Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Kuat dan keras kepala


Setelah mengobati kerinduannya pada sang buah hati , Mila baru berangkat ke kantor pada siang hari.


Jika boleh jujur sebenarnya tubuhnya sedang sangat-sangat lemah, sehingga ia memilih untuk diantar oleh supir keluarga nya .


Semua orang tampak menundukkan kepalanya ketika Mila datang ke kantor yang nampak ramai, karena ini adalah waktu istirahat siang.


Antoni membukakan pintu ruangan, kemudian juga ikut masuk ke dalam, ia menyerahkan beberapa laporan pada Mila yang saat ini sudah duduk di kursi besar itu.


Wanita yang semalam meraung-raung karena kondisi suaminya, tapi siapa sangka sekarang ini sudah kembali menginjakkan kakinya di perusahaan. Antoni sungguh kagum dengan wanita cantik dan kuat dihadapannya ini.


"ada apa an?" tanya Mila karena Antoni terus menatapnya.


Antoni mengerjap bingung "eh. . itu Bu . . ehm. . saya perhatikan ibu sedikit pucat" dalih nya, tapi memang benar adanya Mila terlihat sedikit pucat meskipun menggunakan lipstik tipis di bibirnya.


Mila memejamkan matanya, lalu menghela nafasnya "apakah hari ini ada meeting?" tanya nya masih dengan mata yang terpejam ia sandarkan tubuhnya pada kursi besar itu.


"tidak Bu, tapi jadwal besok akan sangat padat seperti ini nya".


"An, tolong panggil dokter Al suruh dia kesini seperti nya saya butuh untuk diinfus sebentar" ucap Mila menunjukkan tangannya yang gemetar.


"apa tidak sebaiknya ibu ke rumah sakit saja" ucap Antoni yang kasihan pada Mila.


"tidak an, masih banyak yang belum saya tanda tangani"


"baik, saya akan menghubungi dokter Renaldi segera" ucap Antoni meraih ponsel yang ada disaku celananya.


.


.


.


"ke rumah sakit aja yuk" bujuk Al yang saat ini sudah sampai di perusahaan Elang Group.


ia menunggui Mila yang sedang berbaring di sofa, setelah Al memasangkan infus.


"nggak koh , sebentar lagi akan juga mendingan kok" jawab Mila yang kekeh dengan pendirian nya.


"udah makan belum?" tanya Al yang khawatir dengan Mila.


"udah tadi di rumah".


"kamu tuh seharusnya masih dirawat mil, kenapa keras kepala banget sih" ucap Al yang terus memandangi Mila.


Mila tersenyum kecut mendengar perkataan yang sudah berkali-kali Al ulangi itu, "kalo aku dirawat, bagaimana dengan Gemilang yang masih membutuhkan ASI ku, bagaimana dengan masku yang butuh untuk aku temani koh". jawab Mila yang membuat Al tersentak.


"nanti malam biar aku saja yang menemani Elang".


"iya koh, sepertinya aku tidak bisa memaksakan diri untuk menginap disana, sangat tidak nyaman tidur disofa" ucap Mila sedikit bercanda.


"aku kan sudah bilang minta tambahan satu ranjang lagi".


"tidak perlu berlebihan koh".


.


.


.


Sedangkan diseberang sana, Elang terlihat terus melirik kearah ponselnya yang terletak di atas meja.


dengan ragu ia berusaha meraihnya, dengan tangannya.


"mau apa?" tanya Royan yang sedari tadi malah asik dengan game nya.


"ambil ponselku" jawab Elang yang berusaha terus menggapai ponsel itu.


Royan mendekat lalu mengambilnya, dan menyerahkan pada Elang "ini. . . mau main game juga?"


"ti tidak" ucapnya menggenggam ponsel itu.


"yasudah" ucap Royan cuek dan kembali fokus pada game nya.


Elang perlahan menekan tombol lock pada ponselnya, dahinya mengernyit saat melihat wallpaper ponselnya, foto Mila yang sedang tertidur dan memeluk anak kecil disampingnya.


Karena rasa penasaran yang berlebihan Elang juga memutuskan untuk melihat galeri foto, isinya hanyalah foto anak kecil dan Mila saja. .


ia memperbesar foto bayi mungil itu, namun sedikit tercengang karena bayi itu sangat mirip dengan dirinya.


ia melihat foto dibagian paling bawah, foto mesra nya dengan Mila yang malah membuatnya bingung ia memegangi kepalanya yang mulai ngilu.


"kenapa Lang?" tanya Royan kembali mendekat lalu merebut ponsel itu "jangan melihat apapun, nggak usah dipaksain" ucap Royan.


"a aku mau mengirimkan pesan" ucap Elang dengan ragu.


"dia" ucap Elang menunjuk foto di ponselnya.


Royan tersenyum mendengarnya "ini" ucapnya menyerahkan kembali ponsel itu "meskipun hilang ingatan tetep aja bucin ya hahaha".


"ta tapi nama kontaknya siapa?" tanya Elang yang sudah mulai menscroll layarnya.


"mana gue tau hahaha" jawab Royan namun tetap meraih ponsel itu. namun Royan malah terbahak-bahak saat melihat nama Mila di ponsel Elang.


"kenapa?" tanya Elang heran karena Royan terus tertawa.


"nih , telpon macan betina Lo" ucap Royan menyerahkan ponsel itu dan bergidik geli.


"serius namanya ini?" tanya Elang yang nampak tidak yakin.


"coba telpon aja".


"kirim pesan saja" ucap Elang yang sudah mulai mengetik.


Me : Kamu kesini kan? , kesini jam berapa?


Hanya itu pesan singkat yang ia tulis untuk Mila setelah beberapa kali memikirkan kata yang tepat.


.


.


.


Mila tersenyum saat membuka pesan itu, sungguh berbunga-bunga padahal hanya pesan singkat biasa.


aku akan membuatmu untuk jatuh cinta kedua kalinya padaku mas. . .


"Kenapa?" tanya Al yang khawatir melihat Mila tersenyum sendiri, takut-takut depresi nya kambuh .


"tunggu tinggal sedikit lagi koh" ucap Mila kembali fokus dengan berkas-berkas "abis ini kita langsung ke rumah sakit".


Al menggeleng kepalanya, gadis keras kepala. . . lihatlah tangannya satunya masih diinfus sedangkan satunya tampak sibuk menandatangani berkas.


"selesai, ayo koh lepas infusnya" ucap Mila yang sudah bersiap untuk pulang.


"sebentar, tinggal sedikit nanggung mil"


"la terus?"


"aku pegangin, paling diperjalanan habis nanti"


"malu koh, gimana kalo banyak yang lihat"


"aku tutupin pakek jaket"


Mila hanya menghela nafasnya pasrah.


.


.


.


ceklek. .


Mila dan Al memasuki ruangan Elang, terlihat Elang yang sedang berbaring di ranjang sedangkan kunyuk satu itu terus sibuk dengan ponsel miringnya.


"pasti dia seharian nge-game terus" ucap Mila pada Al.


"udah pasti kalo itu sih".


"eh kalian berdua udah Dateng" ucap Royan menatap mereka sejenak namun kembali sibuk dengan ponselnya.


Mila mendekati Elang "gimana ada yang sakit?" tanya nya, padahal ia sendiri sedang sakit jika dipikir-pikir.


"sedikit pusing aja" jawab Elang.


"itu normal kok" sahut Al, kemudian perhatian nya teralihkan pada tangan mila yang sedikit berdarah karena infusnya tadi.


"lihat tanganmu" ucap Al meraih tangan Mila "jangan banyak gerak dulu" ucapnya khawatir.


"iya-iya koh".


Elang terus memandangi interaksi antara Al dengan mila.


sebenarnya apa hubungan mereka berdua?