
"kamu mandi dulu" ucap Mila menyerahkan handuk pada Elang lalu menatap baju Elang yang sedikit basah.
"iya" balas Elang lalu memasuki kamar mandi.
Mila menyiapkan baju Elang juga menyuruh art untuk membuatkan susu panas untuk suaminya.
Pintu kamar mandi terbuka menampakkan pemandangan yang indah luar biasa memanjakan mata, Elang berdiri tegap dengan tubuh berotot nya tersenyum manis kearah Mila.
"ini baju aku" tanya Elang karena sang istri tak kunjung bicara.
"eh , i iya" ucap Mila sedikit terlonjak.
Mila duduk bersandar pada ranjangnya, dan kaki nya dibiarkan berselonjor. ia masih sibuk membaca buku seputar melahirkan, untuk persiapan melahirkan beberapa bulan lagi. . .
tiba-tiba Mila merasakan sesuatu menyelusup dalam kakinya, ia sedikit terkejut saat Elang tiba-tiba saja berbaring dan menjadikan pahanya sebagai bantal.
Elang mengecup perut buncit Mila lalu mengusapnya "yang. . ." panggil nya dengan mata begitu serius dan menatap Mila dengan lembut.
Mila yang menerima perilaku seperti terdiam malu, bahkan tidak mampu untuk menjawab meskipun hanya dengan kata iya.
"udahan ya marahnya" ucap Elang melingkarkan tangannya tangan nya pada perut Mila yang membuncit itu.
"maafin aku udah bentak kamu, maafin aku yang gak bisa tegas sama Margaretha. . . mulai sekarang aku akan menyingkirkan apapun yang kamu tidak sukai . . . bahkan jika kamu meminta untuk menghilangkan Margaretha dari negara ini, aku bakal lakuin itu. . . yang penting kamu jangan sakit lagi ya" Elang berbicara panjang lebar menatap Mila yang matanya sudah berkaca-kaca.
"meskipun aku jahat padanya aku tidak mungkin melakukan itu mas" ucap Mila mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"kenapa?, aku nggak bisa lihat kamu kayak gitu lagi" ucap Elang mengingat Mila yang histeris lalu jatuh sakit.
"aku sudah lama sembuh mas, tapi melihat dia begitu akrab denganmu kemungkinan itu yang membuat ku kambuh"
"aku tidak sedekat itu dengannya, sama hal nya seperti teman-teman ku yang lain" ucap Elang mencoba menjelaskan.
"tapi tetap saja aku takut" ucap Mila begitu lirih namun masih tetap terdengar oleh Elang.
"takut apa?" tanya Elang.
"aku takut dia bakal ngerebut kamu dari aku" ucap nya diiringi air mata yang keluar dari pipinya.
Elang yang masih berbaring menghapus air mata istrinya, "yang , aku nggak mungkin kaya gitu . . . aku sayang banget sama kamu dan nggak mungkin berpaling kepada wanita manapun" Elang menggenggam tangan Mila begitu erat seolah memberi keyakinan.
"tapi mas dia selalu begitu, akan berambisi merebut apapun yang aku punya" ucap Mila dengan tangis yang mulai pecah.
Elang bangun lalu memeluknya dengan erat "ceritakan, kamu pasti akan lega"
"semenjak laki-laki yang dia suka deketin aku, dia selalu berusaha merebut apapun yang aku punya. . . kakak ku, orang tua ku yang dulu juga sangat menyayangi nya dan juga koh Al".
"Renaldi?"
Mila mengangguk . . .
"dia memang menyukai Renaldi sejak dulu".
"aku tahu itu, dan koh Al selalu saja mengelak akan hal itu".
"tapi aku tidak Mila, aku tidak sedekat itu dengannya. . . bahkan jika kamu bertanya pada teman-teman ku, aku bisa dibilang sangat dingin padanya".
"aku cuma takut aja mas, sekarang hanya kamu sandaran yang berarti dalam hidupku".
Elang mengulas senyum nya baru menyadari bahwa istri nya ini sedang menunjukkan kecemburuan nya. berbeda dulu saat ia dengan Sasa, Mila selalu menyembunyikannya.
sedangkan Mila yang melihat Elang tersenyum malah mengerutkan keningnya "kok senyum sih" ucapnya kesal.
"kamu cantik kalo lagi cemburu" goda nya.
Mila mengerucutkan bibirnya "si siapa juga yang lagi cemburu, ih jahat" Mila memukul pelan lengan Elang.
Elang menangkap tangan mila "katakan padaku mil, hal apa yang bisa membuat mu percaya bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu" ucap Elang kembali serius.
"aku tidak tahu".
"aku akan mengalihkan nama perusahaan menjadi namamu"
"aku tidak gila, tidak akan ada yang mau mendekati laki-laki kere"
Mila tersenyum geli mendengar Elang " nggak mas".
"terserah kamu, Aris sudah mengurusnya" .
"mas!"
"aku bener-bener nggak bisa mil hidup tanpa kamu" mengingat beberapa hati Mila pergi darinya hidup Elang benar-benar hancur.
Elang merebahkan kembali tubuhnya di pangkuan mila, kemudian membawa telapak tangan Mila untuk menyentuh keningnya.
"astaga mas!, kamu demam?" ucap Mila saat merasakan suhu tubuh Elang begitu panas.
"kayaknya sih mau pilek, kalo nggak lagi pilek mungkin aku udah cium kamu daritadi terus minta ja-. . . aw" Mila mencubit lengan Elang
"bisa-bisanya kamu berpikiran mesum disaat seperti ini mas!, bangun dulu aku ambilin obat sama kompres". omel mila, dan Elang sangat merindukan hal ini Mila yang selalu mengomel tapi penuh perhatian padanya.
kata orang Omelan istri membuat kita awet muda setiap harinya, dan mungkin ini alasan Elang, ia baru bisa merasakan betapa berartinya Omelan istrinya yang beberapa hari tidak ia dengar.
setelah meminum obat dan Elang berbaring dengan handuk kecil di keningnya. Mila ikut berbaring dan memeluknya begitu erat.
"jangan sakit" ucap Mila merasakan tubuh panas Elang.
"cuma gini doang besok pasti sembuh kok" ucap Elang dengan entengnya berbeda dengan Mila yang begitu khawatir.
"udah-udah tidur!" sentak Mila
"kayaknya nggak boleh tidur deh sama dia" ucap Elang merasakan sesuatu.
"hah?"
"tuh kan, nendangin aku lagi" ucapnya tertawa merasakan perut Mila yang menempel padanya.
Mila mengusap perutnya "sayang cepat tidur, Papii mu lagi sakit" ucap Mila
"dia kangen aku yang".
"udah ah , tidur tidur!" sentak Mila
"siap Bu bos".
.
.
.
Renaldi hari ini bertugas untuk jaga malam di rumah sakit, namun ia melihat seorang wanita yang tidak asing sedang duduk di lobby rumah sakit itu.
"Retha" ucapnya begitu mendekat.
"Renaldi" ucap Margaretha begitu kaget bertemu dengan nya di rumah sakit ini.
Al melihat lihat sekitar "sama siapa kamu?, siapa yang sakit?" tanya nya
"nggak penting" ucap Retha yang hendak beranjak.
"kita perlu bicara ta".
"kalo kamu cuma mau nyalahin aku tentang Mila lebih baik nggak usah!" ucap Retha tanpa memandang Al.
"bukan-"
"nal cukup ya, kamu selalu nyalahin aku aku capek. . . aku nggak pernah main fisik sama dia, tapi dia kamu lihat sendiri kan" ucapnya menunjukkan dahinya yang terbalut plester.
"maka dari itu, ayo menyelesaikan semuanya. . . "
ucap Al begitu lembut.