Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Mengabaikan ku


Elang memeluk Mila dari belakang, saat ini mereka sedang berbaring diranjang rumah sakit itu. . ditemani lampu kecil yang redup.


"yang" panggil Elang dengan lembut.


Mila yang hampir terpejam kemudian membuka kembali matanya "Hem" jawabnya dengan suara yang serak.


"kamu nggak ngidam?".


Mila menggelengkan kepalanya "belum mas".


"cepetan ngidam dong yang, nanti biar aku cariin".


Mila menahan senyumnya karena tingkah Elang "kamu semangat banget mas"


"buat kamu sama baby ke ujung dunia pun aku Carikan mau apa planet, atmosfer, ".


"jangan ngarang deh mas!".


"ngadep sini dong yang" ucap Elang mencium tengkuk Mila


"ngapain, gini aja anget mas" Mila mengeratkan tangan Elang yang berada di pinggang nya.


"mau kiss" ucap Elang dengan manja.


"nggak! nanti kamu ngarep lebih". Mila mencebikkan bibirnya


"aku tahan sayang, janji deh demi kamu sama baby"


Mila berbalik begitu saja menghadap ke Elang. .


"pelan mil, kamu itu sekarang lagi hamil nggak boleh kasar gini pergerakannya". gerutu Elang


"hehe iya mas lupa" ucap Mila mencolek dagu Elang.


Elang mengecup kening Mila lalu memeluknya dengan lembut karena takut menekan perut Mila.


"selamat tidur ibunya anak ku" bisik Elang


Mila tersenyum dibuat nya tutur kata Elang begitu merdu ditelinga nya.


.


.


.


Pagi ini Elang berniat untuk pulang mandi dan berganti pakaian, karena Mila diijinkan pulang dari rumah sakit sore nanti. . . sedangkan Erfan kemarin sudah boleh meninggalkan rumah sakit.


Mila duduk diranjang nya dan memainkan ponselnya. .


tok. . tok. .


"siapa ya masa mas Elang balik lagi sih". gumam Mila.


ceklek. .


laki-laki itu tersenyum manis pada Mila , dengan jas putihnya juga nampan pada tangannya.


"Kokoh" ucap Mila membalas senyum nya


"selamat pagi bumil, makan dulu nih" ucap Al meletakkan nampan pada meja disamping mila.


"nanti aja koh, tadi udah makan dikit. . . kalo pagi makan banyak nanti muntah lagi" ucap Mila meletakkan ponselnya.


Al duduk di kursi samping ranjang Mila, "iya yang penting dikit-dikit harus makan"


"iya koh".


"Elang pulang ya?" tanya Al


"iya ada urusan sebentar sama mas Aris"


"hehe kalo Elang nggak pulang aku nggak berani kesini mil, tadi aku ketemu dia di lobby"


"dia jahatin kokoh ya?, eh tapi kokoh juga jahatin mas Elang jadi impas ya hahaha"


"kan aku jahatnya bohongan mil, kalo Elang beneran hahahah".


"sama aja"


"gimana bayi nya rewel nggak" tanya Al


Mila mengusap perutnya "kalo pagi aja kok hehe"


"itu wajar kok mil, morning sickness itu hal yang lazim buat ibu hamil"


"tapi lemes banget koh"


tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dibalik pintu itu, Elang hampir saja lupa dengan perjanjian sialan itu. . .


niatnya tidak jadi pulang karena tak tega meninggalkan Mila sendiri, tapi kini memang lebih baik ia pulang. .


toh Mila pun terlihat bahagia bersama nya. . .


ia memang tidak bisa mendengar apa yang Mila bicarakan dengan Renaldi tapi mereka selalu tertawa bersama entah apa yang mereka bahas.


hatinya ngilu, hancur berkeping-keping. .


seperti pecahan kaca yang membentur benda keras, kurang lebih begitulah saat ini definisi perasaan Elang.


ia memilih pergi dari rumah sakit. berkecamuk dengan perasaannya sendiri.


bagaimana jika Mila memilih Al?


bagaimana dengan bayinya?


sungguh daripada kehilangan keduanya lebih baik mati bukan?, dan besok adalah jawaban dari semua nya.


.


.


.


"katanya cuma sebentar" gerutu mila karena ditinggal sendirian di rumah sakit ini sekarang waktu sudah menunjukkan pukul siang.


ceklek. .


"mamah" ucap Mila saat melihat mertuanya yang datang.


mamah Elang menghampiri nya lalu memeluknya sambil menangis "mil makasih ya udah kasih mamah cucu".


Mila mengusap punggung mertuanya ia tahu betul bagaimana perasaan mamahnya saat ini, karena ini baru pertama kali nya ia memiliki cucu. karena Elang memang anak tunggal dari keluarga nya.


"kemaren begitu Elang telepon kalo kamu lagi hamil mamah langsung pulang saking semangatnya hehe".


"oh mamah tadi langsung kesini ya" tanya Mila memperhatikan sekitar karena tak kunjung melihat Elang.


"kamu nyariin suami kamu ya. . .maaf ya nak dia selalu sibuk bahkan disaat seperti ini . nanti mamah marahin dia"


"eng nggak mah, gapapa Mila ngerti kok"


"Elang ada urusan mendadak di kantor katanya, makannya dia langsung nyuruh mamah kesini waktu mamah baru nyampe bandara"


"oh"


tapi kenapa Elang tak bilang padanya, kenapa Elang tak menghubungi nya. . .


pasti ada yang tak wajar. .


Mila mencoba untuk tenang dan berfikir positif.


"mamah istirahat aja kalo capek" ucap mila


"enggak mamah nggak papa kamu sehat kan mil, mamah mau ketemu sama dokter kamu"


"gapapa mah nanti sore paling udah boleh pulang"


"mamah kupasin buah ya mau apel atau apa?"


"apel aja deh mah" meskipun Mila tak bernafsu ia tidak mungkin menolak mertuanya yang sangat perhatian pada nya.


.


.


.


Mila membuka matanya , entah sudah berapa lama ia tertidur. ia melihat sosok wanita paruh baya duduk disampingnya dan tersenyum padanya.


"udah bangun mil" tanya mamah Elang


"udah mah, maaf ya Mila ketiduran"


"nggak papa sayang, kata dokter sudah boleh pulang tapi kalo kamu masih ngantuk tidur aja lagi"


Mila menggelengkan kepalanya "Mila mau ke kamar mandi kita siap-siap pulang aja mah. mas Elang jemput kita kan?"


terlihat mamahnya hanya terdiam, karena sedari tadi Elang tidak bisa dihubungi entah apa yang terjadi dengan anak itu.


"Elang belum kelar sayang urusannya, sopir mamah udah ada dibawah"


terlihat raut kecewa dari wajah Mila . . . ia begitu ingin bertemu suaminya.


sangat rindu...


.


.


.


Mila membaringkan tubuhnya di kamarnya, rumahnya yang sangat ia rindukan..


"mamah tidur dibawah mil, kalo ada apa-apa panggil mamah aja ya, bi Ijah juga nginep hari ini"


"iya mah"


begitu mamahnya pergi ia mengambil ponsel nya, karena waktu menunjukkan pukul petang , namun Elang tidak juga kembali sedari tadi.


Me : Mas lagi dimana kok belum pulang?, aku udah pulang sama mamah πŸ˜”


tak ada balasan tak ada Jawaban bahkan ia sudah menelepon berulang kali, kini pun ia sulit memejamkan matanya hanya untuk sekedar tertidur.


ceklek. .


Elang membuka pelan pintu kamarnya, terlihat Mila meringkuk diujung ranjang diarah yang membelakangi nya.


ia melangkah masuk ke kamarnya dengan hati-hati, namun Mila yang masih terbangun bisa mendengarkan suara itu. ia lalu duduk menatap Elang dengan datar. bahkan kini dilihatnya Elang masih menggunakan baju yang sama waktu dirumah sakit.


"kamu belum tidur?" tanya Elang


"abis dari mana kamu!"


"ada urusan tadi sama Aris"


"kamu nggak pandai berbohong mas" ucap Mila menahan tangisnya.


"tanya aja Aris kalo nggak percaya" ucap Elang berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. namun setelah ia keluar dari kamar mandi ia malah melihat Mila membenamkan wajahnya diantara kedua lutut kakinya, ia mendekati istrinya.


"tidur, udah malem nggak bagus buat ibu hamil begadang kaya gini". ucap Elang


Mila hanya terdiam. .


"mil. . ."


tidak ada jawaban


Elang mengangkat wajah Mila "ka kamu kenapa nangis?" ucap Elang terbata karena melihat Mila berlinang dengan air mata.


"kamu jahat mas!, kamu mengabaikan ku seharian ini"


Elang memeluk Mila dengan erat. . lalu membaringkan tubuh Mila diranjangnya.


"aku cuma lagi mempersiapkan diri untuk jawaban mu besok, jangan pernah membawa anakku pergi dariku"


Elang menyelimuti Mila lalu pergi ke balkon kamarnya, menutup kembali pintu kaca itu dengan rapat.


Mila tercengang mendengar nya. . .


jawaban untuk besok?, apa maksudnya?. . hah aku hampir saja melupakannya. . . ternyata mas Elang masih memikirkan tentang perjanjian gila itu...


.


.


.


**ketemu di akhir pekan lagi gaesss. . .


kayaknya di part kali ini nggak dapet ucapan selamat lagi deh πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


vote nya ya gaesss dikencengin, jempolnya ditinggalin sama komentar nya dipanjanginπŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹


duh cerewet banget 😍**