Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Menginginkan mu


"Mamii Jen capek" ucap Jen berlari kecil menuju pelukan Mila.


Mila mengusap pelipis Jen yang penuh dengan buliran keringat kecil dan pipinya memerah karena kepanasan.


"sini Jen duduk dulu istirahat udahan dulu ya mainnya".


Jen mengangguk. . . Jen adalah anak yang penurut sedari kecil. ia tidak pernah rewel atau pun memaksakan kehendaknya.


"ini minum dulu udah dibeliin air putih sama Papii" ucap Mila membuka botol air mineral itu.


"Papii kemana?" tanya Jen karena sedari tadi ia tidak melihat Elang.


"itu dia" Mila menunjuk kearah Elang yang sedang berjalan menuju kearah mereka dengan sekantong plastik besar.


"kamu beli apa mas kok banyak banget" tanya Mila melihat kantong plastik dari minimarket itu namun ukurannya begitu besar.


"makanan banyak buat kamu sama Jen" ucap Elang dengan santai lalu ikut duduk bersama mereka.


"makasih Papii" ucap Jen berbinar mendapatkan banyak jajan dan roti.


elang mengusap rambut Jen "sama-sama cantik".


setelah puas bermain dan memakan banyak roti dan juga Snack mereka memutuskan untuk berjalan ke mobil. dan sudah terlihat Kiki menunggu disana.


"maaf ya mbak lama" ucap Mila sungkan


"nggak papa mbak Mila, Jen ayo" Kiki mengajak Jen agar turun dari gendongan Elang namun Jen semakin mengeratkan pelukannya pada leher Elang.


Mila tersenyum dan mengusap punggung Jen dengan lembut "Jen pulang dulu ya , lain waktu kita jalan-jalan lagi" ucap Mila membujuk.


Jen hanya menatap Elang. "iya cantik , lain kali kita ke mall aja mainnya ya biar nggak kepanasan. sekarang Jen harus pulang dulu udah sore".


Jen akhirnya mengangguk walau dengan sangat terpaksa, meskipun baru saja mengenal Elang tapi ia merasa nyaman pada gendongan Elang pada bahu yang keras itu, aromanya juga begitu menenangkan. apalagi sikap Elang yang perhatian kepadanya.


Jen digendong oleh Kiki menuju mobilnya yang tak jauh dari sana , Elang dan Mila terus melambaikan tangan pada bocah kecil itu. dan mereka pun memutuskan untuk pulang.


.


.


.


hari sudah mulai gelap, rintik hujan yang jatuh malam ini mampu membuat hawa dingin menyelimuti bumi. . . .


namun kehangatan selalu terpancar dari hati kedua insan yang terus menempel dan seolah enggan untuk berjauhan. Elang merebahkan tubuhnya di ranjang dan menggunakan paha Mila yang sedang selonjor kaki sebagai bantal ternyaman nya.


Mila mengusap rambut Elang penuh sayang, ia terus memandangi wajah yang rupawan itu , pahatan yang indah di setiap lekuk wajahnya. matanya yang tajam , alisnya yang tebal , hidungnya bak perosotan, juga bibir yang begitu menggoda dan manis saat dikecup.


mengapa ada laki-laki sesempurna ini di muka bumi ini, dan beruntung nya adalah miliknya...


Elang yang sedari tadi memainkan ponselnya, menatap kearah Mila yang kini tengah menatapnya . . . pandangan mereka bertemu. mengisyaratkan saling menginginkan satu sama lain.


dengan ragu Mila mendekat kan perlahan bibirnya untuk mengecup rasa manis itu yang bahkan tidak pernah berkurang manisnya pada bibir Elang.


CUP... ciuman singkat yang Mila berikan, namun bukan Elang jika hanya puas akan sebuah kecupan ia bangun dan meraih tengkuk Mila dan mendarat bibirnya disana lagi . . . ******* yang perlahan lembut kemudian menjadi lebih kasar menandakan begitu berhasrat nya Elang untuk saat ini.


seolah ciuman Elang yang begitu memabukkan mampu membuat Mila merasakan geleyar aneh yang terus membuat nya ingin melakukan lebih dan lebih.


"aku menginginkan mu" ucap Elang dengan suara parau dan mata yang berkobar hasratnya.


Mila mengalungkan tangannya pada leher Elang sebagai persetujuan untuk melakukan hal yang lebih.


Elang menggigit kecil leher putih yang sedari tadi ia dambakan itu. "hmmmphh" lengkuhan Mila seolah menambah kobaran hasrat yang ia tahan beberapa hari ini.


Elang membaringkan Mila di ranjang lalu ia merangkak diatas tubuhnya dengan perlahan.


Mila menyadari sesuatu . . .


*bagaimana jika ia benar hamil apakah tidak apa ?


tapi disisi lain ia juga tidak mungkin menolak suaminya yang bahkan sekarang hasrat nya tak terbendung*. . .


Mila menahan dada Elang dengan kedua tangannya.


"kenapa" tanya Elang dengan mata yang sayu


"a aku mau diatas" ucap Mila dengan ragu, karena itu yang ada dipikirannya saat ini. jika benar ia hamil maka itu tidak akan membahayakan bayinya


hanya untuk berjaga-jaga saja . . .


Elang tersenyum kecil mendengar permintaan Mila dengan senang hati ia membalik posisi mereka dengan lembut.


Elang terus tersenyum dibuat nya , ia semakin gemas pada kelakuan sang istri. "kan kamu yang diatas seharusnya aku yang bilang pelan-pelan". goda nya.


Mila mengerucut kan bibirnya dan hendak beranjak namun secepat kilat Elang menahannya dan mulai melakukan hal-hal yang diinginkan 😂


.


.


.


Mila mengerjapkan matanya perlahan menatap Elang yang masih terpejam. ia memakai kaos Elang yang berada disampingnya. . . lalu perlahan menuruni ranjangnya..


seperti biasa gejolak diperutnya tidak bisa ia tahan saat membuka matanya. . ia segera berlari menuju kamar mandinya.


"huek. . .huek. . ." entah sudah berapa lama ia ia mengeluarkan semua isi diperutnya. ia duduk dan bersandar di closet.


tiba-tiba terdengar ketukan pintu, tentu saja Elang.


Elang masuk setelah mengetuk pintu itu. ia mendekati Mila yang terlihat pucat dan lemas.


"sayang" ucap Elang mendekati istrinya. "kamu nggak papa?" lanjutnya.


Mila hanya menggelengkan sambil memeluk pinggang Elang yang sudah berdiri dihadapannya.


"kamu muntah ya, nyium bau apa?. . perasaan nggak ada alkohol"


"nggak tau mas aku lemes banget" ucap Mila


"mau tidur lagi apa makan aja".


"ke dapur aja, mau buat teh anget" ucap Mila


"biar aku buatin ya" ucap elang mengusap rambut Mila.


Mila hanya mengangguk "tapi aku ikut ke dapur".


.


.


.


"di minum dulu biar angetan badannya" ucap Elang menyerahkan secangkir teh hangat pada Mila. dengan perlahan Mila menyesapnya.


"mau sarapan apa?" tanya Elang tak tega melihat Mila yabg begitu pucat.


Mila tersenyum kecil "emang kamu bisa masak"


"aku beliin di depan" ucap Elang


"nggak mas nanti aja"


"beneran?"


"iya sayang"


deg. . deg. . .


baru kali ini Mila memanggilnya dengan sebutan sayang, dan mengucapkannya pun dengan lembut. Elang seolah terpaku mendengarnya.


namun saat ini itu tidak menjadi fokusnya, yang lebih penting adalah kesehatan mila.


"nanti jenguk kak Erfan sekalian periksa ya" ucap Elang


"iya , kalo nanti belum sembuh" ucap Mila. padahal ia tahu jika sudah siang kondisinya akan baik-baik saja ia begini hanya saat bangun tidur saja.


aku harus beli testpack seperti nya. . . .


.


.


.


**Hay. . . tolong perbanyak komentar nya ya agar bisa menambah ide-ide dalam penulisan . . . akhir-akhir ini kurang inspirasi, tapi jujur aku orangnya nggak terlalu suka sama konflik jadi aku buat yang ringan-ringan saja.


lopeyuall 💋💋💋💋**