
Royan duduk manis diruang tamu dengan begitu gugup. Terus menerus menghela nafasnya. Semalam bahkan ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena akan bertemu dengan mamah Zeze.
"Kakak tenang saja," ucap Zeze yang baru saja keluar dari dapur dengan nampan berisi kopi yang masih menyemburkan awan putih.
"Mana bisa," jawab Royan meremas-remas tangannya yang sudah berkeringat dingin.
"Sudah dari tadi?" Seorang wanita paruh baya itu menatap hangat pada Royan. Sampai-sampai mereka tidak percaya dengan keadaan seperti ini.
"I-iya tan," mencium tangan itu dengan gugup.
"Kamu pasti sudah tahu kan yan, tujuan saya nyuruh kamu kesini."
"Tante merestui hubungan saya dengan Zeze?" tebak Royan dengan takut-takut.
"Iya, bawa orang tua kamu kesini secepatnya."
Royan hampir saja limbung ketika mendengarnya. Untung saja Zeze menggenggam tangannya begitu erat.
"Oh iya hampir saja lupa, mamah tadi buatin kue untuk kamu." Mamah segera melangkahkan kakinya ke dapur. "Sebentar ya.."
"Ze, aku nggak mimpi kan."
Terkekeh kecil Zeze malah menghujani Royan dengan banyak kecupan kecil. "Ini nyata kak,"
"Kita akan segera menikah, Ze." Royan membawa Zeze dalam dekapannya.
"Kak," ucap Zeze sembari mendongakkan kepalanya.
"Iya, kamu mau menikah di mana?" Royan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Zeze cuma mau minta sama kakak, kita nggak usah kasih tahu siapapun kalau sebenarnya kita sudah melakukan hubungan badan. Hubungan yang tidak seharusnya kita lakukan. Kakak bisa janji itu kan sama Zeze."
Bukannya tidak percaya, meskipun Royan adalah sosok yang berandal, namun ia begitu mengutamakan kejujuran.
Prank!
Suara piring yang tengah membentur lantai, sudah menjadi kepingan-kepingan kecil. Mamah menatap mereka tidak percaya.
"Mah," Zeze berdiri dan hendak menghampiri mamahnya.
"Stop, Ze!" teriak mamah menggelengkan kepalanya. "Kenapa kamu menjadi anak yang tidak punya adab seperti ini. Lupakan rencana tentang pernikahan kalian yang tidak akan mungkin pernah terjadi!" Mamah meninggalkan ruang tamu dengan penuh kekecewaan.
.
.
.
Royan dan Zeze terus menatap panik pada pintu yang tengah tertutup. Sudah tiga jam lamanya mamah tidak bergeming sedikit pun.
"Jangan nangis," ucap Royan mengusap lembut tangan Zeze.
"Semua salah Zeze kak," terus sesenggukan meratapi nasibnya setelah ini.
"Aku akan berusaha lagi, jangan merasa bersalah. Takdir pasti akan memihak pada kita."
Pintu kamar terbuka dengan tiba-tiba, sosok paruh baya dengan mata sembab mendekati mereka.Merasa gagal mendidik putrinya selama ini.
"Mah," isak Zeze berhamburan memeluk mamah. "Maafin Zeze."
"Karena kalian telah melakukan hal yang tidak seharusnya, kalian harus di hukum. Dan kamu.." Mamah menunjuk Royan.
"Kamu tetap harus bertanggungjawab terhadap anak saya. Kalian boleh menikah... tapi lima tahun lagi." Melangkah pergi begitu saja tanpa mempedulikan keduanya yang masih tercengang.
Zeze memejamkan matanya sejenak, sebelum tersadar karena pelukan sosok tegap itu.
"Aku tetap akan menunggu waktu itu, anggap saja ini sebagai ujian cinta kita agar tidak mudah meninggalkan satu sama lain nantinya. Yang terpenting mamah kamu sudah merestui."
.
.
.
Dan seorang Royan benar-benar membuktikan ucapnya. Laki-laki brengsek yang tidak bisa dipercaya ini mampu menunggu hingga lima tahun lamanya.
Mungkin ini sudah jalannya. Karena benar, selama lima tahun ini begitu banyak perubahan yang terjadi. Ia sudah menduduki jabatan sebagai Dirut WD Entertainment. Zeze juga sudah menjadi dosen, seperti apa yang ia impikan.
Sekarang semuanya sudah lengkap, berkat mamah Zeze ia mengerti apa arti kata sabar. Sabar yang menuai hasil luar biasa.
"Selamat malam nyonya Royan," ucapnya pada wanita yang baru saja menjadi istri sahnya beberapa jam lalu. Zeze tengah berdandan di depan cermin, sedangkan dirinya baru saja membuka mata.
"Malam pak suami," ucap Zeze menoleh. "Teman kamu sudah di bawah semua kata mamah."
Malam ini adalah pesta kedua yang hanya di hadiri oleh keluarga terdekat. Pagi tadi pesta besar-besaran yang di gelar membuat tepar keduanya.
Royan segera beranjak dan memeluk Zeze.
"Kak, mandi dulu," gerutu Zeze dengan manja.
"Tadi udah loh," Zeze nampak kesal. Tapi wajar saja karena lima tahun ini Royan benar-benar menahan diri, membuktikan pada mamah bahwa ia bukan predator wanita seperti yang beliau pikir.
"Iya deh," ucap Zeze saat melihat bibir Royan yang mengerucut.
"Apa sekarang saja ya," ucap Royan bersemangat.
"Kakak!" ucap Zeze mendelik kesal.
"Hehe iya-iya mandi dulu," mencuri satu kecupan sebelum menuju kamar mandi.
.
.
.
"Wah pengantin baru seger amat," celetuk Tino saat melihat Royan dan Zeze yang baru saja datang.
"Ya, iyalah abis dapet vitamin," jawab Royan tak tahu malu. Segera bergabung bersama sahabat-sahabatnya.
Acara malam ini digelar di halaman rumah. Pesta barbeque yang sudah di penuhi dengan kepulan asap.
"Sayang suapin dong," ucap Elang pada sosok cantik di sampingnya.
"Mulai deh pamernya," gerutu Tino. "Aku juga mau di suapin yang." Menoleh pada Ana yang asik mengunyah sendiri.
"Males ah, makan sendiri." Mereka semua tertawa karena itu.
"Terus aku di suapin siapa dong?" tanya Al dengan wajah memelas.
Royan tersenyum kecil karena itu, segera melambaikan tangannya pada sosok cantik yang baru saja datang.
"Bi, sini!" teriaknya pada sang sepupu.
"Iya, om." Bianca mendekati mereka, tersenyum sebagai sapaan. Namun matanya hanya terfokus pada sosok tampan dengan mata sipit itu.
"Duduk di samping Al gih," ucap Royan penuh perintah.
"Ke-kenapa?"
"Sudahlah kasian dia sendirian."
"Mbing," gerutu Al merasa malu, padahal tadi ia hanya bercanda saja.
Bianca melihat semua yang duduk di sana memang membawa pasangannya masing-masing. Segera duduk di samping Al, karena juga merasa kasihan.
"Sekarang sudah lengkap kan?" sorak Tino begitu heboh.
"Kawal sampai halal," sahut Royan.
"Gue juga dukung kok Al," ucap Elang menggenggam tangan Mila yang tengah menatapnya penuh tanya.
Al hanya menggelengkan kepalanya. Memberikan piring kecil pada Bianca.
"Mau daging?" tanya Al.
"Boleh koh, dikit aja." Bianca tersenyum melihat laki-laki penuh perhatian ini, meskipun bukan hanya pada dirinya saja.
"Koh?" tanya Mila pelan pada Elang.
"Kamu nggak keberatan kan Mil," ucap Tino. "Suami kamu sendiri kok yang nyuruh dia manggil kokoh."
Mila tersenyum kecil karena itu, memang sejak putranya lahir ia memanggil Al dengan sebutan paman Al.
Elang begitu senang akan hal itu, tapi tidak disangka akan menyuruh wanita lain memanggil Al seperti itu.
"Dasar pencemburu," ucap Mila dengan senyuman.
"You're my mine," jawab Elang mengecup kening Mila tanpa rasa sungkan.
"Temen lo kumat tuh mbing," seru Royan kesal. Berdiri merapikan jas nya, membuat semua menatap heran padanya.
"Gue mau pidato dulu, agak seriusan dikit ya." Royan berdehem sejenak. "Terimakasih buat kalian sohib-sohib gue yang sudah menemani penantian dan perjalanan gue selama lima tahun ini."
Royan meraih tangan Zeze mengajaknya berdiri. "gue harap ini adalah akhir cerita yang indah buat kita semua. Juga Al yang baru saja memulai kisahnya."
"Apaan sih," gerutu Al kesal. Ia tidak memiliki hubungan apapun dengan Bianca, kenal juga baru beberapa hari lalu.
"Terimakasih buat best couple kita. Elang dan Emila yang membuat para readers suka sama kita semua."
"Dan buat readers sudah setia sama cerita ini, salam sayang dari team novel Elang dan Emila. Kita lanjut ke cerita Koko Al ya....love you"
Mereka semua bersorak gembira saat letusan kembang api meluncur di udara. Akhir cerita yang indah atas nama cinta, persahabatan, dan keluarga. Begitulah kisah ini ditutup.
BAB BONUS TAMAT...