
"iya-iya enak bawel"
"sip" Mila bergegas membersihkan dapurnya yang kotor
"bi Ijah kemana?"
"ke pasar"
"kamu kok pengeluarannya dikit banget sih, rugi punya suami kaya raya" ucap Elang sambil mengunyah
"kan emang buat belanja keperluan rumah aja"
"abisin kek"
"iya deh boleh juga... ntar aku habisin, biar gak rugi jadi istrinya Elang Suryo"
"nah itu tahu , kamu pikir aku kerja siang malam gini buat apaan"
"buat apa?" tanya Mila
"nafkahin kamu lah"
Mila membalikkan badannya dan senyumnya mengembang di bibirnya, entah mengapa kalimat itu sangat indah didengar nya..
"kamu nggak kerja" tanya Elang
"masih mau malas-malasan dirumah"
"nggak usah kerjapun aku sanggup kok ngehidupin kamu tujuh turunan"
"haha bosen tau dirumah terus"
"terserah kamu aja sih"
sejak kapan Elang menganggapnya menjadi istri sungguhan, batin Mila
"ehmm. .mas nanti aku mau ke rumah jenguk Exel"
"tunggu aku pulang aja , nanti siang paling udah pulang"
"kok siang?"
"iya capek, pegal-pegal badan aku"
"oh yaudah nanti aku ke kantor kamu aja sekalian mau bawain makan siang buat papah mertua"
"okelah, berangkat dari kantor aja kalo gitu"
.
.
.
siang hari di Elang Group
Aris memasuki ruangan Elang, "permisi pak, ada Antoni"
"suruh masuk" ucap Elang yang masih sibuk didepan komputer lalu beranjak..
"siang pak" Antoni memasuki ruangan Elang
"sudah bosan kerja di Mawardi Utama kamu" elang duduk disofa
"eh bukan itu pak, atas persetujuan Bu Mila saya sudah menyelidiki semua"
"iya pak"
"mau minum apa" tawar Aris
"nggak usah, saya disini cuma sebentar kok"
"jadi" kata Elang.
Aris menutup pintu ruangan Elang dan jendela-jendela
"berdasarkan informasi yang saya dapat, wanita itu dengan pak Leon sudah kenal lumayan lama. .dia dulu mantan pacar pak Leon , kemudian pak Leon menggunakannya untuk balas dendam dengan Bu Mila atau menarik Bu Mila lagi itu yang menjadi pertanyaan saya"
"jadi selama ini dia menggunakan saya untuk melakukan rencananya ke Mila melalui Sasa" tanya Elang
"bisa jadi seperti itu, mulai sekarang bapak harus berhati-hati , atau kalo boleh saya saranin dipecat saja"
"tidak an saya belum puas jika membiarkannya pergi begitu saja"
"lalu"
"kita susun rencana, agar mereka ketangkap basah"
"iya siap pak biar saya pikirkan nanti caranya, ini buktinya" Antoni menyerahkan sebuah flashdisk
"bukti apa an"
"saya tidak akan berbicara tanpa bukti pak, bapak lihat sendiri saja"
ceklek..pintu ruangan terbuka
"oh Antoni disini juga" kata Mila sambil membawa rantang susun
Antoni berdiri dan membungkukkan badannya "iya Bu"
"santai saja an, sekarang kan kita nggak lagi kerja"
"kamu bawa apa sayang" Elang berdiri meraih pinggang Mila.
deg.... ada apa dia memanggil ku seperti itu, batin Mila
"makan mas, yaudah kita semua makan dulu"
"nggak usah Bu saya langsung pamit saja"
"ayolah an, nggak baik menolak rejeki" ucap Elang
"yasudah"
"katanya mau kasih juga buat papa" tanya Elang
"tadi udah aku titipin sekretaris nya , papah lagi nggak ada dikantor"
"oh, suapin" Elang memasang muka yang menggemaskan
Aris dan Antoni yang melihatnya menahan tawanya
"kamu kenapa sih mas, jangan buat aku merinding deh"
"tangan aku capek kerja terus buat nafkahin kamu"
"oh jadi nggak ikhlas nafkahin aku" Mila memalingkan wajahnya
"Bu bukannya gitu sayang" Elang terlihat bingung dengan Mila yang merajuk "yaudah deh aku makan sendiri aja"