
"yang biru atau hijau mas" tanya Mila antusias saat melihat baju yang berukuran kecil di pusat perbelanjaan khusus untuk bayi itu.
"dua-duanya juga boleh" ucap Elang ikut memperhatikan ukuran kecil itu, "apa nggak kekecilan yang?" tanya Elang, karena baju itu benar-benar berukuran sangat kecil menurut nya.
Mila tersenyum kearah suaminya "dia emang masih kecil mas" ucapnya yang paham akan perasaan Elang.
setelah memilih beberapa stell baju yang lucu-lucu , Mila beralih pada sepatu-sepatu yang sungguh lucu dan mungil itu.
sungguh tidak sabar menantikan kelahiran Elang junior. . .
"pokoknya beli aja yang, asalkan warna nya nggak pink". usul Elang yang juga ikut memilih untuk calon buah hatinya.
"kenapa ?, malah lucu tau mas".
"dia cowok yang, mana mau pakek pink".
"tapi dia kan masih kecil mas jadi nggak papa".
baru saja Mila ingin mengambil sepatu yang berwarna cokelat dan berbentuk gajah itu, namun bersamaan dengan seseorang yang sudah terlebih dulu mengambilnya.
"Mila. . " ucap laki-laki itu melihat Mila dengan senyuman lalu terdiam ketika melihat perutnya yang membesar.
"ehm. . .Da Darwin" ucap Mila tergugup saat melihat laki-laki yang sudah lama tidak ia temui itu.
"kamu apa kabar mil?, lama nggak ketemu".
"aku baik kok"
"jadi kamu udah nikah" tanya nya saat menatap lagi perut Mila yang membesar, namun wajahnya terlihat semakin cantik dan berseri.
"ehmmmm" terdengar deheman orang diseberang sana.
Mila yang sadar akan hal itu buru-buru menarik lengan suaminya "iya aku udah nikah, kenalin ini suami aku".
Darwin mengulurkan tangannya "Darwin" ucapnya tersenyum ramah.
"Elang" balas Elang datar.
"saya teman SMA nya Mila dulu" ucap Darwin menjelaskan. wajar saja Elang cemburu, jika dilihat dari penampilannya Darwin terlihat dari keluarga kaya. ia tinggi gagah dan pesona nya bisa menggugah kaum hawa manapun.
tapi tidak termasuk Mila. . .
Dulu Mila pernah menolak Darwin, bahkan tiga kali penolakan seolah laki-laki itu tak gentar dan tetap menyukai pesona seorang Emila.
"kamu ngapain disini?" tanya Mila mengalihkan pembicaraan nya karena Elang sama sekali tidak merespon kata-kata Darwin.
"nyari kado buat keponakan mil, oh iya ini" ucapnya menyerahkan sepatu mungil yang terlebih dulu ia ambil.
"duh, nggak papa buat keponakan kamu aja . . aku kira kamu udah punya anak" ucap Mila sedikit bercanda.
"ini buat anak kamu aja" ucapnya memaksa Mila mengambil sepatu itu. "aku belum menikah mil, masih belum ada yang bisa menguasai hatiku".
seperti kamu dulu. . .
Mila tersenyum sejenak lalu mengalihkan pandangannya pada Elang yang sudah tidak bersahabat dan Elang semakin mengeratkan rengkuhannya pada pinggang Mila.
"aku duluan ya win, keburu sore" ucap Mila.
"eh iya mil hati-hati ya" balas Darwin lalu tersenyum pada Elang.
"iya makasih ya buat ini" ucap Mila menenteng sepatu itu.
"no problem" lalu Darwin pergi dari sana.
Elang melepaskan rengkuhannya begitu saja, lalu mengambil sepatu yang sedang dipegang Mila.
"baby nggak suka gajah" ucap Elang cuek lalu menaruh kembali sepatu itu pada tempatnya.
"mas , tapi lucu tau" ucap Mila namun Elang malah berlalu meninggalkan nya.
.
.
.
"kamu kenapa sih mas, daritadi aneh deh" ucap Mila yang kini memasang seat belt nya.
"cowo tadi siapa?" ucap Elang kemudian melajukan mobilnya ke rumah Tino, karena mereka berencana mengunjungi ana yang sudah melahirkan.
"temen SMA aku" jawab Mila.
"kenapa pandangannya beda gitu ke kamu" ucap Elang berterus-terang karena tidak suka istrinya ditatap dengan tatapan yang menunjukkan penuh mendambakan.
"mana aku tahu" ucap Mila memilih tidak menceritakan tentang Darwin daripada Elang akan terus ketus padanya.
Elang melajukan mobilnya, sepanjang perjalanan dipenuhi dengan keheningan oleh keduanya.
Elang meraih ponselnya saat mobilnya sudah berhenti tepat di depan rumah Tino dan Ana.
Elang mengirimkan pesan singkat pada Aris, sungguh ia tidak bisa menahan rasa penasarannya rasa cemburunya tepat nya.
Mila masuk terlebih dahulu dengan bingkisan ditangannya.
"biar aku bawain" ucap Elang merebut paper bag besar namun ringan itu.
Mila hanya tersenyum melihat tingkah laku Elang, pasti suaminya sedang cemburu. . . namun percuma bicara disaat seperti ini . lebih baik dibicarakan dirumah saja.
.
.
.
Mila mengusap pipi kecil yang bulat itu, rasanya gemas sekali ingin cepat-cepat menggendong sang buah hati yang nanti juga sama lucunya dengan anak Tino dan ana.
"namanya siapa na?" tanya Mila pada ana yang sedang bersandar pada ranjangnya, namun mata Mila tetap tertuju pada makhluk mungil yang sedang menggeliat itu.
"Beniqno Bagaskara, panggil saja Ben" ucap ana tersenyum.
"gue harap anak kita bisa jadi sahabat nanti nya" celetuk tino yang sedang duduk di sofa bersama Elang.
"ya terserah mereka dong nyet" sahut Elang.
"terserah, pokoknya gue bakal mempertemukan mereka setiap harinya biar bisa jadi kayak gue sama Lo" ucap Tino bersemangat. mila dan ana hanya terkekeh geli melihat Elang dan Tino yang terus berdebat.
"na boleh gue gendong gak?" tanya Mila.
"boleh dong" sahut ana.
"yang kamu nggak lihat perut kamu segede gitu mau gendong Ben" ucap Elang.
Mila memanyunkan bibirnya saat Elang melarangnya.
"aku aja yang gendong" ucap Elang memberikan pilihan lain.
Dengan bersusah payah Elang menimang bayi kecil itu menatap nya dengan lekat dan membayangkan sebentar lagi ia akan menggendong bayi mungil buah hatinya sendiri.
Mila juga ikut menatap bayi mungil itu " mirip kami banget na bibirnya" ucap Mila memperhatikan.
"aku harap anak kita nanti mirip aku aja bibirnya" ucap Elang tiba-tiba.
"kenapa ?" tanya Mila
"bibir kamu terlalu tipis yang, nggak pantes kalo cowok kaya gitu. . . kalo kayak bibir ku kan pas buat di--" Elang tidak melanjutkan bicara nya saat mendapatkan tatapan tajam dari Mila.
"sabar ya Ben, sebentar lagi sahabat kamu akan lahir ke dunia ini" ucap Elang menatap perut Mila.
"katanya tadi nggak mau sahabatan" celetuk tino.
"nggak papa asalkan kelakuan anak Lo yang sama kaya bapaknya" sahut Elang.
"bapak nya baik setia kawan perhatian-"
"sssttttt, diem nanti dia bangun".
.
.
.
Elang duduk di meja kerjanya, setelah ia pindah ke rumah mertuanya ia sudah disiapkan ruangan yang tak kalah besar dari ruang kerja di rumah nya.
Tangannya berkali-kali mengetuk meja sambil terus melihat selembar kertas yang berada di depan nya.
"kamu kenal sama dia ris" tanya Elang pada Aris yang sedang duduk di depannya.
"kami satu SMA pak".
"Darwin Damara, direktur utama di BRT CORP" ucap Elang memastikan.
"iya pak" sahut Aris.
ternyata laki-laki itu pernah bekerja sama dengan Elang, pantas saja Elang merasa tak asing dengannya.
.
.
.
**MAAF YA ELANG DAN EMILA SLOW UPDATE, DARIPADA HARUS TAMAT. DAN SAYA JUGA SEDANG SIBUK MENULIS NOVEL SAYA YANG SATUNYA.
SENEN GAESSS, WAKTU NYA VOTE VOTE BIAR RANKING NYA NAIK LAGI. . . 💋💋💋
#MERDEKA**