubu ya".


anak kecil itu menggelengkan kepalanya terlihat raut wajah kecewa nya.


"Jen" Mila berjongkok lalu mencium pipi Jen.


"nanti bubu ajak Jen ke taman bermain yang dulu yang kesukaannya Jen" ucap Mila mencoba membujuk.


Jen mengerucutkan bibir mungilnya "iya tapi bubu harus janji ya"


Mila mengangguk "boleh bubu minta satu permintaan".


"apa bubu?"


"jangan kasih tau ayah ya, kita pergi berdua saja" Mila bergantian menatap Kiki "tolong rahasiakan ya mbak" Kiki mengangguk pelan, ia tahu betul apa yang terjadi diantara Mila dan Al.


"iya Jen janji, Jen juga nggak mau ayah misahin Jen sama bubu lagi".


Mila mengusap rambut Jen "good girl, hati-hati ya kalian mau pulang kan?"


"iya mbak mila"


Mila melangkahkan sambil melambaikan tangannya pada anak kecil yang seperti boneka itu.


ia bisa tersenyum saat mengingat kenangan bersama Jen ,namun tidak kenangannya bersama al. mengapa jadi serumit ini. . . ia memikirkan cara untuk memberi tahu Elang secepatnya, namun disisi lain ia begitu ragu, takut Elang emosi atau bertindak gegabah. . . apalagi mereka bersahabat.


.


.


.


angin berhembus, suara musik yang menenangkan, ditemani kopi yang memberikan rasa pahit bercampur dengan manis. . .


di kafe bernuansa klasik ini terlihat Royan, Elang dan Tino sedang gusar dengan pikiran masing-masing.


"iya yan" sahut Tino memperhatikan wajah Elang yang tidak seperti biasanya.


"kenapa dunia bisa sesempit ini sih" gerutu Royan yang menjadi sangat cerewet, begitu lah dia rasa solidaritas nya sangat tinggi sehingga ia selalu meluruskan teman-temannya jika sedang bermasalah.


"Lo udah nyuruh istri Lo dateng kan Lang" ucap Royan.


Elang mengangguk lemah "dia otw dari rumah sakit sekarang".


"tapi Renaldi mana mbing?" tanya Tino.


baru saja ditanyakan, ternyata Al sudah berjalan mengahampiri mereka. "sori telat" ucapnya kemudian duduk.


"pasti keras banget ya" ucap Tino memperhatikan ujung bibir Al yang lebam.


"sedikit, lumayan lah selama ini kan cuma aku yang belum ngerasain tonjokan maut Elang" canda Al melirik Elang yang terus terdiam.


"iya kalo dipikir-pikir sih ini pertama kalinya nal, gue sama Royan udah hafal bener rasanya" sahut Tino.


"langsung ke intinya saja , nggak usah bertele-tele" ucap Royan.


"jadi, kenapa elo nggak ngasih tahu nal. . . kalo Mila ternyata cewe terlarang yang Lo ceritain selama ini, cinta pertama Lo yang bertahun tahun Lo perjuangin".


Al tersenyum kecut mendengar nya, ternyata Elang sudah tahu semuanya. "aku cuma nggak mau ngehancurin persahabatan kita" ucapnya melirik Elang.


"kalo Lo bersikap biasa aja ke istri gue dan lupain kejadian kalian dimasa lalu, mungkin itu nggak akan ngerusak persahabatan ini" sahut Elang masih dengan wajah yang dingin.


"nggak semudah itu Lang" ucap Al lemah.


"tapi gue juga mana tahu sebelumnya kalo Mila cewe yang Lo maksud itu nal".


"ini mungkin yang disebut takdir Lang". jawab al, sedangkan Royan dan Tino memilih diam agar mereka berdua bisa meluapkan isi hati nya.


"tapi gue nggak rela Lo jadi bayang-bayang di rumah tangga gue".


"sejujurnya aku juga nggak rela ketika melihat wanita yang ku jaga sedari dulu, lolos begitu saja ke pelukan mu"


"huh. . . dia istri ku nal, Lo nggak punya hak untuk nggak rela". ucap Elang mencoba menahan emosi nya.


"aku tahu Lang, tapi hati juga tidak bisa dipaksa. . . aku hanya mencoba jujur saja".


"aku tahu kamu bukan orang yang seperti itu nal, kamu Renaldi yang sangat bijak dan tidak mungkin bertindak diluar norma-norma, merebut istri orang misalnya". ucap Elang menyeringai.


"Lang cukup!" ucap Royan, jika Elang terus berbicara seperti itu bisa menyulut emosi diantara keduanya.


"apa yan! jadi Lo mau bilang kalo gue yang udah ngerebut Mila dan harus ngalah. . . cih, nggak Sudi".


"aku telat banget ya" ucap perempuan yang terburu-buru menghampiri mereka, celana jeans panjang dan outer ring yang membalut pas tubuhnya. angin yang menerpa rambutnya, seolah menjadi daya tarik sendiri untuk para laki-laki yang menatap kagum kearah nya.


ia duduk disebelah Elang, namun matanya melebar seketika saat melihat Al juga berada disana.


"enggak kok, kamu abis lari ya" tanya Elang melihat nafas Mila yang sedikit tersengal.


ia mengusap pipi Mila dengan lembut, Mila menggelengkan kepalanya. "aku nggak papa mas, takut kalian nunggu lama" ucapnya menenangkan.


"minum dulu" Elang menyodorkan air mineral itu.


Mila mengangguk, lalu meminumnya. . . ia sebenarnya sangat grogi menatap semua orang disana begitu tegang.


.


.


.


**PAGEE SEMUANYA. . .


MAKASIH KOMENNYA YA. . .


yang bilang up nya lama, maaf karena saya bukan pengangguran jadi harus membagi waktu untuk bekerja dan menulis.


tapi jika kalian lihat saya up nya teratur kok , lihat tanggal nya ya. . . jika saya sehari tidak up saya juga akan up 2x di up selanjutnya.


buat yang minta crazy up maaf masih belum mampu, tapi yang penting sesibuk apapun saya menyempatkan untuk up.


lopeyuall 💋💋💋**