
Mila meninggalkan Royan dan tergesa-gesa memasuki rumah sakit dengan wajah yang pucat dan air mata yang sesekali mengalir di pipinya. setelah ia menerima foto mobil kakaknya saat kecelakaan rasanya ia benar-benar takut. karena mobilnya mengalami kerusakan amat parah...
"mbak pasien kecelakaan atas nama Erfan Mawardi Utama dimana ya?" tanya nya panik.
"sebentar Bu. . . . masih diruang UGD sebelah sana".
"terimakasih" ucap Mila lalu pergi.
Mila mondar-mandir di depan ruang UGD, masih belum bisa menetralkan rasa khawatirnya....
"gimana?" tanya Royan yang tadi sempat ditinggal Mila karena ia masih harus memarkirkan mobilnya.
"masih di dalem" ucap Mila kemudian duduk disebelah Royan.
"tenang dulu aja, jangan panik" ucap Royan
"iya yan".
sudah beberapa saat namun belum ada yang keluar dari juga dari ruangan itu..
"aku ke kamar mandi dulu ya mil" pamit Royan , Mila mengangguk.
setelah beberapa menit terlihat pintu ruangan itu terbuka Mila buru-buru menghampiri. . .
dilihatnya laki-laki yang berpakaian jas putih tersenyum padanya,
bisa-bisanya dia tersenyum disaat seperti ini. . .
ia menyampingkan masalah pribadi nya karena yang terpenting adalah kakaknya.
"koh, gimana?" tanyanya panik
"kamu tenang dulu saja. . . . kita duduk disitu dulu" ucap Al menunjuk kursi panjang disana. dan Mila langsung mengikuti nya.
"maaf aku lancang, tadi aku lihat kak Erfan yang datang makanya aku memutuskan untuk menanganinya sendiri". ucapnya menatap Mila yang terlihat begitu panik.
"iya gapapa, gimana kondisi nya kakak"
"kalau kamu lihat dari kondisi mobilnya, lukanya tidak separah itu kok. . . hanya saja tangan kirinya patah dan beberapa goresan saja" ucap Al hati-hati.
"patah?" tanya Mila tak percaya dengan pelupuk mata yang sudah tergenangi.
"iya mila, gapapa kok bisa sembuh. . . kamu jangan nangis dong" ucap al tak tega melihat Mila yang mulai menangis.
"tapi pasti sakit kan koh, kakak pasti sakit" ucapnya mulai sesenggukan. karena dari kecil ia paling tidak suka melihat kakaknya terluka, kakak nya seperti superhero baginya.
"kak erfan baik-baik saja mil, jangan seperti ini" ucap Al menghapus air mata dipipi Mila, karena jujur sangat perih saat melihat orang yang dia sayang menangis.
"kak Erfan akan segera dipindahkan diruangan VVIP, dia akan sadar sekitar satu jam lagi. . . ".
"makasih koh" Mila berdiri.
"mau kemana?" tanyanya
Mila menggelengkan kepalanya "kaki aku gemetaran banget koh, mau berdiri aja" ucap Mila
Al ikut berdiri "makanya kamu yang rileks aja , jangan tegang beneran nggak ada yang parah kecuali tangannya".
Mila berulang kali menarik nafas untuk menetralkan rasa takutnya. . .
"mau peluk sebentar biar tenang" ucap Al memperhatikan kegelisahan Mila.
"nggak usah koh". Mila menggelengkan kepalanya.
Mila memejamkan matanya sejenak. . . ia rasa tepukan di pundaknya. tentu saja Al, siapa lagi...
"everything wil be okay, because im still in here" ucap Al lembut, entah kenapa mendengar kata-kata yang sering diucap laki-laki itu untuk menenangkan diri nya dulu malah membuat ia semakin menangis.
dan Al benar-benar benci melihat Mila menangis, ia tak tahan lagi. "maaf mil" ucapnya kemudian memeluk tubuh Mila. niatnya benar-benar untuk memberi rasa tenang tidak lebih.
.
satu pukulan keras yang membuat Al tersungkur dilantai.
"mas!." pekik Mila melihat Elang dengan mata yang berkobar kemarahan.
"sory nal, gue bener-bener nggak suka milik gue disentuh orang lain" ucap Elang.
Royan yang berada di belakang Elang, lalu membantu Al untuk berdiri.
"Lo apa-apaan sih Lang" gerutu Royan.
"itu untuk orang yang berani nyentuh istri gue, termasuk lo yan. . . kalo berani macem-macem habis Lo" ucap Elang tajam.
"mas. . " Mila menarik lengan Elang.
"gue nggak bermaksud begitu Lang, sory" ucap Al yang sudah berdiri.
namun Elang hanya menatap tajam padanya...
"astaga mas!" pekik Mila saat melihat kearah tangan Elang yang berdarah.
"gapapa" ucap Elang menenangkan.
Mila meraih tangan Elang "nggak papa apanya" ucap Mila mulai menangis , entah mengapa ia begitu mudah menangis menjadi lebih sensitif.
Elang memegangi pipi Mila lalu mengusap air mata Mila "hey hey kenapa kamu nangis". ucap Elang yang bingung melihat Mila.
apa karena ia memukul Al?
"tangan kamu mas" jawabnya disela tangisnya.
Elang tersenyum mendengarnya, kekhawatiran Mila padanya membuat emosi yang bergejolak padam begitu saja.
"ini nggak sakit kok" ucap Elang menunjukan tangannya bahkan terlihat ada serpihan kaca bersama darah yang sudah kering. Mila sendiri ngilu melihatnya.
"ayo aku panggil dokter buat ngobatin kalian berdua" ucapnya sambil melihat diujung bibir Al juga berdarah.
"enggak!" sahut Elang
"yaudah yaudah . . . yan kamu tolong obatin luka ko. . ehm Renaldi ya, biar aku obatin luka mas Elang... aku tenangin dia dulu"
Royan hanya mengangguk , dan ia bisa melihat raut wajah kesedihan Al saat Mila digandeng Elang meninggalkannya. . .
"gue juga sebenarnya tadi pengen banget meluk istri Elang pas dia nangis, tapi gue tahan karena Lo tahu sendiri kan kalo dia marah" ucap Royan menatap Al.
"iya yan, aku salah. . . aku nggak berfikir panjang tadi" jawab Al.
"tapi Elang kelewatan juga sih, mereka berdua emang pasangan aneh" ucap Royan menyunggingkan senyumnya.
"aneh?" tanya Al.
"iya sama-sama posesif banget, tadi aja Mila nyuruh gue nyingkirin Terry hanya karena dia nggak suka Elang dilirik wanita lain hahaha"
Al tersenyum kecut mendengarnya, itulah Mila selalu berlebihan jika mencintai seseorang. . .
jadi apakah cintanya sudah berpindah pada Elang?. . .
.
.
.
**Up segini dulu ya gaess, nanti kalo longgar aku sambung. . . . lagi sibuk banget dari kemaren 💋💋💋💋
jangan lupa dukungan nya ya, semangat**!!!